Antisipasi Dampak Psikologis Letusan Gunung Agung

Berbagai upaya evakuasi dan pengamanan daerah ’’merah/berbahaya’’ yang ditinggalkan penduduk serta bantuan logistik untuk para pengungsi juga sudah dilakukan. Tujuannya, tidak muncul kejadian letusan dengan banyak korban jiwa dan kerugian harta benda yang tidak terhingga.

Reaksi Psikologis
Reaksi psikologis individu terhadap bencana tidak sama. Setiap individu memiliki pengalaman terhadap bencana yang berbeda. Hal itu disebabkan pengalaman masa lalu dan pendidikan seputar kebencanaan.

Masalahnya, pengalaman pengungsi juga beragam. Sementara itu, apakah semua orang yang diungsikan juga sudah pernah mendapat pendidikan kebencanaan? Bila hal itu belum diberikan, masa-masa di pengungsian inilah saat yang tepat untuk memberikan materi kebencanaan meski sebenarnya terlambat. Yang terpenting, materi pendidikan berisi kejadian-kejadian yang diprediksikan akan terjadi dan cara-cara penyelematan.

Setiap ada bencana, termasuk letusan gunung, ada tiga tipe reaksi individual yang muncul. Yaitu, usaha survival, adaptasi fisiologis dan psikologis, serta kemampuan coping terhadap stres.



Secara naluriah, manusia memiliki bekal untuk survival. Namun, dengan bekal tersebut, memang ada yang mampu mengatasi untuk bertahan hidup dan ada juga yang gagal mempertahankan kehidupan. Setiap individu juga memiliki kemampuan beradaptasi terhadap situasi dan lingkungan bencana. Kemampuan adaptasi tersebut bisa fisiologis dan bisa pula psikologis. Masalahnya, tidak semua korban bencana memiliki kemampuan adaptasi tersebut dan justru yang terjadi lebih banyak kebingungan yang dihadapi.

Reaksi yang ketiga adalah coping terhadap stres. Bisa dipahami bahwa bencana bisa menjadi stressor bagi korbannya. Perubahan lingkungan di pengungsian, ketidakpastian akan berakhirnya bencana, dan masalah kesehatan maupun interaksi baru membutuhkan usaha yang keras untuk bisa menyelesasikan persoalan. Ada tipe fight yang mencoba menghadapi, menyelesaikan masalah, dan ada pula yang mencoba menghindari permasalahan. Ketiga reaksi tersebut tentu membutuhkan perhatian khusus bagi para penolong saat mengatasi bencana sehingga model bantuan lebih tepat sasaran.

Dampak Psikologis
Dampak psikologis bagi yang terkena bencana sangat beragam. Pemicunya, lebih karena ’’kedekatan’’ korban saat terjadi bencana. Semakin langsung dengan bencana semakin besar dampak psikologisnya. Ada orang menjadi saksi mulai awal hingga berakhirnya bencana sehingga tahu persis kronologinya. Ada pula yang menjadi korban atas terjadinya bencana sehingga mengalami ketakutan, harus kehilangan harta benda, dan mungkin sanak keluarga. Ada juga para volunter yang berusaha membantu menyelematkan para korban yang akhirnya menjadi korban juga.

Bila diidentifikasi, dampak psikologis dari terjadinya bencana bisa berupa: perasaan tidak aman, perasaan khawatir, cemas, depresi, dan gangguan trauma pascabencana. Perasaan tidak aman (feelings of insecurity) terjadi ketika seseorang harus meninggalkan tempat tinggalnya dan berada di tempat baru (pengungsian). Ikatan emosional antara pengungsi dan tempat tinggalnya bisa meningkatkan perasaan tidak aman. Perasaan tidak aman tidak hanya terjadi karena kepemilikan rumah dan barang yang ditinggalkan, namun juga sejumlah makhluk yang juga ditinggalkannya. Siapa yang menjaga, apakah masih hidup atau mati karena tanpa diberi makanan.

Dampak psikologis kedua yang muncul adalah rasa khawatir (feeling of worried). Rasa khawatir adalah perasaan tidak nyaman akan kesulitan hidup yang sedang dialami atau yang dibayangkan bakal terjadi. Korban bencana di pengungsian akan mengalami perasaan itu manakala membayangkan apa yang bakal terjadi bila bencana berdampak buruk dalam diri dan keluarganya, terlebih lagi bila tidak mengetahui kapan berakhirnya bencana tersebut.

Gejala ketiga yang muncul adalah rasa cemas (anxiety). Perasaan cemas itu muncul setelah terjadinya rasa khawatir dan ketakutan yang berkepanjangan. Bila sesuatu yang ditunggu belum terjadi dan kekhawatiran belum ada tanda-tanda berakhir, perasaan cemas itu bisa berdampak buruk. Rasa cemas tersebut bisa menjadi gangguan psikologis ketika menghalangi seseorang untuk menjalani kehidupan sehari-hari dan menjalani kegiatan produktif. Di pengungsian adalah menunggu. Menunggu berakhirnya suatu bencana yang sulit dipredikasi adalah pekerjaan melelahkan dan membosankan.

Dampak psikologis selanjutnya adalah post traumatic stress disorder (PTSD). Perasaan itu banyak
terjadi pascabencana. Namun, tidak tertutup kemungkinan proses di pengungsian juga bisa menimbulkan dampak traumatik tersebut. Gejala PTSD akan dialami oleh orang-orang yang mengingat kejadian-keajadian buruk saat prabencana maupun saat bencana. Orang tidak akan melupakan pengalaman buruk saat kejadian. Penghindaran dari pengalaman buruk itu dibutuhkan sekali bagi para pengungsi untuk terhindarkan dari PTSD.

Mengatasi Dampak Psikologis
Siapa pun yang memberikan pertolongan kepada korban harus memahami standard operating procedure (SOP) penanganan kebencanaan. Tujuannya, tidak terjadi kesimpangsiuran alur pemberian bantuan. Kalaupun tidak memahami SOP yang ada, setidaknya ada ’’jurus kunci’’ bagi setiap orang yang menolong. Misalnya, pertolongan pertama penyelamatan agar korban bencana tetap bisa bertahan hidup.

Untuk mengatasi gangguan psikologis, misalnya perasaan tidak aman, khawatir, dan cemas, setidaknya bisa dihindari manakala ada jaminan dari penolong untuk memberikan bantuan, perlindungan, pendampingan saat perasaan-perasaan tersebut terjadi. Penjelasan, pemahaman, dan jaminan keamanan sangat dibutuhkan. Bagi korban anak-anak yang ikut mengungsi, tentu mereka juga perlu mendapat perhatian agar juga tanggap terhadap situasi dan terhindarkan dari pengalaman traumatis.

Sementara itu, bila dampak psikologis sampai pada bentuk PTSD (post traumatic stress disorder), penanganan trauma healing dan terapi khusus yang lain sangat dibutuhkan. Selama penanganan prabencana dilakukan dengan baik, harapannya PTSD tidak sampai terjadi. Semoga bermanfaat. (*)


(*) Guru besar psikologi sosial Universitas Airlangga)