Disway – Dahlan Iskan – How are You Today – Radar Malang Online http://hai.radarmalang.id Nomor Satu di Bumi Arema Wed, 19 Sep 2018 22:22:25 +0000 en-US hourly 1 Laki-Laki Misterius Bernama Misteri – DI’S WAYhttp://hai.radarmalang.id/laki-laki-misterius-bernama-misteri-dis-way/ http://hai.radarmalang.id/laki-laki-misterius-bernama-misteri-dis-way/#respond Wed, 19 Sep 2018 22:22:25 +0000 https://hai.radarmalang.id/?p=7273   Oleh: Dahlan Iskan Saya dapat kiriman naskah bagus. Dari teman di Singapura. Dulu pemilik perusahaan sekuritas di Jakarta. Penulis naskah itu John R Malott. Mantan duta besar Amerika Serikat di Malaysia. Isinya: soal buku. Yang baru terbit minggu ini di Amerika. Buku itu ditulis dua wartawan Wall Street Journal. Namanya: Tom Wright dan Bradley […]

The post Laki-Laki Misterius Bernama Misteri – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
 

Oleh: Dahlan Iskan

Saya dapat kiriman naskah bagus. Dari teman di Singapura. Dulu pemilik perusahaan sekuritas di Jakarta.
Penulis naskah itu John R Malott. Mantan duta besar Amerika Serikat di Malaysia. Isinya: soal buku. Yang baru terbit minggu ini di Amerika.

Buku itu ditulis dua wartawan Wall Street Journal. Namanya: Tom Wright dan Bradley Hope.

Saya bayangkan sang duta besar. Pasti kenal dua wartawan itu. Bahkan mungkin akrab. Dua wartawan itulah yang sering mengungkap kasus 1MDB. Korupsi mega miliar di BUMN Malaysia itu. Di forum dunia.

”Waktu lihat buku baru ini saya mengira tidak akan dapat info baru,” tulis sang duta besar. ”Ternyata begitu banyak yang baru,” tambahnya.

Malott tentu berhak merasa sudah tahu banyak. Tentang kasus itu. Ia mengaku terus membaca malaysiakini.com. Yang selalu kritis pada pemerintahan Najib Razak. Juga selalu membaca serawakreport.com. Yang selalu mengungkap skandal korupsi di Malaysia.

Maka wajar Malott mengira buku itu hanya berisi kumpulan liputan mereka. Yang sudah sering ia baca.
Ternyata saya salah. Katanya. Begitu banyak yang baru ia tahu. Dari buku itu.

Saya tidak bisa segera membelinya. Saat buku itu terbit. Selasa lalu. Saya masih ibuk mengejar matahari.
Memang. Saya bisa membelinya lewat online. Tapi hampir tiap hari saya pindah alamat.

Saya bisa membelinya di toko buku. Tapi seminggu terakhir saya lebih banyak di kota-kota kecil. Tepatnya di desa-desa. Dalam perjalanan darat pula. Dari St Louis di Missouri ke Memphis di Tennessee. Dari Memphis ke Little Rock di Arkansas. Dari Little Rock ke Marshall di Texas.

Tapi saya pasti membelinya. Minggu ini.

Saat di Marshall saya lihat Wall Street Journal. Edisi hari Minggu kemarin. Di halaman depan (section EXCHANGE) terpampang foto besar. Tiga laki-laki duduk di sofa. Yang kiri kulit putih. Yang kanan kulit hitam. Dua-duanya bintang di Hollywood.

Yang duduk di tengah anak muda. Berwajah Asia. Dalam busana tuksedo: jas hitam dan dasi kupu-kupu.
Di sebelahnya seorang wanita sexy: juga bintang Hollywood. Sedang pegang gelas wine. Atau wiski. Di belakang mereka tampak berdiri wanita muda lebih sexy. Dengan posisi tangan memegang lengan si wajah Asia muda. Terlihat juga berdiri beberapa bintang Hollywood lainnya.

Sofa itu tidak di dalam ruangan. Sofa itu ditata di alam terbuka. Di padang pasir. Di Nevada. Di Las Vegas.
Terlihat gemerlap Las Vegas di latar belakangnya. Termasuk ferrie weel yang terkenal itu. Dan hotel-hotel Casino di dekatnya.

Itulah pesta ulang tahun ke 31.
Yang berwajah Asia itu.
Anak muda bertuksedo itu.
Di sepotong padang pasir.
Yang sengaja disediakan di dekat Palazzo.
Hotel casino yang top itu.
Yang harga kamarnya USD 25.000/malam. Yang berarti Rp 375 juta/malam. *)
Di situlah si wajah Asia bertuksedo bermalam.
Di kamar yang disebut The Chairman Suite.
Lebih mewah dari kamar President Suite.
Lepas tengah malam, pestanya pindah ke hotel itu.

Si wajah Asia bertuksedo lantas menghabiskan malamnya di meja casino. Di ruang khusus. Terbatas untuk pemain berkelas tuksedo.

Judul besar di bawah foto itu yang lebih memikat saya: LAKI-LAKI MISTERIUS MILIARAN DOLAR.

Disebut misterius karena memang penuh misteri: siapa dia. Namanya tidak pernah beredar di dunia orang kaya Amerika. Juga tidak dikenal di Hollywood. Tapi tiba-tiba saja muncul orang yang royalnya bukan main.

Misalnya: Membelikan ferrari putih untuk bintang Kim Kadarsian. Ingin dibikinkan film dengan bintang Leonardo DiCaprio. Yang di malam ulang tahun itu juga tampak hadir.  Pun dalam pesta-pesta Hollywood mulai jadi bisik-bisik: siapa dia ya.

Siapa dia ya…
Siapa dia ya…

Nyebut namanya pun sering salah: Jey Law. Padahal, namanya adalah: Jho Low.
Itulah aktor utama di balik Najib Razak. Di balik mega skandal 1MDB.

Yang kini dalam status buron.
Mungkin di Hongkong.
Mungkin di Macau.
Mungkin di Tiongkok.

Masyarakat Malaysia mulai geram. Pemerintahan baru mulai dianggap lambat. Menanganinya.

Buku baru ini bisa membantu. Judulnya bisa bikin masyarakat Malaysia kian geram: Billion Dollar Whale, Si Laki-laki yang memperdaya Wall Street, Hollywood dan Alam Semesta.(dahlan iskan)

The post Laki-Laki Misterius Bernama Misteri – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
http://hai.radarmalang.id/laki-laki-misterius-bernama-misteri-dis-way/feed/ 0
Houston – DI’S WAYhttp://hai.radarmalang.id/houston-dis-way/ http://hai.radarmalang.id/houston-dis-way/#respond Tue, 18 Sep 2018 22:40:17 +0000 https://hai.radarmalang.id/?p=7267   Oleh: Dahlan Iskan Namanya masjid Istiqlal. Lokasinya di kota Houston, Texas, Amerika. Saya salat maghrib di situ. Minggu malam kemarin. Satu jam dari Pasadena: kawasan petro chemical yang begitu masifnya. Di pantai teluk Meksiko. Hampir saja ketinggalan salat berjamaah. Tinggal rakaat terakhir. Sore itu sulit memacu mobil. Silaunya luar biasa. Mata sampai sakit. Matahari […]

The post Houston – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
 

Oleh: Dahlan Iskan

Namanya masjid Istiqlal. Lokasinya di kota Houston, Texas, Amerika.

Saya salat maghrib di situ. Minggu malam kemarin. Satu jam dari Pasadena: kawasan petro chemical yang begitu masifnya. Di pantai teluk Meksiko.

Hampir saja ketinggalan salat berjamaah. Tinggal rakaat terakhir. Sore itu sulit memacu mobil. Silaunya luar biasa. Mata sampai sakit. Matahari seperti melotot tepat di depan kemudi.

Masjid itu di arah barat Houston. Kacamata hitam pun tidak membantu. Kacamata murahan. Khusus untuk di jalan: 12 dolar. Belinya pun hanya di Walmart.

Saya terpana: lokasi masjid ini luas sekali. Bangunannya terasa kecil. Bangunan lama.

Masih dalam rencana. Membangun yang baru.
Besar sekali. Dua lantai.
Ternyata tanahnya 2,3 ha.

”Semula kami beli tanah di lokasi lain,” ujar pak Muharror Zuhri. Yang jadi imam salat maghrib itu.

Ngobrol dengan jamaah masjid Istiqlal di Houston, Amerika

Setelah tanah dibeli ada info masuk. Di sebelah tanah itu ada tanah kosong. Yang juga akan dibangun masjid. Namanya masjid Darul Ulum. Pemrakarsanya masyarakat keturunan Pakistan.

Maka dicari lokasi lain. Kebetulan Darul Ulum mau membeli tanah itu. Dua kali lebih luas dari tanah Darul Ulum sendiri.

Saat cari-cari lokasi baru itulah terlihat ada gereja sepi. Seperti sudah ditinggalkan jemaatnya. Tidak ada lagi nama gerejanya. Hanya terpampang pemberitahuan: tanah ini  dijual.

”Kami minta ijin masuk. Kami tanya apakah betul lokasi ini dijual,” kisah Muharror.

Ternyata betul. Hanya ada satu orang yang menunggu lokasi itu: cucu Pastor yang dulu menggembala di gereja itu.

Transaksi jual beli pun terjadi. Tiga tahun lalu.

Belum cukup uang untuk segera membangun masjid yang baru. Bangunan gereja itu saja yang dimanfaatkan. Hanya menambah tempat imam. Dan menghilangkan altar. Lalu melapisi lantainya dengan karpet. Tebal dan empuk.

”Kami beri nama Istiqlal agar ada asosiasi dengan Indonesia,” ujar Zulfan Harahap. Yang saat transaksi  terjadi menjabat presiden IAMC Houston. IAMC adalah Indonesian American Muslim Community.

”Istiqlal artinya kan freedom. Cocok dengan pemikiran kami,” tambahnya.

Zulfan lulusan geofisika ITB. Yang bekerja di perusahaan terkait minyak. Asal Padang Sidempuan. Wilayah Sumut dekat perbatasan Sumbar.

Rumah Zulfan jauh dari masjid. Saya baru bertemu setelah isya. Saat makan malam. Di restoran Mama Yu. Lima mil dari masjid itu.

Pak Muharror juga menyusul ke Mama Yu. Yang tadi jadi imam itu. Bersama pengurus masjid lain. Gayeng. Bisa ngobrol lama. Sambil makan tongseng kambing, soto ayam, nasi goreng teri, tahu isi dan ikan bumbu kuning.

Tongsengnya gaya Semarangan. Yang masak bu Ayu, istri Pak Hendro Pramono.

Dulu Ayu sering main sinetron. Dikenal dengan nama Ayu Lestari.

Dari Ayu itulah nama Mama Yu diambil. Dihilangkan A-nya.
Sekilas Mama Yu seperti nama resto chinese food. Disengaja. Untuk memperluas pasar. Terbukti.

Makan malam dengan orang-orang Indonesia di restoran Mama Yu

Larut malam itu masih ada dua orang Tionghoa. Lagi makan di situ. Saya sapa mereka dengan bahasa Mandarin.

”Lho saya dari Indonesia pak Dahlan. Gak bisa bahasa Mandarin. Saya dari Jakarta,” ujar wanita muda itu.

”Itu yang bisa Mandarin,” tambahnya sambil menunjuk teman laki-laki di depannya.

Saya ngobrol dengan ia. Ternyata dari Tiongkok. Dari propinsi Guangdong.

Sudah lima tahun pak Hendro membuka Mama Yu. Satu-satunya yang 100 persen masakan nusantara. Resto Indonesia lainnya disatukan dengan chinese food.

Hendro juga dari ITB. Planologi. Mengaku tidak sampai lulus. Aktivis masjid Salman. Seangkatan dengan Bang Imad.

Imam masjid asal Blitar dan juragan resto asal Salatiga ini ternyata besanan.

Muharror sendiri Blitarnya dari Ngadirejo. Sejak kecil sudah ingin jadi imam. Seperti ayahnya. Masa kecilnya tinggal di masjid. Di depan rumahnya.

Tamat SMP 3 Blitar Muharror ikut kakaknya. Ke Surabaya. Masuk SMAN di jalan Darmahusada. Lalu menggelandang ke Jakarta. Melamar bekerja di Hotel City.  Yang lagi dibangun di Glodok. Diterima.

Muharror disekolahkan dulu. Sekolah masak.

Dari Hotel City Muharror pindah ke restoran Oasis. Yang terkenal itu. Milik Tirto Utomo itu. Pendiri Aqua itu.

Tirto lantas buka restoran di New York. Muharrorlah yang dikirim ke Amerika. Restoran Indonesia pertama di New York. Restaurant Nusantara.

Kelak Muharror punya restoran sendiri di New York: Borobudur.
Saat berumur 56 tahun ia jual Borobudur. Tidak kuat lagi tinggal di New York. Terlalu dingin. Kena encok. Dokter menyarankan pindah ke daerah hangat.

Ia pilih Houston ini. Ketemu masyarakat Islam Indonesia di sini. Jadilah ia imam masjid. Di Amerika ini. Seperti yang ia impikan sejak kecil. Sejak tinggal di masjid di Ngadirejo dulu. (Dahlan Iskan)

The post Houston – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
http://hai.radarmalang.id/houston-dis-way/feed/ 0
Hukuman Baru yang Dicepatkan – DI’S WAYhttp://hai.radarmalang.id/hukuman-baru-yang-dicepatkan-dis-way/ http://hai.radarmalang.id/hukuman-baru-yang-dicepatkan-dis-way/#respond Tue, 18 Sep 2018 00:59:34 +0000 http://hai.radarmalang.id/?p=7263   Oleh: Dahlan Iskan Trump meneruskan hukuman untuk Tiongkok. Bahkan meningkatkannya. Dan mempercepatnya pula. Senin kemarin hukuman baru itu harus diberlakukan. Lebih cepat dari rencana semula. Lebih besar dari hukuman pertama dan kedua. Tiga kali lipatnya: USD 200 miliar dolar. Itulah nilai yang dikenakan tambahan bea masuk. Untuk barang-barang Tiongkok yang diekspor ke Amerika. Tiongkok […]

The post Hukuman Baru yang Dicepatkan – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
 

Oleh: Dahlan Iskan

Trump meneruskan hukuman untuk Tiongkok. Bahkan meningkatkannya. Dan mempercepatnya pula.

Senin kemarin hukuman baru itu harus diberlakukan. Lebih cepat dari rencana semula. Lebih besar dari hukuman pertama dan kedua. Tiga kali lipatnya: USD 200 miliar dolar.

Itulah nilai yang dikenakan tambahan bea masuk. Untuk barang-barang Tiongkok yang diekspor ke Amerika.

Tiongkok terus membalas. Pun kali ini. Bahkan membatalkan kedatangan delegasinya ke Washington. Akhir bulan ini. Yang awalnya diundang oleh Amerika. Untuk kembali ke meja perundingan.

Undangan itulah yang di dalam negeri AS jadi isu: posisi Trump melemah?

Langsung saja Trump meledak atas isu itu. Jarinya yang mungil spontan upload ke twitter: Kita tidak dalam keadaan tertekan. Tiongkok yang tertekan. Ekonomi kita terus menguat. Ekonomi Tiongkok yang menuju kolaps.

Tapi Tiongkok terus melakukan tit-for-tat. Membalas setiap tindakan Amerika. Dengan cara dan nilai setimpal. Pun kali ini. Belum ada tanda-tanda menyerah.

Anehnya, aneh. Neraca perdagangan Tiongkok tetap surplus. Agustus kemarin malah lebih besar. Dibanding Juli. Dari USD 28 miliar menjadi 31 miliar. Naik 10 persen. Padahal perang dagang sudah berlangsung dua bulan. Lagi diteliti apa penyebabnya. Kok belum ada hasilnya.

Namun ekonomi Amerika memang gila. Sangat-sangat bagus. Pertumbuhan ekonominya 4,2 persen. Itu angka luar biasa. Bagi negara maju.

Harga saham di Wall Street pun terus membumbung. Tingkat penganggurannya juga sangat rendah: 4 persen. Saking bangganya, Trump sampai kebablasan. Ia upload twitter: Belum pernah terjadi sepanjang sejarah Amerika. Tingkat pengangguran di bawah angka pertumbuhan ekonomi. Ini terbaik sejak 100 tahun terakhir.

Angka itu lantas dikoreksi. Hari itu juga. Maksudnya: dalam 10 tahun terakhir. Koreksi resmi. Datang dari staf Gedung Putih.

Presiden Obama berteori: pertumbuhan bagus itu terjadi karena fondasi yang dibuatnya. Obamalah yang mengentas ekonomi AS dari krisis. Sekarang tinggal lari.

Ekonom berteori: dalam sejarah 10 kali krisis, selalu terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi setelahnya.

Di Tiongkok sebaliknya: pertumbuhan ekonominya turun. Tinggal 6,2 persen. Angka yang masih sangat tinggi. Tapi terasa bahaya. Biasa tumbuh lebih dari 9 persen.

Daerah yang paling terkena adalah provinsi Guangdong. Yang beribukota di Guangzhou. Shenzhen masuk di provinsi ini. Yang dekat Hongkong itu. Di situlah yang terbanyak pabrik berorientasi ekspor: Ke Amerika.

Tiongkok terus cari akal. Tidak menyerah. Mata uangnya dilemahkan. Untuk mendorong ekspor.

Minggu lalu muncul putusan baru di provinsi itu. Investor diberi tanah gratis. Diberi fasilitas perpajakan. Sahamnya boleh 100 persen asing. Bagi yang berorientasi ekspor.

Hari-hari ini jadi hari yang sangat menegangkan. Tiongkok menunggu barang apa saja yang masuk USD 200 miliar dolar itu. Amerika menunggu tit-for-tatnya. Kita kebagian berdebarnya.(dahlan iskan)

The post Hukuman Baru yang Dicepatkan – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
http://hai.radarmalang.id/hukuman-baru-yang-dicepatkan-dis-way/feed/ 0
Bank Century Lagi Hidup Mati – DI’S WAYhttp://hai.radarmalang.id/bank-century-lagi-hidup-mati-dis-way/ http://hai.radarmalang.id/bank-century-lagi-hidup-mati-dis-way/#respond Sun, 16 Sep 2018 22:41:48 +0000 https://hai.radarmalang.id/?p=7259   oleh Dahlan Iskan Kasus Bank Century hidup lagi. Mati lagi. Di luar negeri. Lebih tepatnya akan hidup-mati terus. Yang menghidupkan dan mematikannya itu media dari Hongkong: Asia Sentinel. Media online. Tapi dikenal sangat serius. Reputasinya tinggi. Independen. Profesional. Tapi kali ini agak aneh. Tanggal 12 September lalu media itu membuat heboh. Di Indonesia. Partai […]

The post Bank Century Lagi Hidup Mati – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
 

oleh Dahlan Iskan

Kasus Bank Century hidup lagi. Mati lagi. Di luar negeri. Lebih tepatnya akan hidup-mati terus.

Yang menghidupkan dan mematikannya itu media dari Hongkong: Asia Sentinel. Media online. Tapi dikenal sangat serius. Reputasinya tinggi. Independen. Profesional.

Tapi kali ini agak aneh.

Tanggal 12 September lalu media itu membuat heboh. Di Indonesia. Partai Demokrat merasa dirugikan. Akan mensomasinya. Sebelum somasi dilayangkan berita tanggal 12 September itu tidak ada lagi.

Berarti hanya tiga hari berita itu mejeng di Asia Sentinel. Tanpa pemberitahuan: mengapa berita itu dicabut. Juga tidak ada permintaan maaf.

Orang media bisa bingung. Apa yang terjadi. Kalau pencabutan itu karena Asia Sentinel merasa bersalah harusnya minta maaf. Kalau tidak minta maaf mestinya tidak merasa bersalah. Itulah uniknya media online. Yang tidak akan terjadi pada media cetak.

Di media cetak sebuah berita abadi adanya. Termasuk berita salah. Tidak bisa dicabut. Tidak mungkin. Sudah terlanjur dicetak. Terlanjur beredar. Kalau berita koran itu salah harus diralat. Kalau merugikan orang lain harus meralat plus minta maaf.

Di online ada enaknya. Pernah tulisan saya salah menyebut tahun. Begitu pembaca meluruskannya langsung bisa diubah.

Di koran tidak bisa. Yang sudah terlanjur beredar abadi adanya.

Tapi berita online itu kan juga sudah beredar. Sudah disimpan orang. Dalam file. Bahkan sudah diprint juga.
Ahli kode etik tentu tertarik mendiskusikannya. Pun para ahli hukum pers.

Asia Sentinel mestinya tidak main-main. Pimrednya wartawan senior: John Berthelsen. Lahir di California. 30 tahun jadi wartawan. Di Asia.  Pernah tinggal di berbagai negara Asean. Kini umurnya sekitar 82 tahun.

Berthelsen asli seorang  wartawan. Kuliahnya di California State University di  Chico. Sastra Inggris. Kira-kira 130 km di utara  San Fransisco.

Koran pertama tempatnya bekerja adalah Sacramento Bee: bacaan saya setiap ke Sacramento. Ibukota California. Waktu itu. Kalau lagi nengok anak saya yang kuliah di sana. Dua jam bermobil dari San Fransisco.

Tahun 2015 Berthelsen pernah disomasi wanita Malaysia: Rosmah Mansor. Agar minta maaf. Dalam 28 jam.

Itu gara-gara Asia Sentinel menulis begini: Rosmah berusaha mengganti gubernur Bank Sentral Malaysia. Dengan pejabat baru dari kroni suaminya: Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak. Berthelsel bergeming. Tidak mau minta maaf. Tentu saja.

Yang akan disomasi Partai Demokrat itu memang memojokkan. Judulnya sexy: Indonesia’s SBY Government: ‘Vast Criminal Conspiracy’. Penulisnya: John Berthelsen sendiri.

Judul itu tidak menuduh SBY pribadi. Melainkan pemerintahan SBY.  ‘Vast Criminal Conspiracy’-nya juga pakai tanda kutip.

Berthelsen wartawan kelas berat. Setelah di Sacramento Bee ia bekerja untuk koran terkemuka di dunia: Asian Wall Street Journal. Sebagai edisi Asia. Dari Wall Street Journal New York.

Berthelsen sangat idealis. Ia pernah jadi wartawan perang. Meliput perang Vietnam. Selama delapan tahun.
Ia mendirikan Asia Sentinel juga karena idealisme: koran-koran Barat kurang mau lagi mengcover Asia.

Koran Barat semakin menjadi  koran lokal. Itulah tuntutan masyarakat baru di sana. Juga di mana saja. Termasuk di Indonesia. Koran nasional hilang. Koran lokal terbilang.

Karena itu Wall Street Journal menutup edisi Asianya.
New York Times menutup Intermational Herald Tribunenya.
Majalah Asiaweek tutup juga. Kantor biro mereka di Asia dikecilkan. Atau dibubarkan.

Berthelsen bersama mantan wartawan-wartawan eks koran terkemuka itu mendirikan Asia Sentinel. Secara online.

Tentu harusnya tidak ada yang  berang. Membaca berita Bank Century itu. Di Asia Sentinel itu. Berita itu bersumber dari dokumen gugatan perdata.

Namanya gugatan. Bisa saja menguraikan apa saja. Dari versi penggugatnya.
Mungkin benar. Mungkin salah.
Pengadilanlah yang akan menentukannya.

Tapi sebelum menurunkan tulisan tersebut harusnya Asia Sentinel melakukan cross check. Ke yang terpojokkan di tulisan itu.

Asia Sentinel tentu sudah sadar: berita itu bersumber fakta tapi sepihak. Dari dokumen gugatan saja. Yang menggugat adalah satu perusahaan investasi. Di  republik Mauritius. Negeri surganya pajak. Siapa saja boleh bikin perusahaan di sana. Tanpa harus beroperasi di sana.

Nama penggugat itu: Weston International Capital Limited. Yang digugat banyak pihak. Terutama lembaga keuangan dari Jepang: JTrust. Yang punya anak perusahaan di Indonesia: Bank JTrus Indonesia.

Dalam dokumen gugatan itulah nama Indonesia terseret. Misalnya ada nama 30  pejabat. Yang dinilai melakukan konspirasi lewat Bank Century. Yang pejabat-pejabat itu umumnya dinilai sebagai tukang stempel saja. Ikut saja skenario konspirasi entah dari siapa.

Mengapa JTrust digugat?
JTrust adalah pemenang lelang.

Saat saham bank Mutiara dijual. Di tahun 2013. Bank Mutiara itu dulunya bernama Bank Century Tbk. Pemegang saham utamanya Robert Tantular.

Bank Century nyaris kolaps. Saat terjadi krisis global. Di tahun 2008.

Para nasabahnya tentu terancam kehilangan uang. Makanya Bank Century diselamatkan. Dengan dana dari LPS. Sebesar sekian triliun rupiah itu.

Bank Century selamat. Menjadi milik LPS. Atau pemerintah. Lima tahun kemudian namanya diganti: menjadi Bank Mutiara.

Gugatan itu menyebut, seperti ditulis John Berthelsen, salah satu nasabah Bank Century dulu adalah Partai Demokrat. Uang yang disimpan di situ, katanya, uang gelap. Tentu itu harus dibuktikan. Partai Demokrat sudah membantahnya.

Ditunggu saja apa kata pengadilan. Kalau pengadilan Mauritius mau menerima gugatan itu. Bisa juga tidak mau. Peristiwa ini terjadinya kan di Jakarta. Pengadilan di sana bisa menolak menyidangkannya.

Atau penggugat itu digugat saja. Biar buka-bukaan. Apa katanya nanti. Begitulah.

Perusahaan Mauritius itu berprinsip: Weston International Capitallah yang mestinya menang lelang.
Bukan JTrust.

Bahkan Weston menuduh JTrust kongkalingkong dengan berbagai bank internasional. Seperti Standard Chartered Inggris, UOB Singapura dan Nomura Jepang.

Penggugat juga menuduh JTrust ini: saat lelang dulu JTrust tidak menyebut sumber dananya dari mana.

Waktu itu JTrust menawar Bank Mutiara sebesar USD 898 juta dolar. Tanpa, kata penggugat, menyebut sumber dananya dari mana.

Padahal ini: dalam dokumen tender menyebutkan penawar wajib membuka diri: dari mana sumber dananya.

Bahkan Weston menuduh JTrust tidak pernah benar-benar membayar dengan angka itu. Yang dibayar hanya 24 juta dolar. Atau hanya 6,8 persennya. Itu pun sudah lewat waktu. Sudah telat 33 hari. Sisanya, katanya, dibayar dari syariah promesory note Bank Indonesia. Itu pun kemudian diganti dengan asuransi.

Itulah versi Weston. Semua itu baru versi Weston. Belum kita dengar versi JTrust.

Weston minta JTrust membayar ganti rugi. Tidak tanggung-tanggung: USD 1 miliar.

Asia Sentinel sendiri terus memberitakan ini. Sejak lima tahun lalu. Baru sekarang terjadi mencabut beritanya.

Weston memang sudah menggugat JTrust sejak itu. Dan tampaknya akan terus berjuang. Termasuk berjuang di luar pengadilan. Melaporkannya ke komisi anti korupsi perserikatan bangsa-bangsa.

Ini seperti permainan biliar. Sana yang dipukul. Sini yang kena. Kalau bolanya tidak meleset. (dahlan iskan)

The post Bank Century Lagi Hidup Mati – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
http://hai.radarmalang.id/bank-century-lagi-hidup-mati-dis-way/feed/ 0
Cari Resep yang Mahal – DI’S WAYhttp://hai.radarmalang.id/cari-resep-yang-mahal-dis-way/ http://hai.radarmalang.id/cari-resep-yang-mahal-dis-way/#respond Sun, 16 Sep 2018 06:16:26 +0000 http://hai.radarmalang.id/?p=7254   Oleh: Dahlan Iskan Obat saya hilang. Di Amerika. Sebagian. Entah tercecer di mana. Padahal obat itu penyangga nyawa saya. Memang, apa pun gampang hilang bersama saya: buku, jaket, topi, sepatu, bahkan jabatan. Itu ada baiknya: bisa selalu belajar mengikhlaskan apa saja. Tidak mudah sakit hati. Tapi, dalam hal obat ini saya harus cari gantinya. […]

The post Cari Resep yang Mahal – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
 

Oleh: Dahlan Iskan

Obat saya hilang. Di Amerika. Sebagian. Entah tercecer di mana. Padahal obat itu penyangga nyawa saya.
Memang, apa pun gampang hilang bersama saya: buku, jaket, topi, sepatu, bahkan jabatan.

Itu ada baiknya: bisa selalu belajar mengikhlaskan apa saja. Tidak mudah sakit hati. Tapi, dalam hal obat ini saya harus cari gantinya.

Saya coba ke Walmart: apa pun bisa dibeli di situ. Mulai meja, terigu, daging, benang sulam, tenda biru, sledri, chicken wing sampai komputer. (Saya coba beli daging bison. Ternyata gak ada. Saya coba beli benih alfalfa. Juga tidak ada).

Di counter apoteknya saya sodorkan sisa-sisa obat saya. Tiga macam. Biar dilihat. Apakah ada.

Ada: tapi saya tidak boleh beli. Harus dengan resep dokter. Saya rayu sampai dengan gombal sekali pun: tidak bisa.

Di manakah saya bisa cari dokter, eh resep dokter? Kota kecil di pedalaman Amerika ini benar-benar asing. Di New York lebih mudah. Ada dokter Amerika kelahiran Indonesia. Atau di Washington DC. Atau di Los Angeles. Gratis pula.

Paling minta foto bersama. Atau, yang di Los Angeles itu, saya harus mau tidur di rumahnya: yang seperti istana.

Tapi ini kota –kota ini– di tengah padang praire. Ke mana cari resep?

Petugas apotek itu akhirnya baik hati. Saya, katanya, bisa ke walk-in clinic. Di sebelah starbucks. Sekitar 1 mil jauhnya. Bisa minta resep di sana.

Ketemu. Klinik itu buka. Tapi  ternyata tidak bisa memberi resep. Jenis obat saya ini resepnya harus khusus. Harus dari dokter tertentu. Saya diberi alamat: First Clinic. Di tengah kota.

Nyetir mobil di tengah kota harus waspada. Biar pun jarang ada mobil lewat. Di  perempatan sering ada tanda ‘STOP’. Warna merah. Kita harus memberhentikan mobil. Sampai benar-benar berhenti. Baru boleh jalan lagi. Padahal tidak ada mobil sama sekali.

Kota ini sepi… Sepuluh menit lagi pun belum tentu ada mobil lewat. Tapi harus patuh. Harus berhenti di tanda itu.

Sering juga ada tanda perubahan kecepatan. Kita harus waspada. Asyik-asyik nyetir dengan kecepatan 60 km/jam tiba-tiba harus jadi 30 km/jam: ada sekolah di pinggir jalan itu.

Akhirnya saya temukan klinik tersebut. Di sebelah dua gereja yang berseberangan –letaknya maupun alirannya.
Saya utarakan (catatan: siapa ya yang tahu sejarah lahirnya kata ‘utarakan’ ini? Kenapa tidak selatankan?) maksud saya: minta resep.

Saya disuruh isi formulir dulu. Tiga lembar. Data pribadi.

Banyak yang tidak bisa saya isi: pertanyaan-pertanyaan di sekitar asuransi. Saya tidak punya asuransi di Amerika ini. Padahal maksud saya sederhana saja: beri saya resep, lalu berapa biayanya, saya bayar sendiri.

Tapi tidak bisa begitu. Harus ikut prosedur.

Ya…sudah. Ikut prosedur. Saya serahkan kembali formulir itu. Yang banyak tidak terisi jawaban itu. Ternyata tidak dipermasalahkan. Bahkan tidak dilihat.

Lantas saya diminta foto. Foto? Apa hubungannya dengan resep? Saya kan bukan ingin bikin SIM? Yaaa… sudahlah. ikut prosedur.

Di mana fotonya? Di situ juga. Ternyata ada kamera di atas komputer itu. Saya buka topi. ”Terima kasih mau membuka topi,” katanya.

Selesai. Saya pikir segera dibuatkan resep. Ternyata belum. Saya masih ditanya: apakah mau dibikinkan janji ketemu dokternya? Oh… ma…ma…mauu!

Lho… kan harus mau. Saya kan sudah ditarik bayaran: 108 dolar. Sekitar Rp 1,4 juta. Saya pun diberi secuil kertas.

Saya lihat jam di memo kecil darinya itu: masih dua jam lagi. Saya bisa muter-muter 10 kali di kota ini. Saking kecilnya.

Waktu dua jam itu saya manfaatkan untuk ke desa sebelah. Ada museum kecil di situ: rumah masa kecilnya Crysler. Tokoh permobilan Amerika. Yang namanya dipakai merk mobilnya.

Saya pun balik ke klinik tepat waktu. Diminta isi formulir lagi. Dua halaman.

Banyak sekali pertanyaan yang harus saya isi: pernah punya ashma? Ada batuk-batuk? Sulit kencing? Suka ngorok? Dan seterusnya.

Mudah mengisinya: tinggal mencontreng semua kolom ‘No’. Banyak sekali jumlahnya.

Halaman duanya tidak saya baca lagi. Langsung saja saya contreng semua ‘No’ nya.
Isian formulir ini juga tidak dia baca.

Saya diminta membawanya ke lantai atas: ke ruang tunggu dokter.

Ada 20-an kursi di situ. Tiga terisi. Ruang tunggu yang nyaman. Ada TV. Ada layar video on demand. Ada lukisan-lukisan praire. Ada seni instalasi. Ada jam dinding raksasa. Ada mainan anak-anak.

Seorang suster memanggil: ”Dalan… ”
Saya sudah hafal. Orang barat sulit memanggil Dahlan dengan benar. Orang Tiongkok apalagi. Ayah saya sendiri pun sulit. Memanggil anaknya itu: Dakelan.

Dipanggil Dalan begitu saya berdiri. Menyerahkan isian formulir. Lalu mengiringinya ke satu koridor: disuruh timbang badan. Diukur tinggi badan.

Berat badan saya entah berapa. Hitungannya dalam pound. Tinggi badan saya juga entah berapa. Hitungannya dalam inci.

Tapi saya percaya.  Biar pun dihitung dengan inci badan saya tidak akan lebih tinggi. Angkanya saja yang lebih banyak.

Lalu masuklah ke ruang pemeriksaan. Ada tempat tidur pasien beralas kertas. Saya hanya diminta duduk di situ. Diukur tekanan darah.

Dimasukkan satu paku ke mulut saya: pengukur suhu badan. Ditanya apakah alergi terhadap obat.

Petugas itu keluar. Menutup pintu di depan saya. Masuklah dokter: wanita. Matanya biru. Rambutnya blonde. Celananya jean. Muda. Tapi tidak setinggi umumnya orang bule.

”Saya minta dibikinkan resep,” kata saya. Untuk tiga jenis obat itu. Untuk keperluan satu bulan. Dia pun membuatkannya: selesai.

Bentuk resepnya print-out. Yang lebarnya satu folio. Satu jenis obat satu print-out. (Lihat foto).

Jadi, ada tiga lembar resep: boros banget. Hematan dokter Indonesia. Tujuh obat sekali pun ditulis dalam satu resep –kertas kecil yang tulisannya sulit dibaca itu.

Saya bawa resep itu ke Walmart. Saya jejer-jejer dulu di atas kursi. Saya foto. Kapok dia. Biar tiga lembar memfotonya jadi satu. Hemat.

Ternyata hanya ada dua jenis obat yang tersedia di apotik Walmart. Dua-duanya yang terkait dengan aorta dissection saya itu. Yang satu lagi, yang kaitannya dengan transplant hati: kosong. Tidak ada stok.

Saya pun membayar untuk yang ada itu. Beres. Siap pulang.

Lalu saya dipanggil lagi. Ditanya: apakah untuk yang satu lagi itu saya mau menunggu satu hari. Akan didatangkan dari kota besar.  Harganya (30 tablet): 680 dolar. Atau sekitar Rp 8 juta.

Itulah harga obat jenis entecavir. Yang juga harus saya minum seumur hidup. Untuk merawat hati saya.

Itu bukan obat yang untuk mensinkronkan hati dan badan itu. Itu lain lagi namanya. Lain pula harganya. Saya masih punya cadangannya.

Begitu mahal obat untuk lever itu. Itulah sebabnya enam tahun lalu saya minta ini: Kimia Farma harus bisa memproduksi entecavir yang harganya terjangkau.

Mumpung saya punya jabatan saat itu.

Terlalu banyak penderita liver di Indonesia. Tidak mungkin mampu membeli obat Rp 8 juta sebulan.

Alhamdulillah. Kimia Farma berhasil. Nama obatnya: Heplav. Harganya: Rp 200 ribu/30 butir.

Lesson learned: kalau ke Amerika bawalah obat yang cukup. Resepnya saja Rp 1,4 juta. Belum mondar-mandirnya. Seandainya sewa mobil: dua juta sendiri lagi.

Jangan bodoh seperti saya. Yang mudah kehilangan apa saja. (dis)

The post Cari Resep yang Mahal – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
http://hai.radarmalang.id/cari-resep-yang-mahal-dis-way/feed/ 0
Nio di Langit Biru yang Nio – DI’S WAYhttp://hai.radarmalang.id/nio-di-langit-biru-yang-nio-dis-way/ http://hai.radarmalang.id/nio-di-langit-biru-yang-nio-dis-way/#respond Fri, 14 Sep 2018 23:28:51 +0000 http://hai.radarmalang.id/?p=7249   Oleh: Dahlan Iskan Namanya: Nio. Tugasnya: mengalahkan Tesla. Itulah ambisi Li Bin. Atau William Li. Atau Elon Musknya Tiongkok. Anak muda berumur 43 tahun. Dari Shanghai. Selasa lalu Li Bin muncul di New York. Di Wall Street. Cari uang. Lewat pasar modal New York Stock Exchange. Hari itu Li Bin dapat uang USD 1 […]

The post Nio di Langit Biru yang Nio – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
 

Oleh: Dahlan Iskan

Namanya: Nio.
Tugasnya: mengalahkan Tesla.

Itulah ambisi Li Bin. Atau William Li. Atau Elon Musknya Tiongkok. Anak muda berumur 43 tahun. Dari Shanghai. Selasa lalu Li Bin muncul di New York. Di Wall Street. Cari uang. Lewat pasar modal New York Stock Exchange.

Hari itu Li Bin dapat uang USD 1 miliar dolar. Atau sekitar Rp 15 triliun.

Ia berjanji: tiga atau empat tahun lagi perusahaan sudah bisa untung.

Perusahaan Li Bin bernama Weilai. Langit Biru Tiba. Nama internasionalnya: Nio. Nasibnya masih sama dengan Tesla: rugi triliunan rupiah.

Tahun lalu Weilai masih rugi USD 758 juta. Hampir Rp 10 triliun. Begitu tenangnya.

Begitulah perusahaan mobil listrik. Tahapnya baru bisa menjual masa depan. Tapi kalau masa depan itu tiba itulah kejayaannya.

Seperti juga Tesla. Weilai bukan perusahaan mobil. Usahanya adalah bidang komputer. Memang mobil listrik itu pada dasarnya bukan mobil. Ia komputer yang diberi roda. Unsur komputernya begitu dominan.

Bahwa Weilai atau Nio bisa dapat uang Rp 15 triliun, itu karena kepercayaan pada masa depan itu. Juga percaya pada nama-nama besar di belakang Weilai: Tencent (pesaing Alibaba), Baidu (Googlenya Tiongkok), Temasek Singapura dan Lenovo.

Saya pernah ke pusat penjualan Nio di Shanghai. Di depan Starbucks terbesar di dunia itu. Saya lihat mobil-mobil listriknya. Type SUV yang besar. Unggulannya. Tapi belum dijual saat itu.

Baru tiga bulan terakhir penjualan dimulai. Langsung laku hampir 500 mobil.

Terbukti mobilnya laku. Weilai pun cari tambahan modal ke New York. Bukan dengan cara jual saham. Tapi jual ADR: American Depositary Receipts.

ADR adalah deposito di satu bank yang dimandatkan untuk membeli saham perusahaan di luar Amerika.
Perusahaan Tiongkok pernah ada yang berhasil go public dengan cara ini: perusahaan kursus bahasa Inggris secara online.

Tiongkok memang akan jadi medan pertempuran mobil listrik. Dari seluruh mobil listrik di dunia saat ini 60 persen ada di Tiongkok.

Begitu banyak pabrik mobil listrik di sana. Lima bulan lalu saya ke Shandong. Ke pabrik mobil listrik. Pendatang baru. Untuk mobil murah.

Di Tiongkok aturan mobil listrik memang sangat mendukung. Misal: mobil listrik dibedakan dalam dua kelas. Dengan perlakuan berbeda. Untuk penjualan yang kecepatan maksimalnya 60 km/jam tidak diperlukan surat apa pun. Tidak perlu STNK. Tidak perlu BPKB. Tidak perlu bayar pajak.

Plat nomor mobil listrik pun dibedakan. Plat mobil listrik warna hijau.

Pabrik mobil listrik pun menjamur di sana.

Tesla tidak mau kecolongan. Tesla pun mau masuk Tiongkok. Lewat pabriknya di Shanghai yang segera dibangun. Yang mendapat fasilitas khusus: boleh sepenuhnya dimiliki asing. Amerika. Tidak harus berpartner dengan perusahaan dalam negeri.

NIO-EP9, membuat rekor mobil tanpa sopir tercepat sedunia di Circuit of the Americas (COTA) Austin, Texas. (image source: nio.io)

Sebaliknya Weilai pun siap menghadang Tesla. Dimulai dari Shenzhen. Di kota ini Nio bikin infrastruktur ekslusif: swap baterai.

Di beberapa lokasi disediakan baterai. Yang sudah berisi setrum. Penuh. Mobil Nio yang hampir kehabisan daya bisa ke ‘pom bensin’ itu. Tukar baterai. Dua menit. Jalan lagi.

Itu langkah sementara. Sambil menunggu lahirnya baterai masa depan. Tiga tahun lagi. Yang bisa untuk jarak 2 ribu kilometer. Dengan harga hanya sepertiganya.

Tesla yang belakangan ini terus bergejolak memang harus waspada. Ada Nio yang artinya keren.

Langit biru segera tiba. Keren. Kita boleh jadi penontonnya.(dahlan iskan)

The post Nio di Langit Biru yang Nio – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
http://hai.radarmalang.id/nio-di-langit-biru-yang-nio-dis-way/feed/ 0
Jalan Ikhlas untuk Pejuang Panjang – DI’S WAYhttp://hai.radarmalang.id/jalan-ikhlas-untuk-pejuang-panjang-dis-way/ http://hai.radarmalang.id/jalan-ikhlas-untuk-pejuang-panjang-dis-way/#respond Fri, 14 Sep 2018 02:47:58 +0000 http://hai.radarmalang.id/?p=7245   Oleh: Dahlan Iskan Mahathir segera berakhir. Tidak akan sampai dua tahun. Di kursi perdana menteri itu. Anwar Ibrahim sudah memutuskan: ikut pemilu. Agar bisa segera. Menjadi anggota DPR. Sebagai syarat jadi perdana menteri. Sejak awal skenarionya memang begitu. Lewat pemilu sela. Waktu itu Anwar terlalu terlambat. Dikeluarkan dari penjara. Tidak keburu mendaftar ikut pemilu. […]

The post Jalan Ikhlas untuk Pejuang Panjang – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
 

Oleh: Dahlan Iskan

Mahathir segera berakhir. Tidak akan sampai dua tahun. Di kursi perdana menteri itu.
Anwar Ibrahim sudah memutuskan: ikut pemilu. Agar bisa segera. Menjadi anggota DPR. Sebagai syarat jadi perdana menteri.

Sejak awal skenarionya memang begitu. Lewat pemilu sela.

Waktu itu Anwar terlalu terlambat. Dikeluarkan dari penjara. Tidak keburu mendaftar ikut pemilu. Tanggal 9 Mei lalu.

Maka, waktu itu, Mahathir Muhamad yang disepakati. Menjadi perdana menteri. Setelah Pakatan Harapan mengalahkan UMNO. Dan Perdana Menteri Najib Razak harus berhenti.

Tapi tidak pernah ada kesepakatan: untuk berapa lama Mahathir di singgasana. Ada yang menyebut dua tahun saja. Anwar seperti memberi harapan lebih.

”Jangan ada frame waktu seperti itu. Nanti membuat perdana menteri seperti lame duck,” kata Anwar.
Maksudnya, begitu rakyat tahu Mahathir hanya dua tahun kepemimpinannya tidak akan efektif. Akan muncul sikap setengah hati. Bagi para menteri. Maupun Mahathir sendiri.

Kini lame duck itu justru kian nyata. Dalam hitungan bulan saja.

Akhir tahun ini Anwar Ibrahim bisa terpilih jadi anggota DPR. Awal tahun depan sudah bisa jadi perdana menteri. Kalau Tuhan menghedaki.

Jalan menuju DPR itu ternyata tidak seperti rencana semula. Awalnya dikira sang istri yang mundur dari DPR: Wan Azizah. Dari dapil di Penang. Agar Anwar, sang suami, bisa ikut pemilu sela di dapil itu.

Ternyata sang istri jadi wakil perdana menteri. Kalau mundur dari DPR jabatan itu juga harus ditinggalkan.
Lalu dikira putrinya yang mundur dari DPR: Nurul Izzah. Tapi di dapil putrinya itu rawan. Calon dari partai UMNO cukup kuat. Jangan-jangan Anwar nanti tidak berjaya.

Tapi tidak masalah. Terlalu banyak tawaran untuk Anwar. Dari dapil-dapil lain. Begitu banyak yang siap mundur dari DPR. Demi memberi jalan pada Anwar Ibrahim.

Misalnya dapil Sungai Petani, Alor Setar dan Port Dickson. Mereka sangat berharap. Agar Anwar mau maju dari dapil itu. Demi kemajuan negara bagian mereka.

Akhirnya Anwar memilih yang Port Dickson. Kota di tepi pantai barat semenanjung Malaka. Kota pelabuhan yang terkenal. Yang dulu disebut Teluk Kemang. Kursi DPR Port Dickson itu sekarang diduduki Datuk Danyal Balagopal Abdullah.

Baru pertama ini Danyal jadi anggota DPR. Baru 4 bulan pula. Sudah rela meninggalkan kursinya. ”Saya lihat Datuk Danyal serius sekali. Minta-minta saya menggantikannya,” ujar Anwar. ”Saya pun menemuinya. Membicarakannya. Lalu saya putuskan menerima,” tambahnya.

Datuk Danyal keturunan India. Ia pensiunan Angkatan Laut Diraja Malaysia. Ia masuk partai belum lama. Tapi aktif sekali. Untuk mengubah Malaysia. Dari gaya pemerintahan lama.

Ia ikhlas jadi aktivis Partai Keadilan Rakyat. Yang didirikan Anwar Ibrahim. Tidak mengharapkan apa-apa. Tidak tertarik kursi. Pencalonannya di DPR itu karena perintah partai. Itu pun sudah jam-jam terakhir. Hanya 11 jam sebelum pendaftaran ditutup. Terpilih. Dapat 36.000 suara. Lawannya, dari UMNO hanya dapat 16.000 suara. Yang dari PAS lebih kecil lagi.

Datuk Danyal orangnya serius. Badannya dempal. Rambutnya sudah memutih. Potong pendek, tapi tidak sampai sependek potongan militer. Disisir rapi.

Waktu mengumumkan pengunduran dirinya, lebih 5 kali Datuk Danyal menyebut ini: Yang berbahagia Datuk Anwar Ibrahim, Perdana Menteri in waiting.

Ia tidak sabar menunggu. Anwar Ibrahim jadi perdana menteri baru. Ia istilahkan: dari penjara ke istana.
Datuk Danyal menyebut Anwar Ibrahim sebagai Mandelanya Malaysia. Ia terkesan atas dua hal: perhatian Anwar ke orang miskin dan ke golongan minoritas. ”Saya ini dari desa. Tahu miskinnya orang desa,” katanya.

Ia menampik anggapan kurang bertanggung jawab. Terutama pada konstituennya di Port Dickson.
”Justru saya lebih bertanggung jawab. Dengan Anwar Ibrahim jadi anggota DPR dari Port Dickson dan nanti jadi perdana menteri Port Dickson lebih maju,” katanya.

Anwar, katanya pemimpin yang hebat. 30 tahun berjuang tanpa lelah. Saya akan selalu di sebelahnya. Katanya.
Itu pula yang membuat Anwar terharu.

Di politik itu, katanya, sering terjadi: pada mulanya ok tapi kemudian tidak ok. Datuk Danyal ok oce.(dahlan iskan)

Kredit foto: Kumparan.com

The post Jalan Ikhlas untuk Pejuang Panjang – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
http://hai.radarmalang.id/jalan-ikhlas-untuk-pejuang-panjang-dis-way/feed/ 0
Idealisme New York Time Menunggu Tipping Point – DI’S WAYhttp://hai.radarmalang.id/idealisme-new-york-time-menunggu-tipping-point-dis-way/ http://hai.radarmalang.id/idealisme-new-york-time-menunggu-tipping-point-dis-way/#respond Thu, 13 Sep 2018 00:39:49 +0000 http://hai.radarmalang.id/?p=7241   Oleh: Dahlan Iskan The New York Times kebanjiran pertanyaan. Hanya dalam dua hari. Sudah 30.000 pembaca minta klarifikasi. Gara-gara ini: NYT memuat artikel tanpa nama penulisnya. Judulnya sensitif. Juga sexy: “I am Part of the Resistance Inside the Trump Administration.” Edisi Rabu 5 September 2018. Pertanyaan 30 ribu itu pada umumnya: mengapa NYT memuat […]

The post Idealisme New York Time Menunggu Tipping Point – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
 

Oleh: Dahlan Iskan

The New York Times kebanjiran pertanyaan. Hanya dalam dua hari. Sudah 30.000 pembaca minta klarifikasi.

Gara-gara ini: NYT memuat artikel tanpa nama penulisnya. Judulnya sensitif. Juga sexy: “I am Part of the Resistance Inside the Trump Administration.” Edisi Rabu 5 September 2018.

Pertanyaan 30 ribu itu pada umumnya: mengapa NYT memuat artikel tanpa nama. Atau: adakah motif menjatuhkan Trump di balik artikel itu.

Juga: pernahkah NYT berbuat serupa di masa lalu. Lalu: apakah NYT yang minta orang itu menulis.  Atau orang itu sendiri yang mengirim tulisan.

Dan: apakah redaktur NYT mengenal dengan baik si penulis.

Seru sekali.

Redaktur opini koran itu sampai bikin rubrik khusus. Menjawab sebagian dari 30 ribu itu.

Ternyata NYT memang lagi mencari orang dalam. Di Gedung Putih. Yang mau  menulis bagaimana keadaan yang sebenarnya. Tentang situasi di dalam pemerintahan Trump.

Tujuannya: agar publik tahu dari tangan pertama. Tentang ‘kekacauan’ sistem manajemen Trump. Yang selama ini hanya dipublikasikan lewat dugaan-dugaan.

Redaktur opini NYT ternyata tidak kenal langsung si penulis. Tapi kenal baik dengan penghubungnya. Yang dijamin reputasinya. Dan kredibilitasnya.

NYT tidak akan mengorbankan nama besarnya.

NYT pernah berbuat serupa. Melindungi nama penulisnya. Dari resiko yang sudah bisa kita bayangkan.

Trump sudah minta agar NYT menyerahkan orang itu. Dianggap pengkhianat bangsa. Atau: ternyata orang itu tidak benar-benar ada. Hanya karangan redaktur NYT sendiri.

Kredibilitas The New York Times kini sedang diuji. Tingkat tinggi.

Inti artikel tanpa nama penulis itu seru. Diceritakan di awal-awal dulu. Sampai dibicarakan di antara staf: bagaimana merancang amandemen konstitusi. Untuk membatasi lebih ketat wewenang presiden.

Saking takutnya presiden aneh-aneh.

Lalu para staf sepakat: tidak perlu amandemen. Bisa krisis konstitusi. Tapi semua staf harus berbuat maksimal untuk menggagalkan program presiden yang membahayakan negara.

Tapi mereka setuju dan mendukung beberapa program Trump. Seperti menurunkan pajak secara drastis. Pokok persoalannya, kata artikel itu, bersumber dari moral presiden dan kekacauan berpikirnya.

Para analis nimbrung. Pemerintahan presiden Trump sekarang ini seperti kebun binatang tanpa pagar.
Bahaya. Bagi negara.

Biasa menabrak hukum. Mengabaikan due process. Membuat peraturan baru. Menabrak aturan sendiri.

Trump naik pitam. Publik  sudah tahu semua itu.

Yang terakhir: Trump minta jaksa agung melakukan penyelidikan. Untuk mengungkap: siapa nama penulis tersebut. Yang ia bilang pengkhianat bangsa itu. Dan gocik.

Instruksi ke jaksa agung itu dibaca tidak tulus.

Maksud di baliknya: mengapa jaksa agung tidak mengusut NYT. Kok terus mengusut dirinya. Dalam kaitan dengan keterlibatan Rusia di Pemilu lalu.

Trump lagi sewot berat ke jaksa agung sendiri: Jefferson Session. Dianggap tidak bisa mengendalikan kementerian kehakiman. Yang terus mengusut kasusnya. Lewat penetapan tersangka pada  mantan pengacaranya, Michael Kohen. Dan terhadap mantan ketua tim kampanyenya: Paul Manafort.

Trump dianggap aneh: menyerang jaksa agungnya sendiri. Lewat twitter pula. Beberapa kali. Tidak pernah memanggilnya. Untuk membicarakannya.

Padahal Trumplah yang mengangkat Session jadi jaksa agung. Karena dianggap loyal. Dan berjasa.

Session memang tokoh partai Republik. Yang pertama mengendorse Trump jadi calon presiden. Tokoh lain masih mencibirkan Trump. Waktu itu Session anggota senat. Dari negara bagian Alabama.

Diserang berkali-kali akhirnya Session tidak tahan. Ia memberikan keterangan pers: jaksa agung akan menegakkan profesionalisme yang tinggi di kementerian kehakiman. Tidak akan membiarkan campur tangan politik.

Dalam situasi seperti itu artikel di NYT muncul.

Kini jaksa agung justru diminta menyelidiki NYT.

Secara hukum sebenarnya pemerintah bisa menggugat NYT. Minta pengadilan: agar NYT membuka nama penulis artikel itu.

Tapi NYT sudah siap untuk itu. Di pengadilan sekali pun. Tidak akan mengungkapkannya.  NYT sudah biasa menghadapi kasus seperti itu. NYT akan menggunakan hak tolak. Yang di Amerika dilindungi secara hukum.

Di koran besar Amerika selalu ada ahli hukum. Yang membaca naskah-naskah sensitif. Untuk dicermati kata per kata: adakah yang rawan kalah gugatan.

Lucu juga: seorang presiden sampai mengurusi sebuah artikel. Tanpa nama. Ini sekaligus pengakuan betapa seriusnya artikel itu. Dan betapa tingginya reputasi koran New York itu.

Di Indonesia mungkin masih harus menunggu tipping point. Untuk sampai di sana. Itulah yang saya ungkapkan. Sebagai pembicara. Dalam seminar masa depan koran di Indonesia. Yang diadakan Serikat Penerbit Pers (SPS). Bulan lalu.

Memang kegairahan idealisme pers seperti lesu. Begitu banyak masalah. Di internal pers.

Munculnya kembali idealisme pers mungkin benar-benar menunggu tipping point. Untung ada New York Times. (Dahlan Iskan)

The post Idealisme New York Time Menunggu Tipping Point – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
http://hai.radarmalang.id/idealisme-new-york-time-menunggu-tipping-point-dis-way/feed/ 0
Selalu Malas Bermain Catur – DI’S WAYhttp://hai.radarmalang.id/selalu-malas-bermain-catur-dis-way/ http://hai.radarmalang.id/selalu-malas-bermain-catur-dis-way/#respond Tue, 11 Sep 2018 23:03:28 +0000 http://hai.radarmalang.id/?p=7209   Oleh: Dahlan Iskan Saya selalu malas. Kalau diajak John Mohn main catur. Di rumahnya. Di Hays, Kansas. Penyebabnya: saya malas berpikir lama-lama. Langkah catur saya selalu cepat. Hasilnya: kalah. Saya pilih diajak main biliar. Di lantai bawah tanah. Di antara meja kerjanya dan meja kerja istrinya. Bisa lebih santai. Tertawa-tawa. Meski pun juga selalu […]

The post Selalu Malas Bermain Catur – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
 

Oleh: Dahlan Iskan

Saya selalu malas. Kalau diajak John Mohn main catur. Di rumahnya. Di Hays, Kansas.

Penyebabnya: saya malas berpikir lama-lama. Langkah catur saya selalu cepat. Hasilnya: kalah.

Saya pilih diajak main biliar. Di lantai bawah tanah. Di antara meja kerjanya dan meja kerja istrinya. Bisa lebih santai. Tertawa-tawa. Meski pun juga selalu kalah.

Meski saya tidak mau main catur John tidak sewot. Ia bisa main catur di komputer. Itulah hiburannya tiap hari. Malam-malam. Saat istrinya di meja kerja. Tidak jauh dari komputernya.

Di komputer itulah John menawarkan diri: siapa yang mau melawan dirinya. Tidak pernah menunggu lebih satu menit. Detik itu juga biasanya ada yang menerima tantangan.

Dari berbagai belahan dunia pula. Sesekali dari Indonesia.
John punya nama lain di komputer caturnya. Tidak ada nama John Mohn. Nama caturnya mengherankan saya: Apa Kabar.

”Mungkin ada yang mengira saya orang Indonesia,” ujar John.

Apa Kabar, oh… John, memang sering ke Indonesia. Dulu. Lebih 10 kali. Mengajar jurnalistik. Di berbagai kota.
Di tiap kota itu pula ia mencari penantang: main catur.

Ia baru  menemukan lawan tangguh saat di Bengkulu: Redaktur Rakyat Bengkulu. Ia lupa namanya.

John sedang bermain catur di computer.

Di Indonesia ia juga membeli papan catur. Dan bijinya. Dari Bali. Terbuat dari kayu ukir.

Di Spanyol John juga membeli papan catur. Yang bentuk buah caturnya berbeda pula.

Ada sembilan koleksi papan catur di rumah John. Dari sembilan negara. Beda-beda pula bentuk rajanya, kudanya, bentengnya…. (lihat foto).

Di antara sembilan itu ada satu yang selalu dipajang. Dalam posisi siap dimainkan. Di meja teras belakang rumahnya. Menghadap halaman belakang. Yang ada rumah kayu di atas pohon besarnya.
Bikinan John sendiri.

Pun catur ‘siap dimainkan’ itu juga bikinan John. Saat ia berumur 24 tahun. Berarti catur itu kini sudah berumur lebih 50 tahun.

Bentuk buah catur ‘made in John’ itu dicopy dari catur hadiah pamannya. Saat ulang tahun ke 14-nya.

Hampir semua rumah tangga orang Amerika punya alat pertukangan. Di gudang mereka. John membuat buah catur dengan alat pertukangan ayahnya.

Buah catur putih ia buat dari kayu maple. Buah catur coklat dari kayu cedar.

Kotak-kotak di papan catur pun terbuat dari kayu berbeda warna. Kotak putih dari oak. Kotak coklat dari kayu walnut.
Tidak ada kayu berwarna hitam. Warna hitam untuk caturnya ia ganti coklat.

Sebenarnya saya sendiri suka main catur. Bahkan pernah juara. Saat masih SD dulu. Juara baca Quran pula. Dan juara pidato. Tingkat kecamatan. Saat 17 Agustusan.

Meski tanpa saya, John tidak akan kekurangan lawan. Ada 23.000 pemain catur di komputer. Hanya di lichess.com. Belum di lima atau enam website lainnya.

Di antara 23.000 pemain itu level tertingginya 3.000. Level John 1.600. Lawan-lawan John yang menerima tantangan juga dari level itu.
Lebih sering menang?
“50:50,” katanya.

Main catur, katanya, penting. Bagi umurnya yang sudah 78 tahun. Yang di rumah hanya berdua dengan isterinya. ”Saya senang. Level saya masih terus naik. Berarti otak saya tidak terdegradasi oleh umur,” katanya.

Belum semua orang cari lawan di komputer. Masih ada yang cari lawan secara berhadapan. Misalnya di Denver minggu lalu. Saat saya melewati 16th street. Tempat teramai di Denver.

Saya lihat ada lima meja catur dibuka. Di tengah jalan. Yang mobil tidak boleh kewat.
Lima orang itu menunggu lawan. Yang mau datang ke meja caturnya. Dengan catur siap dimainkan.

Sepi. Tidak ada yang mampir ke meja itu. Saya juga tidak mau. Lagi “kesusu”.

Itu mengingatkan saya saat ke St Pieterburg dulu. Saat Uni Soviet belum terpecah lalu.

Begitu banyak orang menenteng papan catur. Mondar-mandir. Di taman luas kota itu. Di bawah pepohonan nan rindang. Mencari lawan.

Saya mencobanya. Dengan “bahasa Tarzan”. Saya tidak bisa berbahasa Russia. Mereka tidak ada yang bisa berbahasa Inggris.

Saya kalah. Pindah ke papan yang lain. Kalah lagi.

Russia memang gudangnya pemain catur. Meski juara dunia sekarang dari Armenia: Levon Arovian. Bekas Uni Soviet juga.

Juara dunia sebelumnya pun: Magnus Carlson. Dari Norwegia.

Saya tidak tahu siapa juara catur Indonesia saat ini. Sejak permainan catur kalah seru. Dengan permainan dagang sapi. (dahlan iskan)

The post Selalu Malas Bermain Catur – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
http://hai.radarmalang.id/selalu-malas-bermain-catur-dis-way/feed/ 0
Awan Kiasan untuk Pemburu Turis – DI’S WAYhttp://hai.radarmalang.id/awan-kiasan-untuk-pemburu-turis-dis-way/ http://hai.radarmalang.id/awan-kiasan-untuk-pemburu-turis-dis-way/#respond Tue, 11 Sep 2018 22:59:50 +0000 http://hai.radarmalang.id/?p=7234   Oleh: Dahlan Iskan Jack Ma memberi kado untuk ulang tahunnya sendiri. Dua hari lalu. Ulang tahun ke 54. Ia menyatakan pensiun. Agar bisa memberi waktu cukup untuk tubuhnya. Pensiun itu akan terjadi tahun depan. Saat usianya 55 tahun. Begitu muda pensiun. Dari jabatan eksekutif chairman Alibaba. Perusahaan yang didirikannya. Di tahun 1999. Jack Ma […]

The post Awan Kiasan untuk Pemburu Turis – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
 

Oleh: Dahlan Iskan

Jack Ma memberi kado untuk ulang tahunnya sendiri. Dua hari lalu. Ulang tahun ke 54. Ia menyatakan pensiun. Agar bisa memberi waktu cukup untuk tubuhnya.

Pensiun itu akan terjadi tahun depan. Saat usianya 55 tahun. Begitu muda pensiun. Dari jabatan eksekutif chairman Alibaba. Perusahaan yang didirikannya. Di tahun 1999.

Jack Ma begitu mudah membuat dirinya pensiun. Ia sudah latihan untuk itu. Tiga tahun lalu. Pensiun dari jabatan CEO. Tinggal menjadi chairman. Tahun depan akan pensiun total. ”Saya pilih mati main golf di pantai dari pada mati di kantor,” ujar Jack Ma saat menyatakan akan pensiun itu.

Tergambar betapa sibuknya Jack Ma. Kalau diteruskan seperti itu bisa mati di kantornya.

Semula ia mengira sudah bisa lebih santai. Saat berhenti sebagai CEO. Nyatanya tidak. Hidupnya habis di pesawat terbang. Tahun lalu, katanya, terbang 780 jam. Tahun ini bahkan bisa 1000 jam.

Siapa mengira nama yang diberikan orang tua kemudian terkait dengan hidupnya. Nama asli Jack Ma adalah Ma Yun (马云). Huruf kedua itu artinya awan. Sedang huruf pertama adalah marga.

Tidak hanya awan dalam pengertian fisik. Jack Ma juga berbisnis dengan awan dunia lain: cloud. Istilah komputer untuk penyimpanan data tak terbatas.

Nama Jack sendiri ia dapat dari orang asing. Turis. Yang datang ke kota Hangzhou. Kota turis terkenal di Tiongkok. Yang di tengah kota ada danau indahnya: danau barat ( 西湖). Yang di sekitarnya ada dua pagoda tinggi. Lokasi untuk shooting film ‘’Legenda Ular Putih’’ itu.

Saya akan selalu terkenang dengan kotanya Jack Ma ini. Di villa sebelah danau inilah. Di sebelah villanya Mao Zedong itulah. Saya bertemu partner bisnis saya. Pertama kali. Ia tidak bisa bahasa Inggris. Saya pun belum bisa bahasa mandarin. Sama sekali.

Tapi hati kami cocok. Pandangan mata kami nyambung. Sampai sekarang. Ia mulai bisa bahasa Indonesia. Saya mulai bisa bahasa mandarin. Persahabatan 25 tahun. Kota Jack Ma ini pula yang akan menjadi tuan rumah Asian Games mendatang.

Saya juga sering mondar-mandir Shanghai-Hangzhou. Yang tiga jam dengan mobil. Atau satu jam dengan kereta cepat.

Di Hangzhoulah Ma Yun uji nyali. Saat baru tamat SMA. Hanya punya sepeda jelek. Tiap hari ia mengayuhnya keliling kota. Cari kesempatan bertemu turis asing.

Badannya yang kecil, wajahnya yang lucu dan tekadnya yang kuat adalah daya tariknya. Bagi turis. Akhirnya Ma Yun bisa menemukannya. Turis yang jadi tempatnya belajar bahasa Inggris.

Pikiran Ma Yun begitu positif. Pun saat dinyatakan tidak lulus. Di ujian masuk universitas. Ia tetap belajar. Dengan caranya sendiri: mencari turis itu.

Sampai tiga kali Ma Yun tidak lulus ujian masuk. Berarti kian lama ia bisa belajar bahasa Inggris. Langsung dari orang asing pula. Turis itulah yang memberinya nama Jack. Gara-gara orang barat sulit mengeja nama Tionghoa.
Kata Yun memang sulit diucapkan. Tidak bisa dibaca yun. Juga tidak bisa dibaca yin. Huruf u itu harus dibaca bukan u. Harus dibunyikan antara u dan i. Bunyi u-nya 40 persen. Bunyi i-nya 60 persen. Kira-kira.

Sembilan tahun Jack bersahabat dengan turis itu.

Tahun keempat Jack lulus. Diterima di universitas yang ia impikan: 杭州师范大学。IKIP-nya Tiongkok. Ambil jurusan bahasa Inggris. Lulus dari situ Jack Ma menjadi guru. Impiannya guru. Hatinya guru. Otaknya guru.

Pun ketika akhirnya terjun ke bisnis. Jack Ma tetap merasa sebagai guru. CEO yang baik adalah guru yang berhasil. Yang bisa mengajak karyawannya tahu program. Tahu kerja. Tahu tujuan.

Lihatlah kalau Jack Ma bicara. Di kuliah-kuliah umum. Di berbagai belahan dunia. Begitu menariknya. Begitu banyak video kuliah umumnya di youtube.

Saya tidak yakin Jack Ma bisa pensiun. Lingkungannya akan membuatnya tidak bisa mati di pantai. Terlalu berharga pandangannya. Terobosannya. Dan kekayaannya.

Alibaba kini menjadi perusahaan raksasa. Salah satu yang terbesar di dunia. Dengan kekayaan USD 480 miliar dolar. Entah seberapa itu banyaknya.

Alibaba seperti sulapan. Semua itu hanya dalam 20 tahun. Begitu cerdiknya. Seperti dalam cerita Alibaba saja.

Tentu memang ada maksud seperti itu. Ketika Jack Ma menamakan perusahaanya Alibaba.

Sungguh aneh perusahaan Tiongkok diberi nama arab. Sangat tidak lazim.

Tapi tiap anak kecil di Tiongkok memang tahu cerita Alibaba. Dan menyukai cerita itu. Membaca komik-komiknya. Menjadi mimpi mereka. Anak-anak di Tiongkok mengagumi kecerdikan Alibaba. Bersama tokoh khayal Afanti (阿凡提). Yang kalau di kita dipanggil Abunawas.

Tahun depan Jack Ma sudah tidak mengendalikan Alibaba. Tapi ia pemiliknya. Dan Jack Ma masih akan bersama para eksekutifnya. Di perusahaan lain.

Jack Ma memang mengajak anggota direksi dan manajer seniornya. Untuk mendirikan perusahaan milik bersama. Di luar Alibaba. Namanya: Alibaba Partnership.

Pengganti Jack Ma pun sudah ditunjuk: Daniel Zhang. Orang Shanghai. Umur 46 tahun. Yang masuk Alibaba tahun 2007. Setelah berkarir di dua perusahaan lainnya. Perusahaan game dan perusahaan audit.

Alibaba tidak akan terganggu. Zhang sudah teruji. Tiga tahun terakhir. Selama Zhang jadi CEO. Alibaba tetap melejit.

Banyak sekali ide Zhang. Salah satunya adalah: hari belanja. Bukan hari pahlawan atau hari santri atau hari guru.

Ide itu muncul saat Zhang baru dua tahun di Alibaba. Di hari yang sudah ditetapkan itu siapa pun yang belanja dapat diskon khusus. Tentu harus lewat Alibaba.

Tahun pertama hari belanja itu mengejutkan. Omsetnya 50 juta dolar. Itu 9 tahun lalu.

Tahun kemarin omset satu hari itu sudah mencapai 25 miliar dolar. Zhang sendiri menamakan hari belanja itu Double Eleven. Artinya: tiap tanggal 11 bulan 11. Hari itu adalah hari belanja.

Mungkin saja, kelak, tanggal 11 Nopember akan lebih dikenal sebagai hari apa. Dibanding 10 Nopember atau 25 Desember.

Zhang tentu tidak akan bisa menjadi Jack Ma. Tapi bisa mengalahkannya. Di awal karirnya dulu nama Daniel Zhang tidak dikenal. Nama aslinya pun tidak disebut: Zhang Yong.

Orang sekitarnya memanggilnya Xiao Yao Zi. Adik kecil yang maunya sendiri dan tidak bisa dikekang sama sekali. Anak liar.

Dan berbahagialah yang punya anak liar. Siapa tahu bisa seperti Daniel Zhang.(dahlan iskan)

(image source:alibaba)

The post Awan Kiasan untuk Pemburu Turis – DI’S WAY appeared first on How are You Today - Radar Malang Online.

]]>
http://hai.radarmalang.id/awan-kiasan-untuk-pemburu-turis-dis-way/feed/ 0