Doa untuk Riau – DI’s Way

Teruntuk para petinggi di negeri ini.

Teruntuk orang-orang yang dihargai di negeri ini

Dan didengar kata-katanya di Indonesia ini.

Tolong…



Tolong lihat kami di sini.

Dengarkanlah keluh kesah kami di sini.

Jangan hanya mengurusi tembok beton.

Agar berdiri dengan tegak.

Lihat kami yang ada di sini.

Kabut asap sedang menyelimuti kami.

Kabut asap membuat perih mata kami.

Dan kabut asap membuat sesak dada kami.

Tinjau kami yang ada di sini.

Jangan hanya memantau kami dari layar televisi.

Dan mencari solusi hanya lewat argumen.

Lakukanlah pergerakan sampai asap tiada lagi.

Jangan hanya sekali. 

Lakukanlah, sebelum kami mati.

Dari kami, suara rakyat Indonesia.

 

Itulah narasi dalam video berjudul ”Untuk Indonesiaku”. Yang saya lihat dan dengar di Instagram @Teukuwisnu, Jumat (13/9). Sudah 169 ribu kali ditonton dan 1.563 dikomentari.

 

Teuku Wisnu menuliskan video itu bersumber dari akun Instagram @cang_cungkring. Dan suaranya dari @el_ melly.99.

 

Video serupa juga banyak bertaburan di media sosial. Yang menggambarkan jeritan saudara-saudara kita Riau. Akibat kabut asap yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sana.

 

Di Twitter, netizen ramai-ramai mencuitkan tagar #RiauDibakarBukanTerbakar. Hastag ini menjadi trending topic. Hingga Jumat pukul 17.00 WIB, sudah 127 ribu yang menulisnya. 

 

”Sampai kapan? Kami lelah, kami sesak, kami rindu udara segar,” cuit @EkaNura91 di akun Twitter-nya.

 

Keluhan serupa juga disampaikan @Widya_Intawani. ”Asap Riau sudah sampai ke mana-mana. Labuhanbatu pun sudah ikut terkena. Mari selipkan Riau dalam pokok doa kita,” tulisnya.

 

Senada disampaikan @Stevaniehuangg. ”Pekan Baru pagi ini sudah parah banget, sudah kuning langitnya, dan jarak pandang cuma beberapa meter,” katanya.

 

Dikutip dari detik.com, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan pada Jumat (13/9), kualitas udara di Riau masuk kategori berbahaya. Bahkan di Pekanbaru, jarak pandang hanya tembus 300 meter. Sehari sebelumnya masih 1,5 km.

 

Kabut asap sebenarnya juga terjadi di Jambi dan Sumatera Selatan. Juga beberapa provinsi di Pulau Kalimantan.

 

Namun, petugas gabungan belum berhasil menghalau asap. Upaya pemadaman dengan bom air (water bombing) tak mampu memadamkan api.

 

Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo mengaku sudah berkali-kali water booming dilakukan. Namun api tak kunjung padam.

 

Sebab, sumber apinya berada di kedalaman lahan gambut. Yang ada di bawah permukaan tanah. Hanya hujan yang bisa memadamkannya.

 

Menurutnya, hujan buatan juga tak bisa direalisasikan. Karena awannya tak ada. 

 

”Sudah 9.172 personel diturunkan. Dan 35 helikopter dikerahkan. Untuk mengatasi karhutla ini,” katanya. 

 

Sedih rasanya saya mendengar ”jerit” saudara-saudara kita di Riau. Karena ke mana lagi mereka bersembunyi. Asap dikabarkan sudah masuk ke dalam rumah mereka. 

 

Anak-anak di sana sudah banyak yang terserang Ispa. Sekolah dan perguruan tinggi diliburkan. Dalam waktu yang tidak ditentukan.

 

Salat Istisqa juga sudah dilangsungkan berkali-kali. Untuk meminta rahmat dari-nya. Agar hujan segera turun di sana.

 

Pemerintah harus segera mencari solusi. Untuk mengatasi bencana yang datang setiap tahun ini. Agar warga Riau dapat beraktivitas normal lagi.

 

Karena, bagaimana saya bisa bernafas lega, sementara saudara kita di Riau sedang nelangsa. 

 

Semoga segera datang rahmat dari-Nya.(wirahadikusumah)