Awal Tahun, Investasi Mengalir

JawaPos.com – Realisasi investasi tahun lalu sebesar Rp 721,3 triliun baru mencakup 94,3 persen dari target dan tumbuh hanya tumbuh 4,1 persen (yoy). Tahun lalu ada policy dari The Fed menaikkan suku bunga sehingga aliran dana keluar. Namun, kemarin ada sentimen shutdown pemerintah AS. Investor sudah meminta bunga yang lebih tinggi untuk jangka yang lebih pendek, kemudian terjadi arus balik dana yang tadinya keluar. Arus balik itu membuat rupiah menguat. Artinya, uang masuk lagi.

Tahun lalu wajar investasi asing negatif 8,8 persen (yoy) karena ketidakpastian suku bunga. Itu memengaruhi orang untuk berinvestasi. Lalu, ketidakpastian kebijakan-kebijakan di berbagai negara, termasuk perang dagang, juga membuat investor wait and see. Hal itulah yang membuat kenapa PMA (penanaman modal asing) cenderung turun.

Biasanya, kalau suatu negara akan menggelar pemilu, investor cenderung menunggu sampai selesai. Apalagi, kalau kita lihat, arah kemenangan dari pemilu saat ini belum jelas. Orang masih akan melihat siapa yang akan menang dan policy ekonominya seperti apa.

Saya melihat, mungkin investasi akan tumbuh setelah pemilu. Sebab, sudah terlihat siapa yang menang. Jadi, pada 2019, normalisasi akan terjadi setelah April.



Untuk kebijakan di bidang ekonomi, sebenarnya juga tidak banyak pilihan. Siapa pun yang menang pemilu, tidak banyak instrumen yang bisa digunakan untuk membuat ekonomi tumbuh sangat pesat. Sebab, sumbernya kan dari APBN, dari fiskal. Nah, fiskal (anggaran negara) kan cuma segitu-segitu saja, sekitar Rp 2.000 triliun. Porsinya hanya 10 persen dari PDB (produk domestik bruto).

Jadi, yang lebih berperan adalah ekspektasi masyarakat sebagai konsumen dan ekspektasi perusahaan sebagai produsen. Itulah yang akan lebih berkontribusi pada ekonomi. Perusahaan dan masyarakat ini kontribusinya terhadap ekonomi sangat besar, yakni Rp 10.000 triliun. Jadi, sekarang yang harus di-manage adalah ekspektasi itu sendiri. Ekspektasi masyarakat dan dunia usaha sangat memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Upaya peningkatan investasi kita sebetulnya ada banyak, tetapi tidak fokus. Kalau tidak fokus, akan ada dampak ekonomi yang bertentangan. Menurut saya, sektornya kita ambil saja. Tidak usah banyak, tapi dikawal. Ini banyak peraturan baru, tapi tidak dikawal. Jadi, peraturannya mubazir. Peraturan yang bagus-bagus tadi belum terlaksana dengan baik.

BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) berharap investasi yang banyak akan datang dari sektor digital. Itu juga harus diwaspadai. Sekarang ini perusahaan start-up masih rugi semua. Jangan sampai, kinerja keuangannya merah pun diguyur uang terus. Itu bisa jadi bubble.

Kenapa? Karena nilai perusahaannya jadi tinggi, tapi sebetulnya tidak ada apa-apa di dalamnya. Ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Apalagi nanti kalau mereka jadi perusahaan go public.

*) Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef)

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Shabrina Paramacitra/c10/fal)