Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad

Pernahkah kita membayangkan, bagaimana nanti kondisi di Kota Malang, ketika sudah sangat sangat padat jumlah penduduknya, sehingga menyebabkan banyaknya persoalan yang saling kait mengait dan tak kunjung ada solusinya? Itulah ketika ledakan penduduk terjadi. Dan saat itulah, bisa dikatakan, ”bom waktu” sedang meledak.

Kapan terjadinya? Masih lamakah? Atau akan segera terjadi? Paul R. Ehrlich dalam bukunya The Population Bomb menulis tentang tiga ciri ledakan penduduk yang destruktif. Yakni: Pertama, sudah terlalu banyak manusia di bumi. Kedua, keadaan bahan makanan sangat terbatas. Ketiga, lingkungan rusak karena peningkatan populasi.

Mengacu tiga ciri tersebut, jika dijadikan cermin untuk melihat bagaimana kondisi di Kota Malang, mungkin di antara kita pasti berbeda pendapat. Misalnya, ketika ditanya: Apakah di Kota Malang ini sudah masuk kategori terlalu banyak penduduk? Maka, mungkin akan muncul jawaban bahwa jumlah penduduk di Kota Malang masih belum terlalu banyak. Ini jika mengacu pada data penduduk yang tercatat, yang jumlah totalnya sekitar 915 ribu jiwa. Bagaimana dengan penduduk yang tidak tercatat? Mereka ini bisa mahasiswa, atau pekerja yang lingkup pekerjaannya berada di Kota Malang.

Berdasarkan data Pemkot Malang, di Kota Malang sedikitnya terdapat 31 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Saya pernah menghitung berdasarkan data jumlah mahasiswa yang diperoleh dari setiap perguruan tinggi tersebut. Dari lima kampus saja (Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, UIN Malik Ibrahim, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Universitas Islam Malang) jumlah total mahasiswanya sekitar 183 ribu. Ini belum termasuk jumlah mahasiswa dari 26 kampus lainnya. Belum termasuk mereka yang bekerja di Kota Malang. Belum termasuk para sarjana dari luar Kota Malang yang tak mau balik ke kampung halamannya, karena ingin mencari pekerjaan di Kota Malang. Jika semua itu dihitung, bisa jadi benar, jika ada yang memperkirakan jumlah penduduk di Kota Malang saat ini sudah mencapai 2 juta orang lebih.

Untuk sebuah kawasan Kota Malang yang luasnya sekitar 252 kilometer persegi, dihuni oleh sekitar 2 juta orang, maka berarti setiap kilometer persegi dihuni oleh sekitar hampir delapan ribu orang. Dengan komposisi ini, menurut saya, sudah begitu kemriyek. Semrawut. Kita bisa melihat setiap pagi pada hari-hari efektif di ruas-ruas jalan utama di Kota Malang. Betapa kemriyeknya, dan betapa semrawutnya campur aduk antara mobil, sepeda motor, angkutan kota, dan pejalan kaki. Antara anak sekolah, pekerja kantoran, dan mahasiswa. Jumlah penduduknya terus bertambah setiap tahun, jumlah kendaraan terus bertambah setiap tahun, tapi kondisi jalannya tidak berubah. Malah ada yang ruas jalannya menyempit, karena pemerintah kota membiarkan bangunan-bangunan di pinggir jalan, menjadikan jalan di depan bangunannya sebagai tempat parkir.

Nah, bagaimana Anda melihat kondisi seperti ini? Apakah ”bom waktu” berupa ledakan penduduk di Kota Malang sudah meledak? Atau, tak lama lagi akan meledak? Atau, masih lama meledaknya?

Tanpa bermaksud menggurui, Pemkot Malang menurut saya sudah harus semakin serius menyikapi persoalan terkait dengan ledakan penduduk ini. Jangan sampai terlambat. Pemkot Malang, menurut saya harus membuat regulasi yang sifatnya mengontrol secara geografis maupun demografis keberadaan penduduk yang tidak tercatat (termasuk para mahasiswa). Harus duduk bersama, antara Pemkot Malang dengan para pimpinan perguruan tinggi di Kota Malang.

Dari sisi perguruan tinggi, harus ada kebijakan untuk membatasi atau mengurangi jumlah mahasiswa barunya. Terutama perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang selama ini menjadi favorit.

Universitas Brawijaya (UB) di bawah kepemimpinan Rektor Prof Dr Mohammad Bisri sudah melakukannya. Yakni, setiap tahun mengurangi jumlah mahasiswa barunya. Tahun 2013 jumlah mahasiswa baru UB masih 16 ribu orang. Tapi, tahun 2017/2018 ini, sudah jauh berkurang menjadi 10 ribu orang.

Selanjutnya, harus dibicarakan secara bersama-sama antara tiga kepala daerah di Malang Raya ini, untuk menjadikan Kabupaten Malang dan Kota Batu sebagai wilayah penyangga dalam bidang pendidikan. Artinya, di Kabupaten Malang harus didorong agar berdiri lebih banyak perguruan tinggi, supaya mahasiswa dari luar Malang Raya tidak hanya terpusat ke Kota Malang saja.

Saat ini, di Kabupaten Malang sudah mulai berdiri universitas yang keberadaannya bisa menjadi alternatif bagi mahasiswa agar tidak melulu menempuh kuliah di Kota Malang saja. Salah satunya adalah Universitas Islam Raden Rahmat di Kepanjen, Kabupaten Malang. Kampus ini meski tergolong masih baru, tapi saat ini sudah mempunyai areal seluas sekitar 7 hektare yang akan dijadikan sebagai kampus terpadu.

Walakhir, mari kita berdoa setelah terlebih dahulu berharap, semoga ”bom waktu” bernama ledakan penduduk itu tidak jadi meledak. Atau, kalaupun meledak, kita berharap tidak terlalu besar daya ledaknya, dan kita bisa mengantisipasi ledakan itu. Salam Hope 313!!! (Instagram: kum_jp)