Berbahasa Sehat Cermin Jiwa Sehat

JawaPos.com – Di pengujung 2018 ruang publik keindonesiaan kita dihadapkan pada suatu kondisi yang mengkhawatirkan. Salah satunya ditandai dengan hadirnya realitas berbahasa yang bersifat banal; tidak elok dan tidak pantas hadir dalam ruang pergaulan antar sesama anak bangsa. Disebut banal karena ia merepresentasikan suatu narasi kekerasan dan memproduksi kebencian satu sama lain.

Kalimat-kalimat tidak pantas disertai sumpah serapah begitu mudah ditumpahruahkan dalam ruang pergaulan kita. Kata-kata dengan konotasi buruk dan sinis mendominasi realitas berbahasa kita.

Tragisnya, kalimat tak pantas tersebut tidak saja dilontarkan untuk menista masyarakat biasa, tapi juga menyasar pejabat publik, tokoh agama, dan tokoh masyarakat lain. Tokoh-tokoh yang selayaknya dihormati dalam ruang publik pergaulan saat ini justru sering kali menjadi sasaran tembak kalimat-kalimat tidak pantas.

Perbedaan pilihan politik telah mencipta realitas berbahasa yang buruk. Hadirnya istilah cebong dan kampret menandai hadirnya relasi buruk tersebut. Dua istilah itu telah menjadi identitas pembeda satu sama lain. Kategorisasi cebong dan kampret menjelma sebagai kategorisasi yang bersifat hitam putih dan benar salah. Tidak heran, label-label buruk mudah disematkan kepada kubu yang berbeda; pembohong, pendusta, kafir, radikalis, intoleran, goblok, dan sebagainya. Jika yang satu mengonstruksikan diri sebagai pembela agama, yang satunya diposisikan sebagai penista agama.



Kehadiran istilah cebong dan kampret menjadikan ruang publik keindonesiaan kita nihil gagasan. Yang diproduksi, kalau bukan kebencian, ya penistaan. Kalau tidak menghadirkan hoax, ya fitnah. Bangsa ini seperti ke­hilangan narasi berbahasa yang baik dan santun. Tanpa narasi, bahasa kita kehilangan elan vital sebagai media kultural yang menyatukan. Dalam ruang pergaulan penuh kebencian, bahasa akan kehilangan fungsi estetisnya. Tanpa estetika, bahasa menjelma sebagai media yang merusak tata pergaulan kita.

Kondisi itu jelas mencemaskan dan mengkhawatirkan. Betapa tidak, bahasa (Indonesia) yang semula digunakan sebagai media kultural untuk menyatukan pelbagai suku bangsa saat ini justru digunakan sebagai media perusak. Realitas berbahasa kita menjadi bersifat kontraproduktif dengan cita-cita awal untuk menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Realitas berbahasa itu mencerminkan suatu kondisi laten betapa lemahnya relasi berbangsa kita. Atau, apakah itu cerminan manusia Indonesia yang sesungguhnya? Bukankah selama ini bahasa merupakan ungkapan ruang batin yang bersembunyi. Bagaimana gambaran suatu individu atau golongan sangat ditentukan dari bagaimana mereka memproduksi bahasa.

Sebagaimana dikatakan Gadamer, bahasa merupakan modus operandi dari cara kita berada di dunia dan merupakan wujud yang seakan-akan merepresentasikan dunia ini.

Karena itu, mudah dipahami bahwa kehadiran kata-kata sebagai label yang berkonotasi buruk merupakan bukti buruknya relasi sosial. Realitas berbahasa yang banal menunjukkan bahwa negeri ini sedang didera sebuah krisis kebudayaan yang akut yang menjadi penyebab luluh lantaknya kehidupan kebangsaan kita.

Hanya karena luka itu bersifat laten, banyak di antara kita tidak menganggapnya sebagai luka yang mengkhawatirkan bagi kesehatan tubuh berbangsa ini. Padahal, citra masyarakat Indonesia yang bermartabat dan sopan santun dapat rusak dengan terciptanya cebong dan kampret. Dua istilah yang kemudian melahirkan pemuja fanatik di satu sisi dan pembenci fanatik di sisi yang berbeda. Di antara pemuja fanatik dan pembenci fanatik tidak akan pernah ada komunikasi kondusif.

Kehadiran banalitas berbahasa itu berpotensi menggerogoti semangat multikulturalisme; sebagai sebuah kesadaran terhadap adanya perbedaan. Realitas itulah yang akhirnya kian menyublimasikan krisis kebudayaan kita yang telah kehilangan relasi-maknanya dalam setiap proses interaksi antarmasyarakat. Yang terlahir justru semakin terpolarisasikannya masyarakat dalam perasaan primordialismenya, etnisitasnya, dan pilihan politiknya (Santoso, 2016).

Karena itu, di pengujung 2018 ini refleksi ulang realitas berbahasa kita dalam ruang keindonesiaan harus segera dilakukan. Realitas berbahasa yang banal mencerminkan kondisi berbangsa kita. Bahasa menunjukkan bangsa. Pepatah sederhana itu telah menjadi bagian penting dalam meletakkan fungsi bahasa sebagai identitas sebuah bangsa. Bahasa merupakan penanda kehadiran suatu bangsa dalam ruang pergaulan dunia. Tiada bahasa, bangsa pun hilang kata Mohamad Yamin (1921).

Melalui bahasa, setiap bangsa bergaul satu sama lain sekaligus membangun kesepakatan-kesepakatan untuk hidup bersama dalam suatu ruang sosial yang bernama negara.

Bahasa (Indonesia) -meminjam istilah Henri Bergson- menjelmakan diri sebagai medium yang tanpa batas untuk memahami dan memperantarai hubungan antarmanusia Indonesia. Bahasa menjadi bersifat positif karena mengonstruksikan ruang pergaulan bersama; untuk mengenal satu sama lain.

Melalui realitas berbahasa, kualitas kepribadian warga bangsanya ditentukan. Kata Alfred Korzybski, Bapak General Semantic, hanya orang-orang yang berbahasa sehatlah yang bisa berjiwa sehat. Kebanyakan penyakit jiwa justru disebabkan kerancuan menggunakan bahasa. 

*) Dosen mata kuliah ilmu filsafat dan etika di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga 

Editor      : Ilham Safutra
Reporter : (*)