Bahasa Gubernur – DI’s Way

Narasinya begitu runtut. Logikanya jalan. Informasinya sarat. Banyak penulisan kosakatanya yang tepat.

Tidak ada satu pun kata asing yang dipakai. Asing luar negeri maupun daerah. Meski gelar master dan S-3-nya diraih di luar negeri. Amerika Serikat.

Sungguh membanggakan.

Betul-betul cinta Indonesia. Nasionalis Pancasilais. Negarawan.   



Tak kalah penting, tata bahasanya bagus sekali. Saya tidak tahu, apakah sebelum mengunggah tulisan di Instagram pada Sabtu (5/10), ia berembuk dengan ahlinya. Ialah Anies Baswedan. Mantan rektor dan menteri pendidikan. Gubernur DKI saat ini. Salah seorang selebritas (pesohor) Indonesia.   

Simaklah!

Menghadiri Upacara HUT TNI di Lanud Halim Perdana Kusuma. Sambil menyaksikan defile dan demonstrasi ketangguhan prajurit dan kekuatan alutsista, teringat kita atas perjalanan TNI.

Bermula dari rakyat yang membentuk laskar, hingga akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dan kini 74 Tahun usianya. Dirgahayu TNI!

Kemerdekaan dirintis dan diperjuangkan oleh nama-nama yang umumnya dikenal, termasuk anggota BPUPKI. Proklamasi dikumandangkan oleh orang yang kita semua kenal namanya: Bung Karno dan Bung Hatta.

Tapi kemerdekaan itu dipertahankan oleh anak muda yang tak terhitung jumlahnya dan hampir semua tidak tersohor namanya. Anak muda pemberani yang lahir dari rahim ibu pejuang dan keluarga ikhlas. Itulah generasi petarung, pejuang dan pemberani. Mereka itulah cikal bakal TNI.

Hari ini terus lahir para prajurit TNI generasi baru. Semua tetap jadi garda terdepan. Siap untuk bekerja dalam sunyi. Tugasnya besar dan sering tak terlihat.

Mereka menjaga kita semua. Dan, kita semua tahu beres. Saat mereka berpeluh, menjalani yang besar dan berisiko untuk negara, hampir semua kita tidak melihat.

Saat mereka bertugas jauh dari keluarga, jauh dari kenyamanan tapi dekat dengan risiko, hampir semua kita tidak dengar.

Di Hari TNI ini, izinkan kami mengucapkan terima kasih. Terima kasih pada para prajurit dan perwira yang telah memilih mengerjakan semua tugas-tugas sulit itu. Terima kasih pada keluarga prajurit dan perwira, yang telah mengikhlaskan anggota keluarganya jadi garda terdepan kita.

Semoga TNI makin maju, tetap profesional dan terus mengakar di tempat ia berasal: rakyat.

Dirgahayu TNI!

 

Walakin, ada sedikit catatan kecil yang agak mengganggu. Mungkin terlewat. Di antaranya berikut ini. Menurut hemat saya.

1. ”Menghadiri Upacara HUT TNI di Lanud Halim Perdana Kusuma.”

Huruf awal ”Upacara” tidak perlu ditulis kapital karena hanya istilah. Bukan nama diri.

Selain itu, sepertinya yang benar Lanud Halim Perdanakusuma (dirangkai), bukan Perdana Kusuma (dipisah). Itu baru nama diri. Tulislah sesuai aslinya di lapangan. Jangan diubah meski terasa tak biasa.

 

2. ”Dan kini 74 Tahun usianya.”

”Tahun” seharusnya “tahun”. Huruf awal tidak perlu ditulis kapital.

 

3. “Itulah generasi petarung, pejuang dan pemberani.”

Tanda koma (,) perlu dibubuhkan setelah kata “pejuang”. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.

 

4. “Dan, kita semua tahu beres.”

Kata “dan” berfungsi sebagai kata penghubung intrakalimat. Kata “dan” menghubungkan antara dua kata, frasa, klausa, dan kalimat yang memiliki makna setara. Jadi, sebaiknya jangan mengawali kalimat dengan kata “dan”.

Bagaimana kalau kita mengutip tulisan yang berasal dari bahasa Arab, khususnya Alquran? Yang diawali dengan kata “wa”, yang artinya “dan”? Jangan diubah. Biarkan saja. Terjemahan Alquran menjadi pengecualian. Kita tidak boleh mengubah isi Alquran, termasuk susunan kalimatnya. 

 

5. “Terima kasih pada para prajurit…” dan “Terima kasih pada keluarga prajurit dan perwira…”.

Kata “pada” sebaiknya diganti “kepada”. Sebab, “pada” biasanya dipakai untuk waktu: pada saat, pada musim, pada kala, pada hari ini, pada bulan Oktober.

”Kepada” merupakan kata depan untuk menandai tujuan orang. Contohnya, kepada Anda, kepada ibu, kepada prajurit, dan kepada keluarga.

Bapak Anies Baswedan mungkin hanya khilaf. Ahli bahasa –apalagi yang hanya setengah ahli seperti saya– pun sangat mungkin silap mata. Mohon maaf. Terima kasih. Demikian. (Yusuf M. Ridho)