Boon Pring Andeman, Seandainya… – Radar Malang Online

Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad

Di atas lahan seluas 36 hektare lebih itu, hampir semua sudut dipenuhi dengan tanaman bambu. Menjulang tinggi-tinggi. Berjalan-jalan di lokasi itu, tidak terasa panas. Teduh. Meskipun mentari bersinar sedang terik-teriknya.

Di tempat itu ada telaga. Luasnya kira-kira 6.000 meter persegi. Bersih. Airnya jernih. Berada di pinggiran telaga itu, menyebar pandangan ke semua arah telaga, sambil menikmati semilir angin, terasa nyaman.

Konon, di dalam telaga itu tinggal seekor naga raksasa. Kepalanya ada di bagian ujung telaga, dan ekornya di bagian ujung lain telaga. Ini menurut keyakinan warga setempat, yang ceritanya disampaikan secara turun-temurun. Bisa jadi, gara-gara ada keyakinan seperti itu, tak ada warga yang berani membuat kotor telaga tersebut. Warga di sana menjaga keberadaan telaga itu. Ya kebersihannya. Ya ketersediaan airnya.

Tak jauh dari telaga, ada sumber air yang cukup deras. Debitnya mencapai 500 liter per detik. Sumber air ini menarik. Ketika musim kemarau, debit airnya malah melimpah. Membesar. Tapi ketika musim hujan, malah berkurang. Mungkin, ini karena efek dari keberadaan tanaman bambu yang ada di sana. Karena bambu adalah jenis tanaman yang cukup kuat menyimpan air dalam tanah.



Tempat yang banyak bambunya itu, tempat yang ada telaganya itu, dan tempat yang sumber airnya melimpah itu, adalah Boon Pring, Andeman, terletak di Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Dua tahun tidak ke sana, tempat itu kini sudah berubah menjadi objek wisata khas. Disebut khas, karena objek yang ditawarkan memang khas: Perkebunan bambu. Makanya disebut Boon Pring. Saya rasa, di Malang Raya tidak ada tempat yang luasnya mencapai 36 hektare lebih, dan dipenuhi dengan bambu, selain di Boon Pring itu. Apalagi setelah diteliti, di sana ada sedikitnya 64 spesies bambu.

Yang juga membuat objek itu semakin khas, karena di antara perkebunan bambu itu ada telaganya. Dan yang juga bikin semakin ”khas” objek wisata itu dikelola oleh desa, melalui BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). Kabarnya, dari hasil mengelola tempat wisata tersebut, labanya sudah mencapai Rp 1 miliar.

Kamis lalu (12/10), saya bersama Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Bapak Dr Fauzan dan Pemimpin Wilayah BNI Malang Ibu Yessy Kurnia mendatangi Boon Pring. Kami bertiga, sepakat untuk membangun PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro), memanfaatkan sumber air yang deras tadi, yang debitnya mencapai 500 liter per detik.

Kami punya pertimbangan, sayang, jika debit air yang melimpah itu tidak dimanfaatkan untuk listrik. Apalagi, ternyata, objek wisata yang khas bernama Boon Pring itu, jika malam hari peteng dedet alias gelap gulita. Ini karena belum ada penerangan yang memadai di sana. Makanya, kami berpikir, mengapa tidak dimanfaatkan saja sumber air yang deras itu untuk listrik. Sedangkan listriknya bisa dimanfaatkan untuk menerangi objek wisata Boon Pring di malam hari.

Dengan debit 500 liter per detik, sudah dihitung oleh tim ahli PLTMH UMM (sudah terbukti sukses membuat PLTMH di kampusnya), diperkirakan bisa menghasilkan listrik hingga 14 ribu kWh. Jika setiap rumah tangga dialiri 500 kWh, maka bisa dipakai oleh 28 rumah tangga.

”Kebetulan, ada satu kampung di sini yang masih sangat kekurangan listrik,” kata Muhammad Subur, Kepala Desa (Kades) Sanankerto yang hari itu menjadi ”guide” bagi kami untuk berkeliling di areal Boon Pring.

Jika diibaratkan sebagai produk, objek wisata Boon Pring punya bahan baku yang unggul. Istimewa. Hanya saja, untuk dijadikan sebuah objek wisata yang lebih berkelas, dan lebih bercita rasa tinggi, masih butuh sentuhan selanjutnya. Ya kemasannya. Ya penataannya. Ya pemasarannya. Mungkin juga, ya permodalannya.

Di Surabaya sudah ada Hutan Bambu di Keputih. Tapi, di sana itu hutan bambunya buatan. Dulu adalah bekas lahan untuk pembuangan akhir sampah. Dari sisi luas dan koleksi tanaman bambunya, hutan bambu di Surabaya nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Boon Pring. Tapi dari sisi popularitasnya, Boon Pring menurut saya masih harus digencarkan lagi promosinya.

Pak Kades Subur bermimpi, Boon Pring bisa menyamai Hutan Bambu yang ada di Jepang. Tepatnya Hutan Bambu Sagano di Arashiyama, Kyoto.

Menurut saya, mimpi Pak Kades itu bisa menjadi kenyataan. Asal, Boon Pring lebih ditata lagi. Lebih dipermak lagi. Dipermak penampilannya dan dipermak kemasannya. Dan lebih digencarkan lagi promosinya.
Kelak jika PLTMH benar-benar dibikin di sana, dan benar-benar sudah jadi dan bisa dimanfaatkan, Boon Pring mungkin akan terlihat lebih indah pemandangannya bila disaksikan dan dinikmati pada malam hari. Bagaimana menurut Anda? Salam Hope 313!!! (Instagram: kum_jp)