Computational Thinking dan Pengalaman 2014

JawaPos.com – Bagaimana memproses 500 ribu dokumen dalam waktu kurang dari seminggu? Itulah problem statement yang kami (KawalPemilu) hadapi di 2014.

Karena itu, mari membahas skill penting abad ke-21: computational thinking (CT). CT adalah “runut berpikir dalam menerjemahkan permasalahan kompleks dan menjabarkan solusinya, untuk kemudian bisa dilaksanakan oleh pelaku cerdas, yaitu manusia, komputer, dan/atau mesin” (Cuny, Snyder, Wing 2010).

Elizabeth Pisani menampar kita dengan artikelnya, Indonesian kids don’t know how stupid they are (2012) dan Apparently, 42% of young Indonesians are good for nothing (2016).

Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) meletakkan Indonesia terbawah di dunia, di bawah Peru. Jauh di bawah Vietnam. Sedangkan Singapura rutin teratas.



PISA adalah tes internasional untuk mengukur kemampuan memahami bacaan dan berpikir matematis buat anak usia SMP. Itu baru kemampuan mendasar, belum termasuk computational thinking.

Singapura mulai berfokus pada pendidikan CT untuk anak sejak dini, semuda 4-7 tahun. Pelatihan dan kompetisi digalakkan. Anak-anak saya juga ikut menikmati.

Yang sulung, kelas tiga di Madrasah Irsyad Zuhri Al Islamiah Singapura, baru saja mendapat perunggu DrCT International Contest on Computational Thinking. Sedangkan anak kedua, kelas satu, bisa mengikuti workshop CT gratis.

Mengapa CT penting buat masa depan anak cucu kita di abad ke-21? Dunia tengah menghadapi era revolusi 4.0 dengan meluasnya artificial intelligence (kecerdasan buatan).

Pekerjaan manusia yang akan tersisa hanyalah yang tidak bisa dilakukan oleh AI/robot. Esensinya tiga: empati, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah riil yang tidak bisa dikerjakan oleh AI/robot dan berikutnya CT.

Runut berpikir CT memiliki empat komponen. Yaitu, dekomposisi, penemuan pola (pattern recognition), abstraksi, dan algoritma. Mari kita aplikasikan untuk memecahkan masalah lima tahun lalu itu.

Mulai dengan dekomposisi masalah. Seusai pemungutan suara, bangsa Indonesia dikejutkan dengan situasi yang belum pernah terjadi: Kedua kandidat mengklaim memenangi pemilihan presiden (pilpres).

Untuk mencegah konflik horizontal, penting mengetahui pemenang sesungguhnya dan memaparkan secara nalar (bayyinah) agar publik melihat sendiri serta tak lagi gelisah.

Alhamdulillah, ndilalah kersaning Gusti Allah, KPU di 2014 untuk kali pertama merilis scan hasil tiap TPS (tempat pemungutan suara) dengan cepat dan lengkap. Hari pertama saja, tersedia 6 persen dari 478 ribu TPS di situs KPU.

Problem statement menjadi: Bagaimana menghitung cepat tabulasi hasil scan dan memaparkannya kepada publik secara mendetail serta transparan?

Untuk subproblem tabulasi, ketemu polanya: Setiap scan memiliki format sama (formulir C1), hanya berbeda di tulisan tangan. Kami coba kecerdasan buatan handwriting recognition, apakah bisa otomatis mendapat angka dari tulisan tangan.

Sayang, pada 2014 kecerdasan buatan belum secanggih sekarang. Dengan akurasi rendah, mesin belum sanggup membaca tulisan orang Indonesia.

Lantas, bagaimana? Kita perlu manusia untuk membaca tulisan tangan, input 4 angka dari tiap TPS dikali ~500 ribu.

Harus distributed parallel processing, serentak oleh banyak orang. Untuk selesai dalam 5 hari, berarti 100 ribu per hari. Jika 1 orang 100 scan per hari, diperlukan 1.000 orang.

Subproblem tabulasi didekomposisi lagi: “rekrut 1.000 orang” dan “kerja serentak”.

Hil yang mustahal meyakinkan satu per satu dari 1.000 orang yang berbeda identitas dan pandangan politik. Maka, penting di sini abstraksi: fokus hal yang esensial dan membuang yang tak perlu. Yang esensial, setiap orang harus tepercaya. Sebab, setiap satu yang lancung input data salah, perlu dua orang untuk membenarkan.

Tidak penting siapa orangnya ataupun di mana lokasinya. Solusi teman ajak teman dengan rantai kepercayaan (sanad) memecahkan dua hal sekaligus: mengajak hanya yang tepercaya dan melalui exponential growth meraih 10x10x10 orang dalam waktu singkat.

Setelah mendekomposisi masalah kompleks di awal tentang “bagaimana mencegah konflik horizontal bangsa Indonesia” serta kemustahilan subproblem terpecahkan dengan pattern recognition dan abstraksi, tahapan terakhir adalah merancang runut prosesnya. Itulah algoritma.

Saya ajak teman-teman tepercaya untuk masuk grup Facebook. Mereka lalu mengajak yang mereka percaya dan seterusnya. Kemudian, para relawan itu diberi akses ke sistem internal untuk bekerja serentak menabulasi 478 ribu scan hasil TPS.

Di sistem internal, relawan akan melihat provinsi yang memiliki scan yang belum tertabulasi. Lalu masuk untuk melihat TPS yang perlu dikerjakan.

Secara real time, hasil dari tabulasi sistem internal kami paparkan untuk umum di situs KawalPemilu.org. Di situs dan sistem, terdapat mekanisme “Laporkan Kesalahan” untuk memastikan akurasi dan mencegah kalau-kalau ada upaya merusak data tabulasi. Ketika ada angka yang salah, di sistem internal angka itu menyala merah supaya bisa dikoreksi.

Saya akhiri tulisan ini dengan mengajak Anda praktik runut berpikir CT: Bagaimana mengantisipasi situasi serupa di 2019 dengan tantangan mengumpulkan foto-foto hasil turus dari 809 ribu TPS? Simak solusi kami di upload.kawalpemilu.org. (*)

*) Inisiator KawalPemilu.org, praktisi teknologi dan data

Editor           : Ilham Safutra