JawaPos.com – Setelah berpidato di pemakaman Slobodan Milosevic di Pozarevac, Serbia, Peter Handke mendapat banyak kecaman dari berbagai pihak. Di berbagai wawancara dan pernyataan terbuka, dia tampak tak menyesali caranya bersikap terhadap kematian Milosevic, tersangka kejahatan perang yang dibenci banyak orang.

Karena sikap itu pula, dia mengembalikan hadiah sejumlah USD 63.000 dari Heinrich Heine Prize.

Dalam sebuah wawancara dengan New York Times pada 2006, Deborah Solomon yang mewawancarai Handke waktu itu menanyakan sikapnya yang menentang Guenter Grass dan Heinrich Boell yang menganggap novel atau umumnya karya sastra sebagai media kritik sosial. Kejadian yang dirujuk Solomon ialah ketika Handke menyerang elite sastra di Universitas Princeton dan mengejek kesusastraan Jerman sebagai sastra yang “impoten deskripsi”.

Handke baru saja berusia 24 tahun waktu itu. Tepatnya 1966, empat tahun sebelum novel The Goalie’s Anxiety at the Penalty Kick terbit dan membuatnya menjadi sastrawan yang diperhitungkan di Eropa.

Sikap Handke yang memandang bahasa sebagai sesuatu yang harus lepas dari persoalan-persoalan di luar bahasa itu sendiri ditentang banyak pihak. Dan, dia memang hidup dan memasang badan atas sikap-sikapnya yang sering dianggap kontroversial.

“Bahasa adalah bahasa dan bahasa bukan untuk beropini,” kata Handke, memperjelas sikapnya.

Lalu, untuk apa bahasa itu? Bagi Handke, bahasa diciptakan untuk menjadi bahasa. Menjadi bahasa di sebuah karya sastra yang bagus, tidak lebih.

Dari tiga paragraf sebelumnya, tergambar bahwa sikap Handke sebagai penulis dan manusia jelas berbeda. Sebagai manusia, dia memiliki sikap politik yang jelas. Juga, sebagai penulis, sikap itu tunduk di bawah kehendak bahasa.

Sikap tersebut mengingatkan saya kepada penyair sekaligus akademisi sastra Aslan Abidin. Yang dalam sajak-sajaknya tampak jelas memperlakukan bahasa sebagai bentuk pernyataan sikapnya. Bahasa melampaui bahasa -menjauh dari sikap Handke.

Pada buku kumpulan puisinya, Orkestra Pemakaman (KPG, 2018) -buku yang hampir terbit dengan judul Kemaluan dari Timur sepuluh tahun sebelumnya-, Aslan menggunakan kata kemaluan sebanyak 15 kali. Apakah itu kebetulan? Atau sekadar permainan bahasa seperti yang dimaksud Handke?

Bisa jadi ya, bisa jadi tidak. Namun, dalam puisi-puisinya tersebut jelas penggunaan kata kemaluan tidak terlepas dari sikap Aslan sebagai penyair yang tumbuh dan belajar pada peradaban Bugis.

Ada pesan klasik yang selalu disampaikan orang-orang Bugis kepada keturunannya yang selalu merantau. Pesan tersebut jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia akan berarti: Jangan berangkat sebelum membawa bekal “tiga ujung”. Yaitu, ujung lidah untuk urusan diplomasi, ujung badik untuk memperta­hankan diri, dan ujung kemaluan untuk berketurunan.

Selain itu, orang-orang Bugis mengenal istilah “besar kemaluannya” -kemaluan dalam hal ini merujuk langsung kepada kata siri- yang merupakan sebuah konsep tentang harga diri dalam masyarakat Bugis. Pada bagian itulah Aslan beranjak dan menentukan sikapnya secara politis terhadap peradaban Bugis melalui puisi, melalui bahasa.

Puisi-puisi Aslan menggunakan kemaluan bukan sekadar untuk merujuk alat kelamin. Lebih dari itu, kemaluan dia anggap sebagai kata yang tepat untuk mewakili konsep harga diri manusia -tentu dengan sudut pandang yang sangat Bugis. 

*) Penulis, Nomine Kategori Prosa dan Puisi Kusala Sastra Khatulistiwa 2018

Editor      : Ilham Safutra
Reporter : *, jpk