Cukup Satu Putaran Saja – Radar Malang Online

Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad

Catatan Politik Pilwali Malang

Syukurlah, tidak ada putaran kedua di pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak tahun ini. Jadi, pemilihan wali kota (pilwali) Malang kelak hanya satu putaran saja. Siapa pun pasangan yang meraih suara terbanyak, merekalah yang menjadi pasangan wali kota-wakil wali kota terpilih.

Ini sesuai dengan Pasal 107 Ayat 1 UU No 10 Tahun 2016 tentang Pilkada yang berbunyi:

Pasangan calon bupati dan calon wakil bupati serta pasangan calon wali kota dan calon wakil wali kota yang memperoleh suara terbanyak ditetapkan sebagai pasangan calon bupati dan calon wakil bupati terpilih serta pasangan calon wali kota dan calon wakil wali kota terpilih.

Syukurlah, dengan pilkada serentak hanya satu putaran, anggaran bisa terkurangi. Hiruk pikuk pesta demokrasi cukup hanya satu kali saja. Kegaduhan politik cukup hanya sekali saja. Sehingga, begitu pilkada selesai dihelat, rakyat bisa kembali fokus pada kegiatan atau pekerjaan masing-masing.

Kita bisa belajar dari kasus Pilkada DKI Jakarta 2017 yang berlangsung hingga dua putaran. Harga pesta demokrasi di pilkada DKI Jakarta begitu mahalnya. Konflik horizontal begitu tajamnya. Dan parahnya, konflik horizontal di Pilkada DKI Jakarta dipicu oleh isu SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan). Mengapa disebut parah? Karena kegaduhan yang dipicu oleh isu SARA, sangat berpotensi untuk terjadinya chaos.

Kegaduhan dan hiruk pikuk yang mewarnai Pilkada DKI Jakarta 2017, saking serunya, sampai  berimplikasi terhadap performa perekonomian nasional. Pada saat itu, IHSG (indeks harga saham gabungan) sempat turun sebesar 0,4 persen ke level 5307. Rupiah pun sempat melemah sebesar 0,1 persen atau 13 poin, melemah ke angka Rp 13.088 per dolar US.

Untuk pilkada serentak 2018 ini, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyorotinya dari sisi pengaruhnya terhadap  pertumbuhan ekonomi di tahun 2018. Adakah hiruk pikuk pilkada serentak 2018 berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi nasional? Ada beberapa hal yang menjadi catatan Indef. Pertama, pilkada serentak 2018 bisa membawa dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi 2018. Bisa membawa dampak positif jika ada kampanye masif yang mengumpulkan masyarakat, karena hal ini dinilai mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara makro.

Kedua, pilkada serentak 2018 bisa juga membawa dampak negatif. Karena perilaku para pelaku bisnis/usaha sering melakukan aksi wait and see. Mereka menunggu dan melihat, siapa yang akan menjadi pemenang dalam pilkada. Apakah incumbent menang, incumbent kalah, atau siapa figur baru yang akan menjadi kepala daerah? Semua ini menjadi catatan, atau bahkan patokan bagi pelaku usaha, terutama pelaku usaha di daerah.

Masalahnya, pilkada serentak menurut jadwal akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018, atau sekitar dua minggu setelah Lebaran. Jika aksi wait and see ini dilakukan oleh para pelaku usaha, berarti bisa jadi, perekonomian baru akan menggeliat di semester kedua 2018. Artinya, momentum peningkatan pertumbuhan ekonomi di semester pertama 2018 bisa jadi tidak akan optimal. Karena itulah, Indef cenderung menilai adanya peningkatan ketidakpastian akibat dunia usaha yang wait and see ini selama pilkada serentak 2018.

Jika ini yang terjadi, maka menurut Indef, target pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah sebesar 5,4 persen di tahun 2018, akan sulit terpenuhi.

Bagaimana dengan Pilwali Malang? Pertumbuhan ekonomi di Kota Malang saat ini (5,61 persen) sudah di atas angka pertumbuhan ekonomi nasional. Secara sosial-politik, suhu di Kota Malang sejauh ini juga relatif kondusif. Makanya, Pilwali Malang 2018 jangan sampai menyulut konflik horizontal. Karena kalau sampai terjadi konflik horizontal, maka pertumbuhan ekonomi yang sudah baik itu, suhu yang kondusif itu akan memburuk.

Kita anggap saja Pilwali Malang 2018 ini sebagai ”goro-goro” yang ada di pewayangan. Disebut ”goro-goro”, karena biasanya dalam ”goro-goro” ada ger-geran.  Bukan gegeran. Kalaupun ada gegeran, maka akan secepatnya berubah menjadi ger geran.

Ayo kita nikmati Pilwali Malang 2018 seperti halnya kita menikmati ”goro-goro” di pewayangan.

 

Pilkada adalah sebuah pesta…

Karena itu jangan dibikin sengketa..

Kalaupun harus bersaing, bersainglah secara kesatria…

Jangan diwarnai fitnah, apalagi dusta..

 

Pilkada adalah ”goro-goro”-nya politik

Dalam politik, boleh beradu strategi dan taktik..

Asalkan jangan punya pemikiran picik dan tindakan licik..

Apalagi diwarnai kampanye hitam dan intrik-intrik..

(kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)