Alternatif

Oleh : Kurniawan Muhammad
Direktur Jawapos Radar Malang

Orang-orang terdekat saya ada yang percaya dengan pengobatan alternatif. Bahkan sangat percaya. Tapi ada juga yang anti dengan pengobatan alternatif.

Saya pun juga tahu, siapa saja pejabat di Malang Raya ini yang lebih suka berobat alternatif ketimbang berobat secara medis. Saya, lebih suka mengombinasikan dua cara pengobatan itu: secara medis oke, pakai alternatif juga tidak masalah.

Karena bagi saya (Anda boleh tidak setuju), ilmu yang dipergunakan oleh dua cara pengobatan itu pada hakikatnya sama-sama bersumber dari Tuhan.



Mereka yang anti dengan pengobatan alternatif, biasanya mengedepankan rasionalitas. Yakni pada ukuran masuk akal atau tidak. Salah satu yang dilihat adalah cara pengobatan yang digunakan.

Ada pengobatan alternatif yang menggunakan tanam-tanaman herbal sebagai obat. Ada yang hanya menggunakan media air putih. Ada yang menggunakan media telur.  Si pasien datang disuruh membawa telur. Lalu diobati. Tanda-tanda penyakit si pasien, akan terlihat pada telur yang dibawa itu.

Terkadang di dalam telur setelah dibuka, di dalamnya ada jarumnya. Bisa juga telur itu tiba-tiba menjadi busuk. Ada yang menggunakan media kambing. Jadi, penyakit si pasien dipindahkan ke seekor kambing yang dibawa.

Metode-metode pengobatan seperti di atas, jika menggunakan pendekatan rasionalitas, memang tidak akan nyambung. Karena rasionalitas ukurannya adalah lebih banyak pada apa yang terlihat.

Ukuran dari rasionalitas juga banyak disandarkan pada akal pikiran. Jika yang dilihat itu secara akal tidak ada nalarnya, maka dianggap tidak rasional. Padahal (sekali lagi ini menurut saya, Anda boleh tidak setuju), jika dunia ini adalah sebuah platform dalam etalase alam semesta, maka di dalamnya ada unsur yang terlihat dan ada unsur yang tidak terlihat.

Atau dengan kata lain, ada unsur fisika, dan ada juga unsur metafisika. Unsur yang tidak terlihat, atau unsur metafisika,  sering tidak bisa dijangkau oleh akal-pikiran.

Saya punya pengalaman beberapa kali sembuh penyakit saya karena menggunakan pengobatan alternatif. Saya pun sering mengantar saudara, atau teman, ke sejumlah pengobatan alternatif.

Saya menyaksikan, mereka juga berhasil sembuh dari berobat alternatif itu. Dan di Malang Raya ini, ada beberapa tempat yang saya menyaksikan sendiri, manjur dan ampuh model pengobatan alternatifnya. Ada yang di Lawang. Ada yang di Donomulyo. Ada juga yang di Singosari.

Di Singosari dan di Donomulyo ini, kebetulan saya, istri dan anak-anak saya adalah pasien-pasien di sana. Saya tahunya dari teman sekantor.

Pernah, ada salah seorang teman di kantor, mengalami kecelakaan sangat parah. Saat itu, sempat dirawat di sebuah rumah sakit swasta di Kota Malang. Tapi, baru beberapa jam dirawat, dia minta pulang paksa.

Dia lebih memilih berobat secara alternatif di Singosari itu. Saya waktu itu sempat melarang keras. Alasannya selain kondisinya sangat parah, jika berobat secara alternatif, maka tidak akan ditanggung asuransi. Tapi, teman sekantor itu ngotot ingin pulang paksa.

Dia begitu yakinnya dengan pengobatan alternatif di Singosari. Saya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ternyata keyakinannya membuahkan hasil. Sekitar satu bulan, teman saya yang mengalami kecelakaan tadi, sudah bisa masuk kantor.

Saya pun masygul begitu mendapati fakta seperti itu. Setengah tak percaya. Subhanallah…saya menganggap, itulah bagian dari hebatnya Ilmu dari Tuhan yang diturunkan lewat Mas Agus, pengobat dari Singosari tadi.

Sejak saat itu, jika ada teman di kantor yang mengalami kecelakaan, selalu merujuk ke Singosari.

Ketika anak saya mengalami kecelakaan dan kaki kanannya retak, dan tulangnya ada yang bergeser, saya pun langsung teringat dengan Singosari. Saya bawa anak saya ke sana. Dan alhamdulillah, tak sampai seminggu, anak saya sudah bisa beraktivitas kembali.

Rabu lalu, saya yang mengalami kecelakaan. Tulang kaki kiri dekat tumit, tulang dekat pundak kiri, dan tulang rusuk saya sebelah kiri sakit sekali jika digerakkan. Juga pelipis kiri saya, ada luka robek sedikit.

Kebetulan, di dekat lokasi saya mengalami kecelakaan, ada klinik kecil. Di sana, saya diobati pelipis kiri saya yang saat itu terus-terusan mengucur darahnya. Oleh perawat yang bertugas, saya disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit, karena menurut dia, luka saya di pelipis itu harus dijahit. Kira-kira butuh 2–3 jahitan.

Setelah darah tak lagi mengucur, dari klinik itu saya sengaja ke Singosari.  Saya ditangani Mas Agus. Tiga hari kemudian kesakitan saya pada bagian tulang-tulang tadi berangsur hilang secara signifikan. Dan luka di pelipis kiri saya berangsur kering, dan sembuh.

Inilah bagian dari kebesaran Tuhan. Betapa luasnya Ilmu Tuhan. Ada Ilmu Tuhan yang diturunkan kepada seseorang, tapi orang itu harus menempuh pendidikan selama beberapa tahun lebih dulu. Ada pula Ilmu Tuhan yang diturunkan kepada seseorang, setelah orang itu melakukan riyadhoh atau tirakat.

”Katakanlah, sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (Al Kahfi: 109).

Ibnu Katsiir dalam Kitab Tafsirnya menukil perkataan ar-Rabi’ Ibnu Anas yang berkata: ”Ayat tersebut menggambarkan perumpamaan ilmu seluruh manusia jika dibandingkan dengan ilmu Allah bagaikan setetes air dibanding seluruh samudera”. (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/ IG: kum_jp)