Akan Terus Ada di Tiap Musim

ADA perasaan lega melihat Piala Indonesia 2018 sudah memasuki fase semifinal. Meskipun menyisakan pertandingan tunda di 8 besar antara Persebaya Surabaya melawan Madura United, secara keseluruhan penyelenggaraan berjalan cukup lancar.

Tidak dimungkiri juga ada beberapa kekurangan di dalamnya.

Ya, saya mengakui itu. Tujuh tahun sudah Piala Indonesia terhenti, tentu ada berbagai macam tantangan yang harus dihadapi. Tentu ada beberapa masalah. Tidak mudah menjalankan kompetisi yang melibatkan 128 tim di tengah organisasi yang sedang tertatih-tatih. Sedang terlilit utang masa lalu.

Tapi, PSSI punya komitmen. Komitmen yang dipegang ketika menyampaikan bahwa Piala Indonesia akan bergulir kembali pada Kongres 2018 lalu di Tangerang. Saya menyampaikan kepada para anggota PSSI saat itu bahwa Piala Indonesia harus digulirkan kembali setelah tujuh tahun mati suri.



Alasannya tidak lain karena PSSI ingin sekali punya nomor kompetisi yang lengkap hingga 2024 mendatang. Semua jenis kompetisi yang dimiliki federasi negara maju harus dimiliki Indonesia. Mulai liga hingga cup. Saat ini yang sudah bergulir kan hanya men’s league.

Selain itu, ada motivasi lain yang ingin kami sampaikan dengan digulirkannya kembali Piala Indonesia: menyebarkan semangat untuk sama-sama berbenah. Khususnya untuk klub-klub yang berada di kasta terbawah, Liga 3.

Karena itu, kami punya ide, di fase-fase awal Piala Indonesia, PSSI sebagai operator mencoba mempertemukan klub dari kasta teratas melawan kasta di bawahnya. Tidak berhenti di situ, klub dari kasta teratas wajib away ke klub kasta terbawah. Tujuannya tak lain adalah untuk ikut memberikan dampak signifikan terhadap SDM-SDM di klub-klub Liga 3.

Lihat saja misalnya ketika Bali United away ke Pasuruan melawan Persekabpas. Kedatangan Bali United saat itu membuat Persekabpas berbenah. Pembenahan stadion dan media officer dilakukan. PSSI dan Asprov pun datang untuk ikut memberikan pelatihan bagaimana menyelenggarakan pertandingan dengan standar tinggi.

PSSI sadar, klub-klub Liga 3 ini jarang terekspos. Jarang mendapat training bagaimana menyelenggarakan pertandingan dengan tingkat Liga 1 dan Liga 2. Mereka akhirnya mengerti bagaimana melakukan pengelolaan pertandingan yang baik.

Kami melakukan hal tersebut bukan tanpa riset. PSSI sempat menelaah kompetisi serupa dari negara-negara di Eropa. Kami juga banyak baca artikel soal itu.

Banyak pertanyaan kenapa klub di Liga 3 di Inggris bagus. Pengelolaannya dan pelaksanaan pertandingannya rapi. Kenapa Indonesia tidak bisa seperti itu. Sekarang saya tanya, mereka sampai di tahap itu prosesnya seperti apa? Salah satunya ya dengan studi banding ke klub-klub maju di kasta teratasnya.

Adanya kunjungan klub kasta teratas ke klub kasta terbawah itu bisa jadi semacam program pertukaran. Liga 3 itu sebenarnya bukan kualitasnya di bawah, hanya tidak mendapat kesempatan seperti Liga 1 dan Liga 2. Ada motivasi di dalamnya nanti.

Saya berterima kasih kepada sponsor, salah satunya Jawa Pos, yang ikut membantu menghidupkan kembali Piala Indonesia. Juga kepada anggota PSSI yang mau melakukan komitmen. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Alhamdulillahnya, adanya komitmen itu juga mendapat dukungan dari AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia).

AFC akhirnya membuka pintu bahwa nanti juara Piala Indonesia bisa jadi wakil Indonesia di AFC Cup. Dengan demikian, Piala Indonesia tentu akan berlanjut. Tiap musimnya pasti ada. Kami akan terus melaksanakannya seperti yang saya bilang di awal. Agar PSSI punya nomor kompetisi yang sama dengan federasi maju lainnya.

Terakhir, tentu berlanjutnya Piala Indonesia tetap akan membutuhkan komitmen dari semua pihak. Baik anggota PSSI, sponsor, hingga masyarakat. Piala Indonesia harus dijaga bersama-sama. Semoga jadi lebih baik lagi. (*)

Disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Farid S. Maulana