Boeing Harus Terbuka soal Sistem Antianjlok

JawaPos.com – Selama saya menerbangkan B737 Max, rasanya enak-enak saja. Tidak ada masalah. Selain irit bahan bakar, setting-nya mudah, kendali kontrol pesawat ini enak buat manuver. Cuma, setelah kejadian JT 610, mungkin banyak orang agak ketakutan. Istilahnya sudah takut duluan.

Padahal, belum tahu rasanya.

Di lingkungan Lion Air Group sendiri, ada memang beberapa pilot yang sudah malas terbang dengan Max. Tapi, bukan gara-gara takut, lebih gara-gara jadwal training agak kelamaan. Di Lion, kebanyakan yang sudah memegang type-rating B737 Next Generation (800 dan 900ER) cukup melakoni tes computer based training (CBT), lalu sekali tes terbang dengan instruktur.

Nah, saya sendiri dari tes CBT sampai dapat type-rating harus nunggu setahun. Alasan lain barangkali karena Max ini lebih efisien, jadi sering digunakan untuk rute panjang. Ya itu yang bikin males. Perginya jauh. Jadi, di luar kota lebih lama. Termasuk saya ini juga sudah tua. Jadi agak males, hehe.



Ya ada juga pilot-pilot yang memilih tidak menerbangkan Max daripada cari penyakit, gitu kata mereka. Tapi, jumlahnya tidak banyak. Padahal, pesawat ini enak sekali. Dari dulu Boeing itu produsen yang terkenal bikin pesawat dengan kendali manual yang lebih dominan. Seri B737 ini kan diproduksi sudah lama sekali, sejak 60-an. Beda dengan Airbus A320, misalnya, yang lebih baru dan langsung pakai full otomatisasi (fly by wire).

Nah, mulai seri 600, 700, sampai 900ER, Boeing pakai otomatisasi dalam kontrol penerbangan. Tapi, ndak sebanyak Airbus. Di seri Max ini, kontrol penerbangan otomatis sudah sangat dominan. Hampir mirip Airbus. Jadi, sudah sangat advanced sekali.

Makanya, kalau landing enak sekali. Meski hujan deras, tinggal setting sesuai kondisi. Pendaratan pakai ILS (instrument landing system). Begitu touchdown, breaking system bekerja otomatis, spoiler naik sendiri. Mesin CFM Leap 1B punya Max lebih mudah deselerasinya. Tinggal dimatikan saja power-nya, udah dibiarkan menggelinding. Meski hujan deras, pengereman tetap bagus.

Pesawat ini laris sekali saat diluncurkan pada 2016 lalu. Peminatnya banyak sekali. Boeing kayak jual kacang. Cuman ya apes saja ada kejadian JT 610 kemarin, penjualan mereka jadi rada hancur. Sebelum insiden 610, Max favorit sekali. Selain irit bahan bakar, tidak perlu biaya training pilot untuk tipe baru. Para pemegang type rating B737 tinggal upgrade saja.

Barangkali memang ada kekhawatiran soal sistem otomatisasi kontrol penerbangan. Mungkin relatif langkah baru bagi Boeing untuk mengadaptasi dari manual ke otomatis. Terus terang, kita tidak tahu bahwa ada sistem anti stall maneuvering characteristics augmentation system (MCAS) itu sampai kejadian 610 kemarin. Makanya, Pak CEO kami minta untuk stop dulu delivery Max 8.

Tapi, sebenarnya pilot-pilot sudah diajari bagaimana cara mengatasi kondisi ketika kontrol penerbangan tidak akurat. Checklist (daftar tindakan yang harus diambil)-nya sudah ada. Selama semua sesuai SOP, ya pasti aman-aman saja. Makanya, sekarang training untuk meng-counter hal-hal seperti itu sedang digalakkan. Jadi ya semua kembali ke pengalaman pilot. Experience itu sangat penting.

Saya sendiri tetap percaya bahwa pesawat-pesawat bikinan Boeing tetap menomorsatukan pilot dalam kendali penerbangan. Komputer hanya membantu. Jadi, antara memperhatikan data instrumen dan attitude sebenarnya dari pesawat itu penting. Pilot yang baik paham kondisi pesawatnya. Bahkan disetir aja kerasa. Dengerin suaranya saja sudah ketahuan kalau ada masalah. Jadi, sekali lagi, kembali ke experience pilot.

Tapi, menurut saya, Boeing ya harus terbuka soal sistem MCAS ini. Pemerintah juga menurut saya sudah tepat untuk grounded semua pesawat Max. Tapi, setelah inspeksi dilakukan dan kalau itu tidak ada masalah, seharusnya ya diizinkan terbang lagi. 

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (*/c17/oni)