Awards yang Tidak Mengada-ada – Azrul Ananda

Perlukah kita memberikan penghargaan kepada orang lain?

Bagaimanapun, tetap ada pihak-pihak yang mendebat bahwa memberikan penghargaan itu justru bisa counterproductive.

Alfie Kohn, penulis The Risk of Rewards, menyebutkan bahwa nilai dan perbuatan baik harus muncul dari dalam diri sendiri. Tidak dengan diberi pancingan berupa penghargaan di depan mata.

Apalagi untuk anak-anak, yang menurutnya butuh lingkungan di mana mereka bisa belajar dan berkarya, dan punya pilihan terhadap apa yang ingin mereka pelajari.



Ada yang menguatkan argumen ini dengan memberikan contoh penghargaan untuk bintang olahraga di sekolah. Yang sering menang lama-lama menganggap penghargaan yang terus dia terima tidak lagi istimewa. Sedangkan yang tidak pernah menang justru menjadi malas untuk berusaha.

Walau ada juga yang bilang, penghargaan bisa menimbulkan semangat bagi yang meraih atau memburunya, dan menginspirasi yang lain untuk ikut bersemangat.

Pendapat saya? Yang tengah-tengah saja.

Dari dulu saya merasa saya ini memang Middle Way dalam banyak hal. Banyak hal yang saya lakukan sudah dianggap ekstrem oleh orang lain. Tapi menurut saya tidak, karena saya merasa masih ada level lain yang jauh lebih ekstrem.

Dan belakangan saya agak neg –bahkan ingin muntah– dengan yang ekstrem-ekstrem.

Makan yang terlalu pedas perut jadi sakit. Makan terlalu banyak jadi gendut. Makan terlalu sedikit kelaparan. Minum terlalu banyak jadi kembung. Minum terlalu sedikit jadi dehidrasi.

Apalagi kalau terlalu ekstrem dalam keagamaan…

Lha yang tengah-tengah dalam hal penghargaan itu apa? Yang terpenting niat dalam memberikan penghargaannya baik. Kemudian proses menentukannya baik. Dan penghargaannya tidak mengada-ada.

Jujur, kadang di Indonesia ini penghargaannya agak berlebihan.

Juara itu ada satu. Podium itu juara satu, dua, dan tiga. Terus apa gunanya juara harapan satu, dua, dan tiga? Juara kok harapan…

Jadi, kalau dia juara satu, dua, dan tiga, maka itu real. Tapi, kalau juara harapan, menurut saya itu juara mengada-ada.

Kalau mau juaranya lebih dari tiga, jangan bilang harapan. Tegaskan saja juara satu, dua, tiga, empat, dan lima. Sudah. Cukup. Kalau ada juara enam, itu lebih mengada-ada lagi…

***

Jawa Pos Group itu dari Aceh sampai Papua. Lebih dari 200 perusahaan media, termasuk di antaranya 170-an koran dan 30-an stasiun televisi. Jumlah karyawannya yang terlibat dalam proses pembuatan berita (redaksi), berdasar laporan akhir 2015, mencapai 4.013 orang. Total karyawannya sekitar dua kali itu.

Karena grup ini dalam perjalanannya tumbuh begitu cepat, kadang kami tidak sempat untuk ’’bekerja bersama’’. Masing-masing sibuk mengembangkan diri sendiri-sendiri, melebarkan sayap dan memperdalam akar di wilayah masing-masing.

Saking cepatnya, kadang pertemuan empat kali setahun (setiap triwulan) tidak cukup untuk mengenali satu sama lain lebih baik. Wkwkwkwk…

Jujur, beberapa kali ada kunjungan dari koran lain ke redaksi Jawa Pos di Surabaya, dan yang di Surabaya harus memverifikasi dulu apakah mereka benar-benar anggota Jawa Pos Group. Wkwkwkwk…

Sampai sekarang, terus ada media-media baru muncul di grup ini. Terus akan ada beberapa lagi yang muncul dalam waktu yang akan datang.

Ketika yang lain menutupi unit usaha, Jawa Pos Group terus memunculkan unit usaha. Ketika yang lain mengurangi karyawan, di sini malah terus rekrutmen.

Sekarang tinggal bagaimana bekerja bersama. Sambil terus mengembangkan diri secara usaha, juga saling membantu mengembangkan diri secara kualitas.

Tidak terasa, dalam setahun terakhir, Jawa Pos Group mungkin telah menyelenggarakan kompetisi produk media terbesar di Indonesia. Padahal hanya kompetisi internal!

Bukan hanya performa perusahaan, tapi juga performa konten. Mulai penulisan, desain koran, foto, dan lain-lain. Untuk kompetisi konten ini, jurinya saja dari berbagai pulau dan provinsi.

Pesertanya ya dari 4.000-an kru redaksi dari Aceh sampai Papua itu, walau sudah tersaring dari masing-masing perusahaan atau wilayah.

Seru, panitia dan jurinya repot bukan main setiap triwulan. Walau repotnya asyik. Bagaimana tidak. Triwulan ini repot asyik di Jakarta, triwulan berikutnya di Pekanbaru, Riau. Lalu di kota-kota lain.

Keliling Indonesia!

Selama setahun ini pula, Jawa Pos Group menyiapkan award/penghargaan untuk sosok-sosok berpengaruh dan inspiratif di tanah air.

Mulai bidang pemerintahan (bupati/wali kota), pengusaha muda, serta dari bidang olahraga dan entertainment.

Mungkin, Jawa Pos Group bukan perusahaan media pertama yang memberikan penghargaan untuk sosok-sosok tersebut. Tapi, Jawa Pos Group mungkin yang pertama melakukannya dengan menggunakan input dari seluruh provinsi di Indonesia.

Keputusan pemberian award tidak dibuat sederhana dari kantor pusat di Jakarta, yang decision maker-nya mungkin hanya melihat, membaca, atau bahkan hanya mendengar tentang kiprah orang di daerah.

Mereka yang akan mendapatkan award di Fairmont Hotel, Jakarta, Jumat 22 Januari nanti, merupakan hasil masukan dan rembukan dari seluruh perusahaan Jawa Pos Group, dari Aceh sampai Papua.

Karena yang berpengaruh di satu daerah belum tentu inspiratif buat yang di daerah lain. Bahkan mungkin belum tentu disuka di daerah lain!

Dan yang sering mengkhawatirkan, orang hebat yang jauh dari pusat belum tentu terdengar kiprahnya sampai ke pusat. Karena yang di pusat belum tentu mau repot-repot terbang jauh untuk mengenal lebih baik orang yang tinggalnya jauh itu.

Asal kita sadar saja, terbang dari Jakarta ke Papua itu lebih jauh daripada dari Jakarta ke Hongkong!

Dan hanya Jawa Pos Group kelompok media di Indonesia yang punya jaringan mengakar sampai ke berbagai pelosok, dari Aceh sampai Papua.

Karena ini penghargaan pertama yang diberikan secara grup, dan dikerjakan gotong-royong secara grup (terima kasih teman-teman semua!), mungkin proses pemilihan, serta acaranya belumlah sempurna.

Tapi, semoga nanti yang menerima mendapatkan kebanggaan serta manfaatnya. Plus, semua yang lain ikut terinspirasi untuk berbuat, menggebrak, dan menghasilkan karya yang bermanfaat seperti para peraih penghargaan tersebut.

Yang pasti, kami sudah memastikan niat memberikan penghargaannya baik. Prosesnya sebaik mungkin. Dan penghargaannya tidak mengada-ada… (*)