Big Data dan Partai Modern 4.0

TULISAN opini M. Hasanuddin Wahid dengan judul Masa Depan Partai Modern di Jawa Pos, 16 September 2019, menarik untuk didiskusikan. Sebagai Sekjen DPP PKB, Hasanuddin sangat pantas mengomandani penerapan revolusi industri 4.0 dan big data di partainya. ”Teknologi big data sebenarnya dapat dimanfaatkan secara masif oleh parpol. Termasuk, menganalisis sebuah isu di masyarakat. Melalui big data, parpol dapat merespons lebih cepat dan tepat.” Begitu perhatiannya pada teknologi.

Bahkan, sebagai penutup dari tulisannya, kalimatnya sangat mengentak. ”Kerja-kerja berbasis teknologi informasi itu akan membawa wajah parpol sebagai organisasi modern. Sebaliknya, bila tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, bisa jadi parpol lambat laun akan tergilas dan surut dari peredaran publik.”

Singkat kata, jika parpol tidak menggunakan perkembangan teknologi, akan ditinggalkan oleh pemilihnya. Lebih-lebih, dominasi generasi Z atau yang dikenal dengan milenial menjadi ”pasar besar” bagi partai politik ke depan. Kami dari akademisi dan praktisi di bidang teknologi informasi, terkhusus di bidang big data, tertarik untuk menyampaikan paparan dari sisi teknologinya.

Media Sosial



Media sosial memiliki pengaruh besar pada tingkat kepentingan publik di banyak bidang, termasuk politik. Kampanye Presiden AS Barack Obama pada 2008, misalnya, memanfaatkan kekuatan media sosial sebagai alat kampanye. Begitu juga presiden Amerika sekarang, Donald Trump.

Presiden Indonesia saat ini, Joko Widodo (Jokowi), pun demikian. Dia memanfaatkan media sosial sebagai ”amunisinya”. Tim sukses Jokowi, Obama, dan Trump berbagi kisah sukses serupa dalam hal ketiganya memperoleh posisi mereka setelah memanfaatkan kekuatan media sosial.

Penggunaan jaringan sosial dan media sosial dalam kampanye politik mengubah lanskap berbagi informasi dengan publik dan mengintensifkan pertempuran berbasis internet di antara para pendukung partai dan kandidat yang bersaing. Termasuk, Pilpres 2019 yang lalu adalah ”pertandingan ulang” dua pesaing, antara Jokowi dan Prabowo Subianto. Jokowi adalah presiden Indonesia saat ini yang populer, terutama di media, termasuk media sosial, jika dibandingkan dengan Prabowo.

Lihat saja pertarungan tagar di dunia media sosial saat itu, sangat keras dan terpolarisasi menjadi dua kutub. Pertarungan tagar yang sengit kala itu adalah #2019GantiPresiden dan #2019JokowiLagi. Penulis meneliti pertarungan tersebut dan membuat info grafis dari hasil pengolahan big data.

Meski tagar #2019GantiPresiden sempat mengalahkan #2019JokowiLagi di periode tertentu, kepopuleran tagar#jokowi mengalahkan #2019GantiPresiden dan #prabowo. Dari contoh itu, begitu penting media sosial sebagai media informasi dasar (raw data) bagi partai politik selain media online arus utama (mainstream).

Sementara itu, aplikasi media sosial yang paling banyak digunakan sekarang adalah WhatsApp, Telegram, Instagram, Twitter, dan Facebook. Karena itu, parpol harus ”pasang mata” yang tajam. Penulis sudah membuat beberapa aplikasi ”penyedot” data dari beberapa media sosial tersebut.

Sebut saja, misalnya, aspri WA (asisten pribadi di WhatsApp). Dengan aplikasi itu, jika dipakai dalam grup WhatsApp, admin tidak perlu merekap siapa saja yang aktif, seberapa banyak posting-an yang aktif di hari itu, sampai apa ”tema” atau ”isu” yang banyak dibicarakan.

Aplikasi lain dengan nama yang berbeda juga ada, tapi memiliki fungsi yang sama, ”menyedot” data dari pengguna media sosial. Selain sebagai ”alat bantu” bagi pengguna, bagi kami pengelola atau pemilik aplikasi itu bisa mengolah agar menjadi berbagai informasi yang diinginkan. Kami mengolahnya dengan teknologi big data.

Teknologi Big Data

Berbicara tentang big data, ada tiga keyword penting dan mendasar. Yaitu, volume, variety and velocity. Volume terkait dengan jumlah dan besarnya data. Variety itu tipe atau jenis data, misalnya teks, gambar, tabel, dan video. Velocity adalah kecepatan pemrosesan data sampai menghasilkan laporan yang diinginkan.

Big data adalah kata kunci yang digunakan untuk menggambarkan ledakan data yang mengelilingi setiap aspek kehidupan kita. Itu menandakan bahwa setiap tindakan manusia dapat diukur dan dicatat dalam bank data yang tumbuh dalam tingkat yang luar biasa (volume).

Dalam sektor bisnis, misalnya, analisis big data adalah proses melihat sejumlah besar set data yang mengandung berbagai tipe data (variety) dan mencoba untuk menguraikan dari pola yang tersembunyi (tidak terstruktur). Korelasi yang tidak diketahui, tren pasar terbaru, pilihan dan preferensi konsumen, serta informasi bisnis berharga lainnya.

Analisis itu memberikan pemasaran yang efektif, peluang pendapatan baru, layanan hubungan pelanggan, peningkatan efisiensi rantai nilai, keunggulan kompetitif berkelanjutan jika dibandingkan dengan organisasi saingan, dan banyak manfaat lain.

Dengan perangkat seluler, publik dan komunitas menghasilkan sejumlah besar data di mana saja dan kapan saja. Diskusi baru-baru ini tentang big data, komputasi awan, jejaring sosial, dan teknologi terkait berkontribusi pada kecenderungan untuk memanfaatkan Internet of Things (IoT), termasuk dalam kampanye politik untuk tujuan pemilihan umum yang berlaku.

Big data menawarkan kemampuan pengolahan lebih cepat (velocity). Hasilnya punya daya kontrol yang lebih besar terhadap arus informasi dalam mengarahkan opini publik di ruang publik. Pemikiran baru big data dan agenda politik terkait dengan analisis empiris dan desain eksperimental. Pendekatan itu dapat dirancang untuk memahami transformasi dalam cara kita mempelajari fenomena ilmu sosial, terutama dalam ilmu politik.

Itu akan memungkinkan para praktisi dan peneliti untuk mencapai pengamatan yang bermakna atas fenomena kampanye politik. Kami percaya, analisis big data akan digunakan secara luas dalam banyak kampanye politik di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Model itu diturunkan berdasar literatur kontemporer tentang big data, jejaring sosial, dan kampanye politik. Model tersebut diharapkan dapat mengisi celah dalam mengidentifikasi strategi pemanfaatan big data untuk tujuan kampanye. (*)


*) Firman Arifin, Dosen PENS, kandidat doktor bidang big data di Elektro ITS