Bonus Demografi dan Bias Gender yang (masih) Hakiki

Kaitan diantara usia produktif dan perekonomian, tidak lain bahwa masyarakat berusia produktiflah yang akan membawa merealisasikan prediksi itu. Pertanyaannya, mampukah? Sedangkan apakah yang bisa dilakukan mereka yang disebut sebagai kaum produktif sejak sekarang? Apakah ada faktor penghambat yang bisa diminimalisir mulai dari sekarang?

Kaum produktif, yang tidak lain berasal dari golongan generasi milenial (lahir 1980-2000) dan generasi Z (lahir 2000-2014), adalah mereka yang akan bersinggungan langsung dengan masa bonus demografi tersebut. Seperti kami, yang juga bagian dari mereka.

Kami adalah dua di antara sebagian kecil dari mereka yang berkesempatan mengenyam pendidikan di luar negeri. Tentunya, apa yang kami lakukan menjadi salah satu persiapan dalam memaksimalkan potensi bonus demografi kelak. Namun, dengan belajar di bangku pendidikan formal saja tidak pernah cukup.

Sebab, ada yang bisa dilakukan bersama-sama oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, dan kedua generasi (milenial dan Z) secara khusus. Misalnya, pendidikan pengarusutamaan gender yeng perlu ditanamkan sesegera mungkin.



Entah disadari atau tidak, capaian tingkat pendidikan perempuan Indonesia memang terus meningkat. Berdasarkan sensus nasional 2015, diketahui capaian antara di pedesaan dan perkotaan mencapai 7,92 persen. Perlu diketahui, jumlah partisipasi capaian pendidikan antara perempuan dan laki-laki tidak terpaut jauh.

Sejak 2009 hingga 2015, selisih yang paling tinggi hanya 1,4 persen dan itu terjadi pada 2010. Membuktikan kesetaraan di bidang pendidikan antara laki-laki dan perempuan hampir terjadi di kota-kota besar di Indonesia.

Fenomena naiknya partisipasi perempuan dalam dunia pendidikan sangat menarik bila dikaitkan dengan bonus demografi yang akan dialami Indonesia. Mengingat, di negara berkembang seperti Indonesia, kaum perempuan masih terbelenggu oleh budaya patriarki dan sederet stigma sosial yang berkaitan dengan gender.

Di ranah global, diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan masih mewarnai peristiwa sepanjang 2017. Data Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyebutkan tidak ada kemajuan berarti dalam hal kesempatan kerja untuk perempuan sejak 20 tahun terakhir.

Partisipasi perempuan di dunia kerja jauh lebih rendah dibanding laki-laki. Perempuan masih menghadapi diskriminasi regulasi perusahaan misalnya, pendapatan yang lebih rendah, minimnya kesempatan menduduki posisi strategis, kebijakan diskriminatif untuk ibu hamil, serta kekerasan seksual di tempat kerja.

Bagaimana kondisi di Indonesia? Tidak bisa dimungkiri mulai bermunculan perempuan milenial dan generasi Z yang sukses mengibarkan kariernya. Sebut saja seperti Peggy Hartanto, 27, Helga Angelina Tjahjadi, 25, Mesty Ariotedjo, 26, dan Leonika Sari Njoto Boedioetomo, 22. Mereka termasuk dalam jajaran perempuan muda sukses di bawah usia 30 tahun versi majalah Forbes. Akan tetapi, eksistensi mereka belum merepresentasikan perempuan milenial pada umumnya.

Peggy Hartanto dan kawan-kawannya diatas hanyalah yang ada dipermukaan. Sedangkan permasalah gender di Indonesia masih laten, masih menjadi candu bagi para pemilik kasta tertinggi untuk merenggut hak sang liyan yang di sini adalah perempuan sebagai buruh dengan kewajiban yang lebih besar daripada hak yang diperoleh.

Sebagian perempuan Indonesia, masih terjerat stigma sosial yang melekat sejak lahir.

Salah satunya tertuang dalam anekdot Jawa mengenai definisi perempuan baik, yakni mereka yang memenuhi kriteria 3M (macak, masak, manak). Secara tidak langsung, 3M merepresi alam bawah sadar perempuan untuk lebih berkorban di ranah domestik.

Kami lebih sepakat menggunakan kata ’berkorban’ karena bila sekarang perempuan dituntut bekerja untuk membantu memenuhi kehidupan rumah tangga, maka harusnya ada pembagian peran yang adil. Bahwa bukan selalu perempuan yang memasak, bukan selalu laki-laki yang memperbaiki kursi yang rusak. Bila porsi perempuan tetap mendominasi dalam ranah domestik, maka seyogyanya lebih pantas disebut sebagai pengobanan, bukan lagi kerjasama.

Di sisi lain, perlakuan mayoritas lembaga dalam Indonesia sendiri belum merujuk aturan yang ramah gender. Belum semua perusahaan menjalankan aturan maternity leave alias cuti hamil sesuai UU Ketenagakerjaan. Pada pasal 82 UU 13/2013 tersebut berbunyi, pekerja atau buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.

Negara, secara etika maupun yuridis harus mampu mengontrol aturan tersebut. Demi kualitas hidup perempuan yang juga menjadi aset bangsa. Seperti sebuah quotes, didiklah seorang perempuan, maka kau telah mendidik satu generasi.

Richard Sweeney (2006) dalam Millenial Behaviors and Demographics menyebutkan salah satu karakteristik milenial adalah Collaboration and Intelligence. Dalam publikasi lainnya dijelaskan pula bahwa Milenial maupun generasi Z menganggap diri mereka sebagai generasi di atas rata-rata (above average).

Implikasinya, mereka meyakini pemikiran yang mereka anggap sebagai terdepan (advance). Karena itu dibutuhkan karakter collaboration dari generasi milenial bisa diartikan sebagai kerjasama tim yang baik. Harapannya, baik para milenial maupun generasi Z bisa memahami pentingnya pendidikan pengarustamaan gender sedini mungkin.

Sebagai pemimpin di masa yang akan datang, generasi Milenial dan Z selayaknya mampu mendobrak, atau setidaknya meminimalisir budaya patriarki. Kerja sama antara generasi yang sadar gender akan mengubah pola patriarki menjadi kesetaraan yang hakiki.

Ditulis oleh: 

Dinda Lisna Amilia

MA Candidate on Mass Communication and Journalism

University of Mysore, India.

Fikri Angga Reksa

MSc Candidate on Geography of Environmental Risks and Human Security

United Nation University (UNU-EHS) and University of Bonn, Jerman

untuk JawaPos.com


(dim/JPC)