Dayak, Ambon, dan Arek Suroboyo

DI balik kemeriahan Peringatan Ke-74 Kemerdekaan RI, rasa kita sebagai bangsa saat ini sedang terluka. Luka yang kita rasakan itu adalah karena kedukaan yang dirasakan saudara-saudara kita Papua. Bermula dari isu patahnya tiang bendera di depan asrama mahasiswa Papua di Surabaya yang terletak di Jl Kalasan (selanjutnya disebut ’’Peristiwa Kalasan’’). Seperti api yang membakar ranting kering, isu ini merembet menjadi masalah serius karena dibumbui dengan olokan ’’monyet’’ yang berbau rasis. Seketika, sentimen ke-Papua-an meledak menjadi protes rakyat. Protes masyarakat Papua membuat Kota Manokwari mencekam. Kantor DPRD terbakar. Aktivitas ekonomi nyaris lumpuh.

Tak ada kerusuhan sosial yang tidak memedihkan. Tapi, ini lebih dari sekadar kerusuhan. Ini menyangkut isu Papua. Selama puluhan tahun, Papua telah menjadi isu yang sangat sensitif, baik di dalam maupun luar negeri. Kesejahteraan penduduknya yang tidak sebanding dengan kekayaan alamnya membuat rakyat Papua selama ini merasa tidak lebih dari jajahan Indonesia. Dipadu dengan berbagai narasi sejarah yang mempertanyakan keabsahan penggabungan Papua menjadi bagian wilayah NKRI, gerakan separatisme dan tuntutan merdeka seakan tak pernah sepi di tanah Papua.

Dalam situasi seperti ini, isu pengusiran mahasiswa Papua di Malang dan olokan ’’monyet’’ di Surabaya seakan membenarkan perasaan bahwa rakyat Papua tak lebih dari ’’inlander’’ rendah di depan sang penjajah. Dalam banyak kasus, yang sering dianggap sebagai penjajah adalah orang Jawa. Perasaan yang sama pernah menghinggapi masyarakat Aceh sebelumnya. Anggapan yang tidak sepenuhnya salah jika mengingat bahwa pembangunan Indonesia bersifat Jawa-sentris.

Banyak kalangan yang melihat ’’Peristiwa Kalasan’’ di Surabaya ini sebagai bentuk rasisme manusia Jawa, khususnya arek Suroboyo, terhadap saudara sebangsanya dari Papua yang berkulit hitam. Menurut saya, penilaian ini cukup gegabah. Saya tidak mengatakan bahwa kita sebagai bangsa tidak memiliki penyakit rasisme dalam sejarah kita. Namun, sejarah rasisme di Indonesia lebih tertuju pada etnis Tionghoa daripada etnis-etnis lain yang ada di Indonesia, termasuk ke saudara-saudara kita dari Indonesia Timur yang berkulit hitam.



Setidaknya, ada dua alasan mengapa saya menganggap ’’Peristiwa Kalasan’’ sebagai bentuk rasisme orang Jawa, khususnya arek Suroboyo, terhadap orang Papua. Pertama, rasisme berbasis warna kulit hampir tidak ditemukan di Indonesia selain kepada etnis China/Tionghoa. Berbeda dengan sejarah Amerika Serikat dan Eropa yang memiliki sejarah kelam rasisme terhadap orang-orang berkulit hitam, Indonesia tidak memiliki sejarah itu.

Di Amerika Serikat (AS) dan Eropa, orang kulit hitam dianggap sebagai manusia rendah, yang proses evolusinya belum mencapai tingkat sempurna seperti manusia kulit putih. Dikaitkan dengan keyakinan terhadap teori evolusi Darwin, orang kulit hitam dianggap masih dekat ke monyet daripada manusia. Karena itu, salah satu bentuk rasisme terhadap orang berkulit hitam di Barat adalah olokan monyet. Bentuk konkret rasisme di dunia Barat dalam dunia olahraga, terutama sepak bola, adalah lemparan pisang kepada pemain kulit hitam.

Mengasosiasikan orang kulit hitam dengan monyet dan pisang bisa dikatakan sama sekali tidak ada dalam skema kesadaran kultural bangsa Indonesia. Karena itu, nyaris tidak ditemukan peristiwa rasial yang menjadikan saudara-saudara Indonesia Timur yang berkulit hitam dengan olokan monyet dan lemparan pisang. Bahkan, pengaitan kulit hitam dengan monyet dan pisang bisa dikatakan baru dikenal orang Indonesia melalui tayangan sepak bola Eropa yang banyak ditonton masyarakat Indonesia.

Ketika banyak pemain bola profesional berkulit hitam yang bermain di liga sepak bola profesional Indonesia sejak 1993, nyaris tak pernah kita temui hinaan berbau rasis terhadap mereka. Itulah mengapa kampanye ’’Kick Out Racism’’ sekalipun digelorakan FIFA di liga-liga Eropa terdengar sepi di Indonesia karena memang tidak memiliki alasan apa pun.

Kedua, di Jawa Timur memang ada gurauan yang menyangkut etnis tertentu, yaitu Dayak dan Ambon. Di masyarakat Jawa Timur, terutama di lingkungan penutur bahasa Jawa, ditemukan istilah ’’sak taek Dayak’’ yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sangat banyak atau tak berhingga. Arti literal dari istilah ini adalah ’’sebanyak kotoran/tai orang Dayak’’.

Sekalipun demikian, penggunaan kata ’’Dayak’’ ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan suku Dayak, apalagi disadari sebagai olokan rasis yang merendahkan. Istilah ’’sak taek Dayak’’ digunakan begitu saja untuk meggambarkan jumlah tertentu yang tak terhitung saking banyaknya atau besarnya. Kurang lebih, ungkapan ’’sak taek Dayak’’ sama dengan ungkapan ’’sak haragadag’’ yang fungsi kebahasaannya sama dengan yang pertama.

Jika ada panggilan yang menggunakan warna kulit sebagai referensi, itu adalah Ambon, bukan Papua. Di Surabaya, terutama di lingkungan kelas sosial bawah, sangat biasa panggilan ’’Ambon’’ dialamatkan kepada siapa saja yang berkulit ’’hitam’’. Sering kali yang disebut ’’hitam’’ di sini adalah kulit legam, tanpa mengacu pada etnis tertentu. Panggilan ’’Ambon’’ bisa ditujukan kepada siapa saja yang berkulit legam, tak peduli sukunya apa. Karena di Surabaya banyak kita temukan orang-orang berkulit legam, banyak orang yang dipanggil ’’Ambon’’.

Sama dengan ’’sak taek Dayak’’, panggilan itu sama sekali tidak digunakan dengan sentimen rasisme. Siapa pun yang dipanggil Ambon di Surabaya tidak akan marah. Bahkan ada orang-orang Surabaya berkulit legam yang lebih dikenal di lingkungan perkawanannya dengan panggilan ’’Ambon’’ daripada namanya sendiri. Sekalipun tidak sangat tepat, panggilan ’’Ambon’’ di Surabaya kurang lebih seperti panggilan ’’cuk’’ (dari kata ’’jancuk’’) kepada teman. Tidak ada orang Surabaya yang marah ketika dipanggil ’’cuk’’ kecuali panggilan itu diniati merendahkan, atau tidak tepat konteks.

Jadi, kalau sekarang ’’Peristiwa Kalasan’’ dinilai sebagai bentuk rasisme arek Suroboyo terhadap saudara-saudaranya dari Papua, saya kira itu kurang tepat. Kelompok pengais keuntungan inilah yang perlu disorot dalam ’’Peristiwa Kalasan’’ itu. Menyorot arek Suroboyo sebagai manusia rasis tidak memiliki dasar historis dan kulturalnya. Isu separatisme di Papua tidak bisa dilepaskan dari peristiwa ini. Separatisme dimainkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk mengambil keuntungan dengan menjadikan arek Suroboyo sebagai bumpernya.

Yang mendapat keuntungan dari peristiwa ini adalah kelompok yang selama ini banyak dipertanyakan nasionalismenya karena aspirasi-aspirasi politiknya mendelegitimasi konstitusi dan sepak terjangnya sering melanggar undang-undang. Dengan memojoknya para mahasiswa Papua sebagai penentang NKRI, kelompok ini berharap mendapatkan pengakuan sebagai nasionalis sejati.

Kelompok lain yang menangguk keuntungan dari peristiwa ini adalah nasionalis-chauvinistik yang selama ini berusaha membuktikan dirinya paling memperjuangkan Indonesia. Kelompok yang kedua ini biasanya selalu mendengungkan adanya ancaman terhadap keutuhan negara, baik ancaman itu nyata maupun imajiner. Jika upaya mereka berhasil, bujet ’’perjuangan’’ akan tetap mengalir lancar ke kantongnya. (*)

*) Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Sunan Ampel Surabaya