Belajar Memanusiakan Manusia dari Aqua Dwipayana (2)

Wartawan muda dari Kota Malang. Kesannya terhadap Aqua Dwipayana yang mendalam, membuat dia menulis catatan pertemuan itu dengan gaya bertutur.

Irham Thoriq, Wartawan Jawa Pos Radar Malang

Aqua Dwipayana bukanlah ahli tasawuf. Tapi, dalam beberapa kesempatan ngobrol dengan Pak Aqua, sejatinya pak Aqua sudah mengamalkan ilmu tasawuf, sebuah ilmu tentang olah hati yang begitu populer di kalangan santri.

Selain beliau adalah sosok yang memanusiakan manusia, sebagaimana saya tulis dicatatan pertama, Pak Aqua adalah seorang yang rendah hati. Kita tahu, sikap rendah hati hanya bisa dilakukan oleh orang yang bersih hatinya.

Hati yang bersih inilah yang mengantarkan Pak Aqua sebagai pribadi yang terbuka, positif thinking, dan mudah bergaul. Dia bergaul dengan siapa aja, dan semua diperlakukan sama oleh Pak Aqua. Mulai dari pembantu, sopir, jenderal, menteri, dan lain-lain, semuanya dihormati secara sama oleh Pak Aqua.

Rupanya, hati yang bersih itu, disadari betul pentingnya oleh Pak Aqua. Dalam bukunya yang fenomenal yakni The Power of Silaturahim, bab pertama yang dibahas oleh Pak Aqua adalah kebersihan hati.

Beliau membuka bab pertamanya dengan sebuah hadis, intinya di badan manusia ini ada segumpal darah, jika segumpal darah itu baik maka akan baik orang itu, jika segumpal darah buruk, maka akan buruk orang itu. Segumpal darah itu adalah hati.



Karena hati yang bersih, Pak Aqua dalam menjalankan ilmu silaturahmi-nya dengan bersih pula. Yakni, silaturahmi yang tidak berdasarkan kepentingan.”Jadi, kalau kita bertemu dengan seseorang, pikirkan apa yang saya bisa bantu dari orang itu,” ucap Pak Aqua.”Jangan berpikir apa yang saya peroleh dari orang itu,” imbuhnya.

Silaturahmi tanpa kepentingan itu, sudah mengantarkan Pak Aqua sebagai sosok yang luas jaringannya. Setiap hari, Pak Aqua mengirim tulisan tentang aktivitasnya kepada sekitar lima ribu orang melalui whatsapp. Kira-kira, sebanyak itulah teman pak Aqua, atau mungkin lebih karena ada juga orang yang tidak pakai whatsapp.

Dalam kesempatan berbincang senin pagi (1/1) di rumah, Pak Aqua menyayangkan pola komunikasi mayoritas wartawan kepada narasumbernya selama ini. Yang disinggung profesi wartawan, karena kebetulan saya wartawan, pak Aqua mengawali karir sebagai wartawan dan waktu itu ada juga wartawan senior dari Surabaya yakni Bapak Yamin Ahmad.”Ini yang salah kaprah, wartawan berkomunikasi dengan narasumber saat ada perlunya saja, seperti ada perlunya cari berita,” imbuhnya.

Sedangkan, komunikasi-komunikasi kecil yang membuat akrab wartawan dengan narasumber sering disepelekan. Saat saya berada di rumahnya, beberapakali Pak Aqua menelepon temannya untuk mengucapkan selamat tahun baru 2018. Tampaknya, komunikasi-komunikasi kecil inilah yang membuat Pak Aqua mudah akrab dengan orang. Menurut saya, ini sebuah komunikasi efektif yang mungkin jarang diajarkan di bangku kuliah.

Selanjutnya, menurut Pak Aqua, dalam berkomunikasi kita tidak boleh hanya memikirkan jangka pendek.”Saya pernah bantu orang, mau dikasih uang. Saya tidak mau, karena kalau saya terima ya sudah sampai disitu saja pertemanan kita,” katanya.”Jadi, pikirkanlah jangka panjang tidak hanya jangka pendek,” pungkas doktor komunikasi dari Universitas Padjajaran ini.

Irham Thoriq, Wartawan Jawa Pos Radar Malang