Antara Kejutan Politik dan Kepentingan

Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad

Catatan Politik  Pilwali Malang 2018

Pilwali Malang 2018 diwarnai dengan beberapa kejutan. Ketika ada banyak kejutan dalam kontestasi politik, sebenarnya bukanlah hal yang mengherankan. Karena  di dalam politik memang identik dengan kejutan-kejutan. Di dalam politik, tak ada teman yang abadi. Juga tidak ada musuh yang abadi. Yang abadi dalam politik adalah kepentingan. Maka, wajarlah jika di dalam politik selalu muncul kejutan-kejutan. Sebab, kejutan-kejutan itu salah satunya dikendalikan oleh kepentingan-kepentingan.

Jadi, antara politik, kepentingan dan kejutan-kejutan, adalah titik-titik yang saling mengait satu sama lain.

Dan itulah yang terjadi dalam Pilwali Malang 2018. Munculnya sosok Ya’qud Ananda Gudban yang akhirnya menjadi penantang utama incumbent (Moch. Anton) adalah salah satu dari kejutan itu.

Nanda, dulu dikesankan sangat dekat secara politis dengan Anton.  Partai Hanura yang dia pimpin, tidak pernah terlihat konfrontatif dengan kebijakan-kebijakan Anton. Bahkan, Nanda cenderung mendukung setiap kebijakan Anton. Secara ideologis, antara Anton dan Nanda punya kedekatan. Yakni sama-sama kuat di jalur nahdliyin.  Ayah Nanda di NTT adalah salah seorang tokoh NU. Salah seorang saudaranya bahkan menjadi pengurus GP Ansor. Itulah yang membuat NU Kota Malang, Muslimat, dan juga Ansor Kota Malang berinisiatif ”menjodohkan” Nanda dengan Anton. Keduanya sempat dipertemukan di kantor PC NU Kota Malang. Semula, ”perjodohan” ini dianggap cocok. Tapi, belakangan, ”perjodohan” itu batal. Penyebab batalnya ”perjodohan” itu, karena ada negosiasi dan komitmen keduanya yang tidak bisa ketemu.

Yang mengejutkan, Nanda akhirnya bisa merangkul empat partai (PDIP, PAN, PPP, dan Nasdem) untuk mendukung dia. Jika digabung dengan Hanura, total ada 22 kursi yang mendukung Nanda. (Hanura: 3 kursi, PDIP: 11 kursi, PAN: 4 kursi, Nasdem: 1 kursi dan PPP: 3 kursi).  Sangat cukup untuk mengusung Nanda maju dalam Pilwali Malang 2018.

PDIP yang akhirnya mendukung Nanda, termasuk mengejutkan. Karena sebelumnya PDIP sempat merapat ke Anton, hingga muncul istilah koalisi ”Jobang” (ijo dan abang). Koalisi ini mengacu pada koalisi PKB dan PDIP yang mengusung Saifullah Yusuf dan Abdullah Azwar Anas pada perhelatan Pilgub Jatim 2018.  Membelotnya Nasdem yang semula sudah membuat surat resmi dukungan untuk Anton, kemudian berbelok ke Nanda, juga cukup mengejutkan.

Membeloknya partai-partai yang dulu mendekat dan menyokong Anton lalu berbelok ke Nanda, bisa dimaknai, ada komunikasi politik yang tidak lancar. Yakni komunikasi politik antara Anton dengan partai-partai itu.

Saya selalu yakin, bahwa politik adalah ”touch” (menyentuh).  Politik juga identik dengan ngramut (merawat).  ”Touch” dan ”ngramut” adalah sebuah proses. Jika hasil akhir dari sebuah ikhtiar politik tidak sesuai dengan harapan, berarti ada yang salah pada prosesnya. Bisa salah dalam cara ”touch”-nya, atau bisa juga salah dalam cara ”ngramut”-nya.

Kejutan berikutnya yang tak kalah mengejutkan adalah munculnya sosok Syamsul Mahmud yang sangat mungkin akan digandeng Anton. Syamsul tak pernah gembar-gembor ikut kontestasi Pilwali Malang. Bahkan, dia sama sekali tidak tertarik untuk ikut polling di Radar Malang.  Makanya, namanya tidak masuk dalam deretan bakal calon wali kota maupun bakal calon wakil wali kota yang dimuat setiap hari selama beberapa bulan di Radar Malang.

Bahwa nama Syamsul akhirnya yang hampir pasti digandeng Anton, bisa jadi karena Anton lebih memilih pasangan yang sudah sangat dia kenal, dan sangat dia percaya. Kriteria ”sangat dikenal” dan ”sangat dipercaya” bisa jadi akhirnya menjadi pilihan Anton untuk menyeleksi pasangannya.

Anton ingin, periode kedua kepemimpinannya ”aman” dan lebih ”harmonis”.  Anton juga ingin, wali kota berikutnya setelah dia tuntas dua periode, adalah sosok yang bisa meneruskan visi-misinya dan bisa mengamankan posisinya pascalengser. Dan untuk ini, Anton butuh figur yang ”sangat dikenal” dan ”sangat dipercaya”.  Dengan kriteria ini, maka Syamsul-lah yang lebih cocok. Anton sangat mengenal Syamsul, bahkan jauh sebelum dia menjadi wali kota.

Kejutan selanjutnya adalah nama Sutiaji yang terkesan cenderung meredup. Mengapa mengejutkan? Sebenarnya, dengan menjadi wakil wali kota selama lima tahun, sosok Sutiaji lebih berpeluang untuk ”menarik perhatian” ketimbang Nanda yang menjadi anggota DPRD.  Sutiaji lebih berpeluang untuk bisa bernegosiasi dengan partai-partai politik selama dia lima tahun ”ikut berkuasa”. Sutiaji sebenarnya juga lebih berpeluang untuk ”ditaksir” NU, karena dia sebenarnya lebih lama malang melintang di jalur NU Kota Malang ketimbang Nanda. Tapi, ternyata NU Kota Malang bersama banom-banomnya (Muslimat dan Ansor) terkesan lebih jatuh hati ke Nanda ketimbang Sutiaji. Ini bagi saya termasuk mengejutkan.

Itulah kejutan-kejutan seputar Pilwali Malang. Ke depan, saya kira masih akan muncul lagi kejutan-kejutan lainnya, hingga hari H Pilwali Malang Juni mendatang. Pada 10 Januari ini, adalah batas akhir pendaftaran pasangan calon. Selama rentang waktu beberapa hari lagi, masih ada waktu untuk terjadinya kejutan-kejutan.

Inilah politik. Apa pun bisa terjadi. Dulu jadi lawan, kini berteman. Dulu berteman, kini jadi lawan. Ini bisa berubah dalam hitungan hari,  jam, menit, bahkan detik. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)