Belajar Memanusiakan Manusia dari Aqua Dwipayana (1)

Mendapatkan banyak inspirasi dari Aqua Dwipayana, motivator kenamaan yang sudah teruji reputasinya. Berikut catatan berseri dari Irham Thoriq, wartawan Jawa Pos Radar Malang yang baru saja bertamu ke rumahnya. Kesan begitu mendalam dia rasakan setelah bertemu dengan pria peraih gelar doktor dari Universitas Padjajaran, Bandung ini.

Irham Thoriq, Wartawan Jawa Pos Radar Malang

Hari terakhir di 2017. Langit Yogyakarta masih petang ketika saya tiba di Stasiun Tugu. Kereta yang saya tumpangi telat beberapa menit dari jadwal. Tentu saja, orang yang menjemput saya terpaksa menunggu kurang lebih setengah jam. Masalahnya, si penjemput bukan orang sembarangan.

Dia adalah motivator nasional Aqua Dwipayana dan anak bungsunya Savero Karamiveta Dwipayana. Saya, istri, dan dua orang teman yang ikut dalam rombongan tentu saja terkejut yang menjemput adalah Pak Aqua dan anaknya langsung. Sebelumnya, saya tidak pernah bertemu dengan Pak Aqua.

Kami cuman sebatas kenal melalui percakapan whatsapp. Tapi, ketika saya menyampaikan rencana liburan di Jogjakarta dan ingin bertemu dengan beliau, Pak Aqua tiba-tiba menelepon.”Sudah dapat penginapan belum, kalau belum saya sediakan penginapan,” katanya di ujung telepon.

Dan benar saja, ketika tiba di Yogjakarta, saya sudah disediakan penginapan. Saat subuh berkumandang, kita tiba di penginapan yang tidak jauh dari rumah Pak Aqua. Tentu saya sedikit kikuk dengan kebaikan Pak Aqua; saya bukan siapa-siapa, dan diperlakukan seperti teman akrab yang sudah kenal lama.

Belakangan, saya kian takjub, karena saat menjemput saya Pak Aqua cuman tidur satu jam, karena banyaknya tamu yang bertandang ke rumahnya.”Ya sudah biasa seperti ini, santai aja,” kata Pak Aqua.



Rupanya, apa yang dilakukan Pak Aqua itu merupakan wujud dari caranya memanusiakan manusia. Dalam menjalin hubungan, Pak Aqua tidak pernah membeda-bedakan jabatan seseorang.”Allah saja tidak membeda-bedakan umatnya, kalau manusia membeda-bedakan umatnya, itu sudah melebihi Allah, itu kuwalat,” kata pak Aqua dalam sebuah wawancara di rumahnya.

Sikap memanusiakan manusia ini juga saya dapat dari Pak Aqua saat bertandang ke rumahnya. Kepada pembantunya yang menghidangkan minuman, Pak Aqua tak lupa bilang terima kasih. Saat kita makan malam, beberapa sopir juga diajak makan bersama.

Belakangan, seorang sopir Pak Aqua bilang kalau memang sikap Pak Aqua seperti itu.”Wong saya sopir, tapi diajak makan satu meja dengan anggota DPR sudah biasa,” kata sopir itu. Mungkin, dengan cara seperti itulah Pak Aqua ingin memanusiakan manusia.

Begitulah Pak Aqua yang sederhana dan bersahaja. Tidak membeda-membedakan manusia berdasarkan jabatan, harta, dan kekuasaannya. Karena sikap itulah, the power silaturahim yang dia gemakan, mendapatkan respons positif dari puluhan ribu orang.

Ini terbukti dari laris manisnya buku beliau tentang silaturahim, yakni laku 40 ribu eksemplar hanya dalam dua bulan. Hasil dari penjualan buku ini oleh Pak Aqua dibuat untuk memberangkatkan umrah gratis sebanyak 35 orang. Sikap Pak Aqua yang memanusiakan manusia layak kita tiru dan amalkan. Selamat mencoba.

Irham Thoriq, Wartawan Jawa Pos Radar Malang