CCTV – Radar Malang Online

Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad

Ketika bertugas di Afrika Selatan saat meliput Piala Dunia FIFA 2010, saya sempat berkeliling ke sejumlah kota di sana. Mulai dari Johannesburg, Pretoria, Durban, Rustenburg, hingga ke Cape Town.

Saat itu saya memperhatikan tentang penggunaan CCTV yang dipasang di jalan-jalan protokol kota-kota besar di Afrika Selatan itu untuk memantau lalu lintas.

Mengapa ini yang saya amati? Saat itu, Afrika Selatan masih dianggap sebagai negara berkembang. Belum negara maju. Tapi, mereka berusaha menerapkan aturan seperti yang sudah diterapkan negara maju. Contohnya, ya penggunaan CCTV tadi.

Di Afrika Selatan, melalui CCTV, lalu lintas diawasi. Termasuk mengawasi jika ada mobil atau orang yang melanggar lalu lintas. Begitu ada yang melanggar, maka pelanggaran itu akan otomatis terpotret melalui kamera CCTV yang terpasang.



Selanjutnya, si pelanggar lalu lintas akan dikirimi surat pelanggarannya, termasuk bukti foto yang terpotret melalui kamera CCTV tadi. Pada foto tersebut jelas terlihat mobil yang melanggar, termasuk pelat nomornya sekalian.

Di surat yang diantar ke rumah itu ada penjelasan pelanggarannya apa, dan harus membayar denda berapa. Jika surat pelanggaran sudah diterima, maka harus segera diselesaikan. Untuk pembayaran dendanya bisa dilakukan di counter-counter yang buka hingga malam hari di supermarket atau minimarket yang ditunjuk. Jika tidak diselesaikan, maka si pelanggar akan mengalami kesulitan jika mengurus SIM, KTP, atau dokumen lainnya.

Di Indonesia, kota yang menerapkan penggunaan CCTV untuk tertib lalu lintas adalah Surabaya. Mulai 1 September lalu di Kota Pahlawan itu sudah mulai diberlakukan pemantauan tertib lalu lintas dengan memanfaatkan CCTV. Sejumlah kamera CCTV pun sudah terpasang di banyak titik di jalan-jalan protokol.

Program ini merupakan rekomendasi dari Focus Discussion Group (FDG) yang diinisiasi jajaran Polrestabes Surabaya, dan mendapatkan dukungan penuh dari para anggota Forpimda: Kepala Kejaksaan Negeri, Kepala Pengadilan Negeri, dan Wali Kota Surabaya.

Dengan penerapan CCTV untuk pemantauan tertib lalu lintas itu, maka Surabaya menjadi kota pertama di Indonesia yang menerapkan e-tilang. Selama September ini masih dilakukan uji coba dan sosialisasi.

Tapi sudah mulai dipantau. Jika ada pengendara yang melanggar lalu lintas, maka pelanggarannya akan otomatis terpantau, terekam, dan tercatat CCTV. Yang secara otomatis diidentifikasi adalah pelat nomor kendaraannya. Dari pelat nomor tersebut maka akan langsung terdeteksi alamat pengendara.

Selanjutnya, petugas akan mendatangi rumah pelanggar lalu lintas berdasarkan rekaman data CCTV tersebut. Si pelanggar harus menyelesaikan urusannya dengan aparat terkait. Misalnya, bisa berurusan dengan kejaksaan maupun pengadilan untuk membayar denda.

Hampir sebulan pantauan CCTV diterapkan, menurut data Dinas Perhubungan Kota Surabaya, terjadi tren penurunan pelanggaran lalu lintas yang cukup signifikan. Ketika minggu pertama pemantauan CCTV dilakukan, jumlah pelanggaran lalu lintas dalam sehari 427–447. Tapi pada minggu kedua, jumlah pelanggaran sudah turun drastis menjadi 89 per hari.

Artinya, dengan pemasangan CCTV di sejumlah spot di jalan-jalan protokol, terbukti bisa mengurangi angka pelanggaran lalu lintas. Mengapa? Bisa jadi, karena CCTV mampu melakukan pemantauan dan pengawasan 24 jam, dan polisi tinggal memantau dari pusat kendali, dan begitu ada yang melanggar, langsung ditegur dari ruang kendali, dan jika perlu langsung ditindak (baca: ditilang).

Bagaimana dengan Kota Malang? Menurut saya, Kota Malang sudah saatnya dipasangi CCTV di sejumlah spot jalan-jalan protokol. Terutama jalan-jalan yang selama ini menjadi lokasi kemacetan dan kesemrawutan.

Kita tahu, atau kita sering mengalami, terjebak pada situasi lalu lintas yang macet dan semrawut. Tidak ada pengendara yang mau mengalah. Semuanya saling menyerobot. Sementara jalannya sempit dan jumlah kendaraan sedang padat-padatnya.

Kalaupun ada relawan pengatur lalu lintas, sering kali tidak digubris. Sering kali dalam situasi seperti ini, polisi tidak selalu ada. Tempat seperti ini, jika dipasangi CCTV, akan terpantau, dan polisi tinggal mengawasi saja. Kalau perlu harus turun ke lokasi, barulah turun. Dan melalui CCTV itu jika ada yang melanggar, akan langsung terekam. Lokasi-lokasi yang rawan terjadinya kejahatan di Kota Malang, perlu juga dipasangi CCTV.

Jika di Surabaya, yang menginisiasi penerapan CCTV adalah Polrestabes Surabaya, maka di Malang, saya berharap yang menginisiasi adalah Polres Kota Malang. Bukankah sudah ada wacana bahwa Polres Kota Malang akan bermetamorfosis menjadi Polrestabes Malang? Ayo…Malang jangan kalah dari Surabaya!!! Salam Hope 313!!! (Instagram:kum_jp)