ABG Disukai DBD

JawaPos.com – Anda punya kebiasaan menggantung baju yang sudah dipakai? Bau keringat, tauk… Yang begini disukai nyamuk. Coba tebas dengan raket nyamuk, tret-tet-tet tanda nyamuk kesetrum bakal terdengar nyaring.

Anda pakai dispenser, tapi jarang membuang tempat penampung airnya? Jorok, ih… Yang begini bisa juga jadi tempat bertelur nyamuk.

Anda masih pelajar, pernah menyenteri bak mandi sekolah? Coba disenteri sekali-sekali. Kalau ada jentik-jentiknya, berarti Anda dan teman-teman sekolah Anda sukses beternak nyamuk.

Ilustrasi DBD. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Hal-hal simpel seperti itu mungkin tak kita kira jadi sarang nyamuk. Khususnya Aedes aegypti, ia suka air bersih untuk beranak pinak. Jadi, ya jaga air bersih tetap bersih yuk. Termasuk, tanpa telur nyamuk, bebas jentik nyamuk.



***

Demam berdarah dengue (DBD). Penyakit virus yang satu ini (hampir) selalu naik daun setiap awal musim hujan. Tak pandang bulu, siapa pun yang tergigit nyamuk yang “mengandung” virus dengue dan kondisi fisiknya rapuh bisa terinfeksi. Data terbaru menyebutkan, anak usia sekolah 5-14 tahun mendominasi terjangkit DBD. Itu kan usia anak TK sampai SMP yang sebagian besar waktunya dihabiskan di sekolah. Jangan-jangan ABG (anak baru gede) itu digigit nyamuk Aedes aegypti di sekolah.

Bagi-ibu-ibu yang aware, anaknya dibaluri minyak telon mengandung serai sebelum berangkat sekolah. Dari kuping sampai kaki. “Panas ah Ma, bau lagi.” Duh, disayang kok protes. Ada juga ibu-ibu yang mengupayakan merajang serai, lantas menjadikannya sesaji di sudut-sudut rumah. Ikut-ikut posting-an teman di WAG (WhatsApp Group). Cara lain lagi, menanam lavender. Usaha mengusir nyamuk, katanya.

Alur sakit DBD, banyak juga orang awam yang paham. Demam 3-5 hari, lemas, mual, pendarahan, shock, tak tertolong. “Pokoknya kalau demam sudah tiga hari, segera cek darah biar ketahuan demam berdarah atau bukan.” Begitu tenaga medis kerap me­nyarankan kepada pasiennya yang berobat karena demam.

Pemahaman itu membuat kasus DBD (mungkin) lekas terdeteksi. Ada baiknya, pasien lekas tertangani. Tidak sampai shock, tidak sampai pendarahan hebat. Tapi, ya itu, rumah sakit jadi penuh. PMI siaga penuh menyiapkan kantong-kantong darah. Tapi kenapa, kalau sudah paham, kenapa masih saja kena DBD?

***

Pernah dengar jumantik (juru pemantau jentik)? Biasanya yang bertugas jadi jumantik adalah tenaga medis, kader kesehatan, ibu-ibu PKK, maupun dokter kecil di sekolah. Senjatanya senter. Tugasnya ya menyenteri tempat-tempat penampungan air. Mengecek ada tidaknya jentik nyamuk. Itu pun mereka sering ditolak warga. Tapi, begitu ada anggota keluarganya yang kena DBD, langsung heboh. Menyalahkan sana-sini, minta fogging (pengasapan). Padahal, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Jentik dan telurnya masih tenang di air.

Ayo ah kita turun tangan jadi jumantik. Tak usah saling tunjuk. Tinggal sering-sering menyenteri tempat penampungan air kok. Pakai senter di HP juga bisa. Sebut saja penampungan air itu. Bak mandi di mana pun, gentong, ember, bak penampung air wudu di musala atau masjid atau asrama atau pesantren, tempat minum hewan kesayangan, tempat penampung air tetesan dispenser, dan masih banyak lagi.

Kalau memungkinkan menguras, ya langsung kuras sendiri. Mengurasnya 5-7 hari sekali ya, menyesuaikan siklus hidup nyamuk. Kalau di sekolah atau tempat umum, laporkan kepada pengelola agar lekas diadakan kerja bakti. Dalam hal ini, mencegah itu lebih baik. Dan, bersih (dari jentik dan telur nyamuk) itu sehat. (*)

Editor           : Ilham Safutra