Aksesibilitas Angkutan Umum Bandara Kertajati

BANDARA Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati secara bertahap mulai beroperasi sejak awal bulan ini. Diharapkan, penerbangan dari dan ke Kertajati berangsur-angsur semakin banyak.

Akan tetapi, masalah aksesibilitas masih menjadi kendala. Jarak tempuh dari Bandung ke Kertajati bisa mencapai 168 km jika menggunakan jalur tol Purbaleunyi dan tol Cikopo–Palimanan. Waktu tempuhnya sekitar 2,5 jam. Jika menggunakan jalur Jalan Raya Cirebon–Bandung, jarak tempuh memang lebih pendek, yakni 110 km. Namun, waktu tempuh bisa mencapai hampir 4 jam.

Kendala akses darat dari dan ke Kertajati itulah yang membuat maskapai kurang berminat untuk membuka penerbangan di bandara tersebut. Tidak heran, sejak dioperasikan secara resmi pertengahan 2018, hanya ada satu rute penerbangan yang beroperasi di Kertajati.

Akses darat yang dapat diandalkan alias reliable, mudah, nyaman, dan menarik merupakan persyaratan penting sebuah bandara. Akses darat itu bisa berupa kendaraan pribadi dan transportasi umum.



Dari penelitian, mobil pribadi adalah moda transportasi paling dominan bagi penumpang untuk mengakses bandara. Sejak penerbangan komersial pertama 70 tahun lalu, akses darat ke bandara secara fundamental tidak berubah, yakni bergantung pada mobil pribadi dan taksi.

Dalam permasalahan akses Kertajati, solusi pemerintah adalah mempercepat penyelesaian pembangunan tol Cileunyi–Sumedang–Dawuan (Cisumdawu). Tol sepanjang 60 km yang menghubungkan tol Padaleunyi dengan tol Palimanan–Kanci itu akan mengurangi waktu tempuh dari Bandung ke Bandara Kertajati secara signifikan.

Namun, pembangunan tol tersebut baru selesai pada 2020. Kalaupun selesai lebih cepat dari target, tidak berarti kendala akses darat Bandara Kertajati selesai sepenuhnya.

Di banyak bandara di berbagai belahan dunia, penggunaan kendaraan pribadi secara intensif telah mengakibatkan masalah kemacetan lalu lintas yang parah di sekitar bandara. Dampak negatif lainnya adalah polusi udara.

Belakangan, di Uni Eropa dan Amerika Serikat ada tekanan yang meningkat untuk mempromosikan pengembangan sistem transportasi publik yang andal untuk mengakses bandara. Harapannya, terjadi pergeseran ke moda transportasi yang lebih berkelanjutan dan penggunaan kendaraan pribadi berkurang.

Untuk mengurangi dampak lingkungan dan ekonomi akibat kemacetan, transportasi publik telah menjadi prioritas di hampir semua bandara terbesar di dunia. Sayang, hanya sedikit bandara yang berhasil menarik minat penumpang pesawat untuk beralih ke transportasi umum.

Beberapa bandara memiliki pangsa penggunaan transportasi publik terbesar. Antara lain, Bandara Oslo, Bandara Internasional Hongkong, Bandara Internasional Narita di Jepang, dan Bandara Internasional Pudong Shanghai di Tiongkok. Bandara Oslo tercatat sebagai bandara dengan penggunaan transportasi publik paling tinggi. Persentase penumpang pesawat yang memanfaatkan transportasi publik untuk menjangkau Bandara Oslo mencapai 64 persen.

Menurut hasil survei yang digelar Airports Council International dengan tajuk Airport Service Quality-Best Practice Report, sebetulnya tidak ada korelasi antara jarak bandara dan pusat kota dengan kepuasan penumpang terhadap transportasi darat. Artinya, bandara yang terletak jauh dari pusat kota semestinya masih bisa memberikan kepuasan bagi penumpang pesawat dengan menawarkan akses transportasi darat yang sesuai.

Jadi, yang sangat diperlukan oleh penumpang bandara adalah angkutan umum yang reliable dan murah. Sebagai contoh, beberapa bandara di Asia juga berada jauh dari pusat kota. Bandara Narita, misalnya, berjarak sekitar 66 km dari Tokyo. Bandara Internasional Incheon juga jauh dari Kota Seoul. Begitu pula Bandara Internasional Hongkong yang jauh dari pusat kota.

Dari bandara-bandara tersebut, penumpang bisa menggunakan bus limosin berkualitas tinggi dengan harga relatif murah. Bus-bus tersebut berangkat langsung ke titik-titik pusat kota dengan titik henti di hotel-hotel pusat kota. Kereta api juga langsung dari bandara ke pusat kota.

Bahkan, beberapa layanan kereta menyediakan check-in bagasi. Di Stasiun Kowloon, misalnya, penumpang bisa check in bagasi sehingga bisa naik kereta langsung ke Bandara Internasional Hongkong tanpa membawa bagasi.

Jika dibandingkan dengan bandara-bandara internasional di Asia tersebut, akses transportasi publik menuju Kertajati masih sangat kurang. Yang disediakan oleh DAMRI hanya bus pemadu moda, point-to-point yang sangat terbatas titik pemberangkatan penumpangnya.

Sebenarnya, ada alternatif lain yang dapat dikembangkan. Bus-bus berkualitas tinggi dapat disediakan oleh perusahaan-perusahaan bus swasta dengan titik-titik henti di hotel-hotel. Misalnya, akses bus dari hotel-hotel di Jalan Dago menuju Bandara Kertajati serta dari hotel-hotel di pusat kota ke bandara.

Beberapa bandara tercatat memiliki persentase penggunaan layanan bus di atas 10 persen. Sebanyak 36 persen penumpang di Bandara Hongkong, misalnya, menggunakan bus untuk mengakses bandara. Di Tokyo, pengguna bus yang mengakses bandara mencapai 23 persen. Sementara itu, di Oslo dan London, persentasenya masing-masing 20 persen dan 15 persen.

Di beberapa bandara, bus ekspres yang disponsori publik atau swasta melayani pasar spesifik. Misalnya, The Logan Express di Boston dan FlyAway Van Nuys di Los Angeles. Di Eropa, layanan bus sering dioperasikan atau berada di bawah koordinasi maskapai penerbangan. Misalnya, layanan bus regional Lufthansa di Frankfurt atau Roissybus yang disediakan oleh Air France.

Sejumlah penelitian mengidentifikasi faktor-faktor yang terkait dengan pilihan moda transportasi untuk mengakses bandara. Waktu perjalanan, jarak, kemudahan penanganan bagasi, dan tujuan perjalanan adalah penentu utama dalam pemilihan moda transportasi.

Keandalan waktu perjalanan adalah faktor yang paling penting. Reliabilitas itu mengacu pada stabilitas dan kemampuan memprediksi kondisi perjalanan. Beberapa penelitian menunjukkan, harga tidak sepenting ketepatan waktu. Yang paling penting, dapat memprediksi waktu tiba di bandara. Penumpang bersedia membayar lebih dengan batas harga tertentu untuk keandalan waktu perjalanan yang lebih baik.

Upaya untuk menyediakan transportasi publik yang murah dan reliable dalam mengakses bandara menjadi pekerjaan rumah (PR). Bukan hanya PR bagi Kertajati, tapi juga bandara lain. Itu juga berlaku untuk Yogyakarta International Airport di Kulonprogo.

Akses angkutan umum masih perlu diperbaiki. Kendala-kendala birokrasi, seperti hanya BUMN atau BUMD yang diperbolehkan beroperasi untuk melayani transportasi umum, harus dihilangkan. Demikian pula monopoli oleh taksi-taksi tertentu yang boleh menaikkan penumpang di bandara dengan menetapkan harga yang tinggi (tanpa argo), harus ditiadakan. Akses yang mudah dan murah, persaingan bebas di antara operator-operator angkutan, akan memudahkan akses menuju dan dari bandara. (*)

*) Guru besar transportasi Fakultas Teknik UGM, anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Jerman Indonesia