Ancaman Difteri Pada Akhir Tahun

Ilustrasi

SATU lagi pasien difteri meninggal dunia. Kali ini terjadi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Pasien berusia 14 tahun bernama Rahmat Alfian tersebut meninggal Selasa (14/12). Itu menjadi bukti bahwa kasus difteri di Indonesia masih mengkhawatirkan. Kesigapan pemerintah dalam mengatasi persoalan tersebut juga pantas dipertanyakan.

Kementerian Kesehatan boleh saja beralasan, pasien sudah datang dalam kondisi parah. Akibatnya, pemberian serum antidifteri tidak mampu menyelamatkan nyawa pasien. Semoga saja alasan itu benar adanya.

Jawa Barat merupakan daerah berstatus kejadian luar biasa (KLB). Di daerah tersebut diberlakukan outbreak response immunization (ORI). Yakni pemberian imunisasi DPT kepada semua anak berusia 2–7 tahun dan imunisasi DT kepada anak berusia 7–15 tahun.

Kemudian, di daerah non-KLB dilakukan pengecekan kelengkapan imunisasi anak, terutama imunisasi DPT/DT. Dalam jangka panjang harus dilakukan gerakan imunisasi terpadu agar cakupan DPT/DT anak berusia di bawah 15 tahun mencapai 95 persen.



Pertanyaannya, apakah standar itu sudah dijalankan pemerintah? Apakah pelaksanaan ORI di Jawa Barat sudah cukup optimal? Itu yang perlu ditelusuri. Tanpa bermaksud mencari kambing hitam, proses evaluasi tersebut sangat penting untuk menghindari jatuhnya korban di kemudian hari.

Saat ini daerah yang dinyatakan KLB adalah Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Timur. Kasus difteri terbanyak justru terjadi di Jawa Timur, yakni 271 kasus dengan sebelas korban meninggal dunia. Di luar Jawa, kasus difteri terbanyak terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam dengan 96 kasus.

Libur panjang Natal dan tahun baru harus diwaspadai. Jangan sampai di masa libur pihak-pihak yang punya tanggung jawab melakukan pencegahan dan penanganan difteri justru terlena. Sudah menjadi kebiasaan, setiap liburan akhir tahun, sebagian dokter mengambil cuti. Pihak rumah sakit harus bisa mengantisipasi hal tersebut. Jangan sampai terjadi ledakan kasus difteri pada masa liburan nanti.

Peran serta masyarakat juga sangat diharapkan. Para orang tua diminta mengecek kembali kelengkapan imunisasi anak-anaknya. Bila belum lengkap, bisa segera melengkapi. Dalam hal ini, orang tua adalah ujung tombak untuk menghentikan persebaran difteri.

Selain para orang tua, lembaga-lembaga keagamaan juga perlu dirangkul untuk ikut menyadarkan orang tua agar melengkapi vaksin anak-anaknya. Gerakan antivaksin yang sempat muncul akhir-akhir ini harus dilawan dengan pendekatan persuasif, tapi juga tegas. (*)

(*)