Daya Kreasi dan Semangat Kebangsaan

Empat tokoh tersebut adalah Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Jika berpijak dari empat nama itu, tentu masyarakat Jawa Timur harus lega karena rekam jejak keempatnya selama ini cukup positif di mata publik.

Tentu saja tidak cukup jika sekadar bercitra positif. Tantangan lima tahun ke depan bagi Jawa Timur adalah membawa provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 40 juta jiwa ini ke arah yang lebih baik, lebih sesuai dengan perubahan zaman yang serbacepat saat ini.

Jawa Timur harus mampu menghadapi era globalisasi yang diikuti pula era digitalisasi. Mau tidak mau hal itu membutuhkan daya kreasi dan inovasi agar provinsi tersebut lebih siap menyesuaikan diri dengan tantangan itu.

Akhirnya, kata kuncinya adalah inovasi! Figur-figur pemimpin yang dibutuhkan untuk membawa sebuah perubahan besar dan cepat adalah sosok-sosok yang penuh keterbukaan, kreatif, inovatif, dan tentu saja membangun daya partisipatif. Dari empat nama tersebut, masing-masing memiliki nilai lebih yang menjadi poin kekuatannya. Rekam jejak kepemimpinan keempatnya, di wilayah pengabdian saat ini, bisa menjadi modal bagi publik mana di antara empat tokoh tersebut yang memiliki daya kreasi dan inovasi.

Tentu saja Gus Ipul sepanjang memimpin Jatim sebagai wakil gubernur memiliki gerakan dan gebrakan yang tidak kalah inovatif jika dibandingkan dengan tokoh lain. Gerakan Peduli Tetangga, misalnya, menjadi ikon putra kelahiran Pasuruan tersebut. Meski, harus diakui, gerakan itu kurang tersosialisasikan dengan masif di publik. Hal yang sama dilakukan Khofifah. Sebagai menteri sosial, upaya membangun jaringan sosial melalui Kartu Keluarga Sejahtera juga menjadi inovasi andalan. Keduanya merupakan potret kreasi dan inovasi dua tokoh yang dua kali ’’bertemu’’ dalam dua kontestasi pilkada Jatim 2008 dan 2013.

Nah, jika dibandingkan dengan Gus Ipul dan Khofifah, gerakan dan gebrakan Risma dan Anas relatif lebih banyak. Mereka dikenal karena memiliki satu kesatuan wilayah tertentu yang relatif dekat dengan masyarakat. Risma dengan reformasi birokrasinya serta mengubah wajah Kota Surabaya menjadi lebih asri dan hijau sedikit banyak mendulang simpati publik.

Hal yang sama terjadi pada Anas. Bupati muda itu sukses dengan kreasi dan inovasinya membuat Banyuwangi menjadi ikon baru Jawa Timur. Anas berhasil mengantarkan Banyuwangi sebagai wilayah transit berubah menjadi wilayah singgah. Inovasi yang paling fenomenal adalah menjadikan pariwisata sebagai pendongkrak kehidupan serta kesejahteraan masyarakat. Dahsyat!

Pemilih Milineal
Rekam jejak kreasi dan inovasi seperti itulah yang menjadi modal baru bagi kontestan dalam kompetisi politik. Mengapa? Sebab, ada kecenderungan pemilih mulai mempertimbangkan faktor itu untuk menentukan pilihan. Setidaknya, hal tersebut dirasakan generasi milenial, generasi baru yang turut menguatkan proses-proses demokrasi kontemporer saat ini. Mereka adalah opinion leader saat ini, terutama dibangun dan dikuatkan melalui jejaring sosial media.

Berpijak dari hal itu, boleh jadi bekal rekam jejak kreasi dan inovasi bakal calon gubernur akan menarik perhatian para pemilih lama yang bosan dengan kondisi yang ada dan pemilih baru yang rindu pada sosok yang merepresentasikan diri mereka, terbuka, kreatif, dan inovatif.

Penulis memandang, Risma dan Anas memiliki kedekatan dengan generasi milenial itu. Tentu kita ingat bagaimana Risma marah besar ketika melihat bawahannya belum cekatan melakukan pelayanan publik. Kemarahan itu menyebar ke jutaan netizen di media sosial.

Demikian pula, Anas berkali-kali mengunggah video melalui media sosial tentang programnya di Banyuwangi dan menarik simpati warganet. Sederhana memang. Namun, dampaknya luar biasa mengangkat nama Banyuwangi. Tidak hanya di pentas nasional, tetapi juga dunia.

Tentu saja modal rekam jejak kreasi dan inovasi tersebut harus dibarengi modal sosial kultural yang selama ini masih kuat memengaruhi perilaku pemilih di Jatim. Pemilih nahdliyin tentu cenderung dekat dengan sosok tokoh dari kalangan yang sama. Sebaliknya, kalangan masyarakat abangan, umumnya di wilayah selatan Jatim, lebih cenderung dekat dengan sosok tokoh nasionalis.

Namun, jika kembali pada pendekatan teori perilaku pemilih, sebenarnya seorang pemilih itu tetap otonom yang mempertimbangkan segala aspek. Pendekatan Columbia yang menekankan pada aspek sosiologi tentu juga bisa digunakan untuk melihat pemilih di Jatim.

Namun, boleh jadi pendekatan Michigan bahwa seorang pemilih juga mengidentifikasikan dirinya pada partai tertentu juga berpeluang memengaruhi perilaku pemilih. Kemudian, peluang yang sama berlaku bagi pendekatan rasionalitas pemilih sebagaimana yang dikembangkan Anthony Downs. Pendekatan itu terkait dengan adanya relasi logis dan rasional antara kandidat dan pemilih berdasar tujuan serta kepentingan masing-masing.

Nah, apakah faktor kreatif dan inovatif tersebut efektif menggaet pemilih? Tentu lebih kuat jika sang kandidat tetap mengapitalkan modal sosial kulturalnya. Gus Ipul, Khofifah, Risma, dan Anas tentu memiliki latar belakang sosial kultural masing-masing. Namun, ada benang merah dari keempatnya. Yakni, latar belakang nahdliyin yang melekat pada keempatnya.

Nah, sosial kultural abangan, yang juga menjadi bagian besar karakter masyarakat Jatim, tentu harus menjadi pertimbangan. Keempatnya boleh jadi sudah menyadari dan menguatkan karakter kebangsaannya. Upaya itu sudah dimulai Anas dengan menggelar ziarah kebangsaan kepada tokoh-tokoh bangsa. Arah kontestasi tentu bisa ditebak. Daya kreasi dan inovasi akan semakin lengkap jika dibarengi daya kebangsaan yang dibutuhkan saat ini. (*)


(*) Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan kandidat doktor Universitas Negeri Yogyakarta)