Catatan Akhir Pekan 9 November 2018

Pahlawan

Mengapa setiap tahun selalu diperingati Hari Pahlawan?

Bung Karno pernah mengatakan: “Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Dan setiap tahun, Indonesia selalu mengukuhkan gelar pahlawan kepada sosok-sosok yang dianggap berjasa bagi negeri ini. Dan hingga kini, sudah ada seratus lebih nama-nama pahlawan di negeri ini yang sudah dikukuhkan negara. Apakah cara ini sudah cukup sebagai ukuran, bahwa bangsa kita sudah sangat menghargai jasa-jasa para pahlawannya?

Jika kita memang dianggap sudah sangat cukup menghargai jasa-jasa para pahlawan, apakah itu berarti bangsa kita telah menjadi bangsa yang besar?  Sudahkah Anda  merasa bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar?

Pertanyaan-pertanyaan di atas, kelihatannya mudah. Tapi, coba lah untuk menjawab satu per satu dari pertanyaan itu.



Mulai dari pertanyaan pertama: Mengapa setiap tahun selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan?

Hari pahlawan, yang jatuh pada hari ini (10 Nopember), merujuk pada pertempuran heroik 10 Nopember 1945 di Surabaya.  Yakni antara para pejuang tanah air, khususnya Arek-Arek Suroboyo, melawan pasukan sekutu yang dipimpin Inggris. Pada peristiwa itu, ada nilai-nilai yang patut menjadi renungan dan teladan.  Pertama, ada nilai keberanian.

Para pejuang itu, tak pernah berpikir panjang dalam berjuang melawan penjajah. Yang ada dalam benak mereka hanyalah nilai-nilai perjuangan adiluhung yakni: Merdeka atau mati.  Atau: Hidup mulia atau mati syahid. Karena itu, meski hanya berbekal senjata seadanya, mereka berani melawan tentara sekutu yang lebih canggih senjatanya.

Kedua, nilai keikhlasan. Para pejuang itu, berjuang tanpa pamrih. Mereka hanya ingin, negeri ini merdeka. Kalau pun bukan mereka yang menikmati, mereka berharap, anak-cucunya yang akan menikmati kemerdekaan.

Jadi, seorang pahlawan itu sesungguhnya melandaskan perjuangannya hanya pada dua hal: keberanian dan keikhlasan. Maka, seorang pahlawan itu harus berani. Dan seorang pahlawan itu harus ikhlas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran.

Ralph Waldo Emerson, penyair dan filsuf dari Amerika Serikat (1803 – 1882) pernah mengatakan: “A Hero is no braver than an ordinary man. But he is brave five minutes longer,”  (Pahlawan itu tidak lebih berani dari orang biasa. Dia cuma berani lima menit lebih lama).

Dengan dua kriteria tadi (berani dan ikhlas), maka pahlawan akan selalu ada hingga akhir zaman. Siapa di antara kita yang berani membuat perubahan, dan perubahan itu bermanfaat bagi orang lain, dan dia ikhlas melakukannya. Dia lah pahlawan.

Lantas, apa hubungannya, antara “menghargai jasa pahlawan” dengan “kebesaran sebuah bangsa” seperti yang dimaksud Bung Karno?

Ketika sebuah bangsa menghargai jasa para pahlawannya,  maka tak cukup hanya dengan memberi dan mengukuhkan gelar pahlawan saja. Tapi, bangsa itu harus mampu menginternalisasikan nilai-nilai kepahlawanan yakni keberanian dan keikhlasan tadi untuk diejawantahkan dalam praktek-praktek bernegara. Negara harus berani dalam membuat kebijakan. Harus berani dalam membuat terobosan, untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya. Negara juga harus berani membuat keputusan, kalau perlu harus ekstrem, dalam melawan penyakit-penyakit kronis pada masyarakat. Yakni: korupsi. Negara harus berani menindak orang-orang yang korup, tanpa pandang bulu.

Selanjutnya, nilai kepahlawanan yang harus diinternalisasikan dan diejawantahkan oleh negara adalah  “keikhlasan”. Para penyelenggara negara harus ikhlas dalam menjalankan negara ini. Seperti ikhlasnya para pahlawan kita. Ikhlas berarti, tidak ada kepentingan lain dalam memimpin dan menjalankan negara ini, kecuali kepentingan untuk kemajuan, kemaslahatan dan kesejahteraan seluruh Rakyat Indonesia. Ketika para pemimpin negara ini kelihatan sekali bahwa mereka lebih mementingkan kepentingan golongan atau kepentingan partai politik yang mendukungnya, maka mari kita sepakati untuk menyebut mereka sebagai pecundang.  Mereka hanya pecundang, berbaju pahlawan. Mereka hanya pecundang, dengan seakan-akan tampil sebagai pahlawan.

Nah, semoga Anda sudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Apakah bangsa kita sudah cukup layak disebut sebagai bangsa yang besar? Sambil menjawab pertanyaan ini, coba lah bayangkan wajah para pemimpin kita. Coba lah bayangkan wajah para politisi kita yang selalu menghiasi surat kabar, televisi, maupun di media-media online? Apakah mereka itu sudah layak disebut sebagai pahlawan, atau…… (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)