Apresiasi untuk Pakde

JawaPos.com – Dulu ada anekdot begini: Gubernur Jawa Timur itu Pak Noer. Maksudnya H M. Noer, salah satu tokoh terbaik dari Madura. Yang namanya melekat itu. Yang dikenal dengan kutipan, “Pemimpin itu bature rakyat.” Yang memimpin Jawa Timur pada 1967-1976 itu.

Lha, Pak Soenandar Prijosoedarmo, Pak Wahono, Pak Soelarso, Pak Basofi, Pak Imam Utomo? Itu kan penggantinya. Ha…ha… Bukan tanpa alasan nama Pak Noer begitu kuat. Beliau dari bawah. Pegawai magang di Kabupaten Sumenep.

Setiap orang ada masanya. Setiap masa ada orangnya. Apakah Pakde, demikian banyak orang sudah begitu akrab memanggil nama Gubernur Soekarwo, juga “bukan” gubernur, tapi “hanya” pengganti Pak Noer? Menurut saya, kok anekdot tersebut saat ini sudah lewat masanya. Maksudnya, Pak Noer memang hebat, Pak Basofi luar biasa, Pak Imam Utomo bagus sekali. Begitu pula gubernur sebelum-sebelumnya. Termasuk, Pakde. Istimewa.

Meminjam pernyataan Thomas Carlyle, mereka-mereka itu adalah bagian dari the great man. Manusia hebat. Sejarah kebesaran dan kehebatan Jawa Timur sejatinya adalah biografi para gubernur. Sejarah keunggulan kabupaten/kota sejatinya adalah biografi bupati/wali kota. Juga, sejarah kehebatan Indonesia tentu sejatinya biografi presidennya.



“The history of the world is but the biography of great man.”

Khusus Pakde, beliau termasuk leader yang unik. Dulu, saat diwawancarai, Pakde sering seperti ini, “Endi rokokmu sek, Rek,” lalu meminta wartawan menyulut rokok itu. Ada karakter keakraban. Ada pembeda khas seorang Pakde betulan. Di balik kegeniusannya.

Sepuluh tahun Jatim dipimpin Pakde, tidak perlu ditulis berapa penghargaan. Yang diterima Pakde. Dari presiden atau kementerian. Sudah pasti banyak sekali. Sebab, sebagian orang masih meyakini bahwa Jawa Timur barometer Indonesia. Bukan Jakarta. Jatim baik, Indonesia baik. Jatim kondusif, Indonesia juga. Jatim goyang, Indonesia diperkirakan ikut bergoyang.

Mengapa? Kok bisa? Mungkin karena banyak walinya. Di antara sembilan wali, lima berada di Jatim. Itu kata saya. He…he… Yang jelas, selama ini memang demikian.

Juga, kesuksesan terbesar Pakde adalah menjadi “maestro harmoni”. Menjaga keguyuban. Kerukunan. Modal itu tidak ternilai. Artinya, guyub-rukun itu menjadi modal besar bagi Jatim. Pertumbuhan ekonomi tetap tinggi. Pada 2018 melebihi pertumbuhan ekonomi nasional. Makin banyak kabupaten/kota di Jatim yang ikut menggeliat. Bukan hanya Surabaya.

Di akhir masa jabatannya, Pakde juga membuat pembeda. Memboyong peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini ke Surabaya, ibu kota Jawa Timur. Yang wali kotanya Bu Risma itu. Acaranya luar biasa. Banyak sekali. Mulai acara sosial, kesehatan, pendidikan, hingga pengembangan sumber daya manusia (SDM). Lima tahun terakhir saya selalu hadir ke peringatan HPN. Mulai Lombok, Ambon, hingga Padang. Di Jatim memang beda.

Peringatan HPN 2019 menjadi program besar Pakde. Di akhir masa jabatannya. Bukan sekadar gebyar. Saya percaya, Pakde ingin menitipkan sebuah “warisan” besar pula. Untuk para pelaku atau insan-insan media pers. Bukan media nonpers. Media-media pers jangan kalah. Media pers harus tetap hidup. Di tengah “perang” informasi melawan media-media nonpers. Media sosial. Media pers harus menjadi benteng pertahanan publik. Dari semburan hoax. Jika benteng itu jebol, bangunan keguyuban, kerukunan, berpotensi jebol. Berantakan.

Menjaga titipan Pakde itu tentu tidak mudah. Tentu titipan itu juga berada di pundak Bu Khofifah yang segera menggantikan Pakde. Peralihan jabatan dari senior ke juniornya dulu. Dua gubernur sama-sama berasal dari satu almamater. Sama-sama jas biru. Unair. Pakde dari hukum, Bude dari FISIP.

Menjaga titipan Pakde tidak mudah. Terkadang masih ada elite yang lebih asyik menjalin komunikasi dengan media nonpers, bermedsos ria, daripada menjalin sinergi dan kolaborasi dengan media arus utama. Untuk perkembangan daerah, untuk bangsa.

Terima kasih, Pakde. Rasanya, langkah kaki Pakde ke depan masih luas membentang. Tapi, tentu bukan sebagai ketua KAHMI atau IKAPMII, kan? Ha…ha… Siapa tahu. Apresiasi juga buat Gus Ipul, pendamping setia Pakde. Langkah kakinya juga tetap panjang. Sepanjang guyonan-guyonan segarnya. (*)

*) Wartawan Jawa Pos

Editor           : Ilham Safutra