Dari 15 Tahun Belajar Mandarin Sampai 15 MW – DI’S WAY

Saya suka sekali mengikuti tulisan Disway setiap hari. Kebetulan saya pernah belajar Mandarin 15 tahun yg lalu di Shida Shifan Daxue, Taipei.

Saya hanya ingin mengoreksi artikel tentang Meiling:

– Nama Chang Meiling seharusnya yg benar Zhang Meiling

– Sekolah Chifan Daxue seharusnya yg benar Shifan Daxue

– Sekolah Ren Ming Daxue seharusnya yg benar Renmin Daxue



Chandra Chen, Kediri

Catatan Disway:

Bung Chandra, Anda betul. Karena dalam huruf mandarin nama Meiling itu 张美玲。Demikian juga 师范大学 dan 人民大学。Maafkan.

Jadi penasaran tentang Robert Lai (RL)..

Belum didiskripsikan secara detail.

– Setelah melepas sebagai pengacara perusahaan apa aktivitas selanjutnya?

– Cukup penasaran poin 1 di atas karena edisi pertengahan cerita Robert Lai juga memberi beasiswa berprestasi untuk anak surabaya di sisi lain RL masih tinggal di apartemen pemerintah dengan kredit?

– Seorang DIs yg sudah lama bersama RL, mungkin bisa dinarasikan juga apa prinsip hidup RL, sehingga bisa loyal terhadap DIs?

Salahuddin

Catatan Disway:

– Setelah pensiun dari lawyer Robert Lai jadi komisaris di beberapa perusahaan publik di Hongkong dan Singapura. Dia cukup punya uang.

– Kredit apartemennya sudah lunas lama. Meski apartemen pemerintah tapi kualitasnya sangat baik. Jangan bayangkan seperti Perumnas, hahaha.-

– Dia tidak loyal kepada saya. Dia loyal pada kebaikan. Prinsip hidupnya: “dunia ini cukup untuk menghidupi milyaran orang baik, tapi tidak cukup untuk menghidupi satu irang rakus”.

Pak Dahlan,

Salam kenal pak, saya Septian, alumni Fisika ITS angkatan 2007. Dulu pak Dahlan pernah menulis tentang bapak teman saya ahli katalis tanah yang sempat kecelakaan akibat percobaannya. Saya sangat mengidolakan Anda, nomer 2 setelah bapak saya sendiri.

Kita punya satu kesamaan, bapak saya dan bapak pak Dahlan sama sama pengikut tarekat Syathariyah yang taat. Dan saya sangat memegang teguh dawuh guru sebagai pedoman saya bekerja, “Suci kang kahesti, luhur kang ginayuh, adoh jero kang tinebuh rumpil margane akeh pangorbanane, gedhe cobane sampurno wusanane”.

Saat ini saya tinggal di Waru, anak 1 istri 1. Bekerja di salah 1 perusahaan tambang. Cita-cita saya ke depan adalah membuat perusahaan konsultan aplikasi seismology untuk mining industry, karena semua ahli seismology yang didatangkan perusahaan tempat saya bekerja adalah orang asing, padahal mereka harusnya tau kalau ada profesor seismology di ITS.

S Prahastudhi

Catatan Disway:

Ajaran itu masih belum lengkap. Ada satu kalimat sebelum penutupnya: “Luhur gegayuhane”. Kalau saya tidak salah….

Tembak Langsung

Tebakan saya rata-rata 15MW.
Wawan.

Catatan Disway:
Wawan, Anda ini tembak langsung hahaha. Tebakan Anda ini sama dengan tebakan ahli listrik terkemuka. Tapi dia menyertakan argumen ilmiah. Kalau kelak ternyata benar hanya 15 MW, hahaha, hadiahnya boleh dibagi dengan beliau? Ini penjelasan beliau: Saya barusan baca tulisan 1, 2 dan 3. Orang listrik mengukur produktivitas pembangkit dalam satuan kWh atau MWh. Kecepatan angin berubah-rubah, maka daya keluaran (MW) juga berubah-rubah. Misal 2 jam pertama persis 20 MW, 3 jam berikutnya persis 30 MW, maka energi selama 5 jam adalah 2×20 + 3×30 = 130 MWh. Meter kWh adalah alat yg dipakai untuk menjumlahkan daya keluaran dari detik ke detik.
Dari contoh diatas, capacity factor selama 5 jam tsb adalah 130/(75×5) = 0,35.
Jika CF = 0,35 dianggap mewakili performance pembangkit dan sekaligus kondisi angin di Sidrap, maka produksi setahun bisa dihitung 75x8760x0,35 = 227760 MWh, untuk hitung income tinggal dikalikan 11 sen $.
Tebakan saya, CF PLTB Sidrap antara 0,1 sampai 0,15 saja.


Email yang masuk ke Likedisway@gmail.com, setelah diseleksi oleh admin, akan dimuat dan dijawab/dikomentari oleh Dahlan Iskan dengan gayanya sendiri.