Ada tekanan psikis cukup besar sehingga mereka tak mampu menanggung

Simak saja deretan artis berikut. Whitney Houston, Chester Bennington, dan terakhir Jonghyun seolah tidak punya masalah. Mereka populer, jadi panutan, dan tidak kekurangan harta. Hal-hal yang menjadi impian banyak orang. Tapi, di balik semua itu, ada tekanan psikis yang cukup besar sehingga mereka tak mampu menanggungnya.

Jonghyun adalah pribadi yang menginspirasi banyak orang. Lirik-lirik dalam lagunya sangat kuat. Dia juga pembaca buku yang baik. List pengarang buku yang dilahapnya juga sangar. Mulai Franz Kafka, Herman Hesse, hingga Bertolt Brecht. Tak heran, dia begitu produktif mencipta lagu. Sudah lebih dari 50 lagu yang ditulis penyanyi berusia 27 tahun tersebut.

Namun, dia sendiri cukup kesepian. Dia mengibaratkan dirinya seperti orang yang terjebak pada musim dingin yang selalu mencari musim semi. Sayang, lingkungan terdekatnya gagal memahami bintang K-pop itu. Kesuksesannya bagaikan menenggelamkannya dalam musim yang membekukan jiwanya.

Mau curhat ke fans, tentu yang ada adalah pembicaraan satu arah, yakni fansnya hanya menatap terpukau. Ke agen atau manajemen? Yang ada mungkin sekadar jadwal kerja yang mencekik. Ke keluarga? Sering, orang yang sukses harus menjadi pendengar, bukan sesuatu yang didengar dalam keluarga.



Dia kesepian dalam ketenarannya. Dia tak punya pendengar setara yang bisa memahami, mendukung, serta membantunya menemukan musim seminya. Hingga akhirnya, dia menghirup udara beracun di sebuah kamar dan lantas semua menangisinya.

Depresi tidak bisa diremehkan. Pelaku bunuh diri adalah korban. Sebelum melakukan bunuh diri, biasanya pelaku mengirimkan sinyal minta tolong secara halus. Istilah psikologinya cry for help. Pada fase inilah masyarakat kerap meremehkan orang depresi.

Kadang malah hanya disemprot dengan kata-kata normatif seperti, ’’Itu bertentangan dengan agama. Kalau nekat, kamu dibakar di neraka.’’ Sesuatu yang justru membuat orang depresi makin tertekan dan merasa tak bisa bercerita dan didengar.

Mereka justru seperti kura-kura yang masuk dalam cangkang. Padahal, fase cry for help itu sangat krusial. Jika merasa didengarkan dan cepat mendapat pertolongan, sangat mungkin calon korban bisa bangkit dan tak mengambil langkah fatal itu.
Depresi bukan hal yang layak untuk dianggap enteng apalagi ditertawakan.

Orang yang mengalami depresi amat membutuhkan kawan yang mau mendengarkan. Jika Anda merasakan tendensi untuk bunuh diri, atau melihat kerabat atau teman yang punya tendensi itu, amat disarankan menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait seperti psikolog atau psikiater maupun klinik kesehatan jiwa.

Salah satu yang bisa dihubungi dengan cepat adalah ketik Into the Light dan segera klik. Di sana banyak tautan yang bisa dihubungi dengan cepat untuk merespons tendensi untuk bunuh diri. Semoga, kasus-kasus bunuh diri bisa dicegah dengan lebih cepat.


(*)