Bahasa dan Nama Klub Sepak Bola

JawaPos.com – Di Indonesia, banyak klub sepak bola yang namanya dicampur dengan kata atau frasa bahasa Inggris. “Penyakit” menamai kesebelasan dengan bahasa asing itu juga melanda Malaysia.

Apa pentingnya menamai tim sepak bola dengan bahasa asing?

Sebelum membahas masalah itu, mari kita lihat nama-nama klub sepak bola di dua negara tersebut. Di Indonesia, kata dan frasa bahasa Inggris yang disematkan pada nama regu sepak bola adalah united dan football club (FC).

Frasa football club juga dipakai di Malaysia. Contohnya, Johor FC dan Public Bank FC. Negeri jiran tersebut juga menggunakan frasa football association (FA) seperti pada nama Kelantan FA dan Pahang FA.



Saya tidak tahu sejak kapan klub-klub sepak bola di Malaysia memakai bahasa Inggris. Yang jelas, Malaysia punya hubungan sejarah yang erat dengan Inggris karena negara itu merupakan anggota persemakmuran Inggris. Namun, hal tersebut tidak harus menjadi alasan atau pembenaran untuk menamai kesebelasan dengan bahasa Inggris. Sebab, Malaysia mempunyai bahasa Melayu Malaysia.

Bagaimana dengan Indonesia? Dulu regu-regu sepak bola di negeri ini menggunakan frasa persatuan sepak bola dan persatuan sepak bola Indonesia. Dua frasa itu disingkat menjadi singkatan dan akronim. Perhatikanlah nama-nama, antara lain, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, PS Arema, dan PS Semen Padang.

Entah mengapa, kemudian muncul klub dengan nama yang memakai frasa football club (Arema FC, Bhayangkara FC, Sriwijaya FC, Borneo FC, atau Semen Padang FC) dan kata united (Bali United, Madura United, Sidoarjo United, atau Cilegon United).

Kembali ke pertanyaan di atas, apa pentingnya menamai tim sepak bola dengan bahasa asing? Tidak ada! Memakai bahasa asing pada nama kesebelasan tidak meningkatkan prestasi dan tidak membuatnya mendunia.

Menggunakan bahasa asing pada nama kesebelasan merupakan ”penyakit” keinggris-inggrisan yang menular ke dalam dunia sepak bola di Indonesia. Perbuatan latah itu mungkin dilakukan untuk mengikuti nama kesebelasan besar di dunia seperti Manchester United FC dan Liverpool FC.

Memang, banyak klub sepak bola yang memakai singkatan FC. Namun, kepanjangan singkatan tersebut pada tiap klub sepak bola bukan hanya football club seperti dalam bahasa Inggris, tetapi sesuai dengan ejaan pada bahasa resmi di negara tiap-tiap klub. Contohnya, Fußball-Club Bayern München (Jerman), Fussball Club Basel (Swiss), dan Santos Futebol Clube (Brasil).

Pada beberapa negara, frasa football club disesuaikan bunyinya dengan bahasa negara masing-masing. Misalnya, Koninklijke Voetbalclub Mechelen (Belgia), Molde Fotballklubb (Norwegia), dan Real Madrid Club de Fútbol (Spanyol).

Klub sepak bola di Indonesia memiliki beberapa pilihan untuk menamai diri, antara lain persatuan sepak bola. Frasa itu bisa disingkat menjadi PS atau dibuat akronim perse seperti Persela Lamongan dan Persebaya Surabaya.

Frasa lainnya adalah persatuan sepak bola Indonesia. Frasa itu dapat disingkat menjadi PSI (seperti PSIS Semarang) atau diakronimkan menjadi persi (seperti Persija Jakarta). Pilihan lain adalah kesebelasan, klub sepak bola, regu sepak bola, dan tim sepak bola. Kalau ingin menggunakan football club, serap saja frasa itu sesuai dengan kaidah penyerapan kata asing ke dalam bahasa Indonesia, yakni klub futbal.

Frasa persatuan sepak bola yang dipakai PS Tira patut diapresiasi. Frasa itu tetap digunakan meski nama kesebelasan tersebut berganti: dari PS TNI menjadi PS Tira. Setelah PS Tira bergabung dengan Persikabo mulai tahun ini, namanya tidak lagi memakai frasa persatuan sepak bola: Tira Persikabo. Yang jelas, nama klub tersebut layak diacungi jempol karena tidak menggunakan kata atau frasa bahasa Inggris.

Memakai frasa bahasa Indonesia pada nama kesebelasan merupakan kesempatan bagi klub sepak bola untuk memperkenalkan bahasa negara kepada dunia. Betapa kuatnya nasionalisme apabila nasionalisme dalam olahraga bersatu dengan nasionalisme dalam bahasa pada tim sepak bola. (*)

*) Kolumnis bahasa, mahasiswa Pascasarjana Linguistik Universitas Andalas

Editor           : Ilham Safutra