Ekosistem Industri Kreatif dan Daya Saing Bangsa

California, negara bagian tempat Silicon Valley dan Hollywood, memiliki ukuran ekonomi melebihi Prancis pada 2016. Klaster Boston, New York, dan Washington berkontribusi 20 persen dari total GDP Amerika Serikat (AS). Memiliki enam megacities dalam daftar Top 20 World’s Most Economically Powerful City menunjang AS sebagai negara terkuat ekonominya.

Di Indonesia, Jakarta sebagai pusat kekuasaan dan bisnis menjadi tempat beredarnya 70 persen total uang. Namun, Jakarta tidak masuk daftar 10 besar kota dunia, baik saat ini maupun proyeksi pada 2030 yang dikeluarkan World Economic Forum. The Economist menempatkan Jakarta pada urutan ke-74 dan Surabaya ke-114 City Competitiveness Index 2025 (Singapura ke-3, Kuala Lumpur ke-31, dan Bangkok ke-62). Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan megacities Indonesia agar berdaya saing tinggi?

Megacities, WCUs, dan Ekosistem Industri Kreatif
Parag Khanna memprediksi hingga 2030 ada lebih dari 50 megacities. Mengacu Richard Florida, kreativitas adalah sumber daya terpenting dalam persaingan di masa depan, dan kemampuan megacity menarik creative class untuk tinggal, berinteraksi, dan berkarya akan mengakselerasi dan memperbesar ukuran ekonominya. Keberadaan world class universities (WCUs) menjadi sangat penting.

Di California (klaster San Francisco-Los Angeles), ada 11 universitas top 100 dunia, misalnya Stanford, UC Berkeley, atau UCLA. Klaster Boston-New York-Pennsylvania menjadi rumah dari 10 universitas top 100 dunia seperti Harvard, MIT, dan Princeton. Bagaimana dengan Asia? Singapura hanya menyumbangkan dua universitas kelas dunia, tetapi keduanya di top 20 dunia.



Megacity dapat tumbuh dan berkembang dengan pasokan creative class yang kontinu dan menjadi tempat berinteraksi menghasilkan produk-produk yang inovatif. Semua hanya bisa difasilitasi oleh WCUs. Ketersediaan referensi dan teknologi yang up-to-date, profesor kelas dunia yang tidak hanya memedulikan rigor dari karya ilmiah yang dihasilkan namun relevance bagi masyarakat, dan budaya akademis untuk bertukar pendapat guna menghasilkan solusi yang terbaik merupakan beberapa manfaat yang disediakan WCUs. Namun, komponen terpentingnya adalah kemampuan WCUs menarik best talents, baik level nasional maupun global, untuk menimba ilmu dan berkarya di sana.

Cukupkah keberadaan WCUs dalam menopang megacities? Belum cukup. Sebab, WCUs hanya bagian kecil dari ekosistem yang akan menunjang megacities memiliki kekuatan ekonomi. Daftar World’s Most Economically Powerful City relatif konsisten dengan Global Start-up Ecosystem Report 2017 yang dikeluarkan Start-up Genome. Silicon Valley, New York, London, Beijing, dan Boston adalah top 5 kota besar dengan ekosistem industri kreatif terbaik.

Lompatan tinggi dicapai Beijing (ke-4) dan Shanghai (ke-8), yang mana pada 2012 belum masuk daftar tersebut. Target utama Tiongkok adalah mampu bersaing bahkan mengalahkan Silicon Valley. Menjadi daya tarik tersendiri bagi diaspora Tiongkok yang menempuh studi di Ivy League sejak 1990-an untuk kembali (brain gain) dan membangun negerinya. Tentu pengetahuan, pengalaman, dan guanxi selama di Silicon Valley maupun pusat teknologi lain akan menjadikan visi Presiden Xi Jinping sebagai kekuatan teknologi dunia 2030 lebih nyata.

Upaya sama dilakukan India dengan menempatkan Bangalore (ke-20) sebagai wakil. Menunjukkan keseriusannya, PM India Narendra Modi tahun lalu meluncurkan Start-up India yang menitikberatkan pada inovasi baru berbagai bidang (tidak hanya digital) yang bernilai tambah tinggi. Fasilitas yang diberikan, antara lain, 3 tahun bebas pajak, pendanaan hingga Rs 2,500 crore (Rp 5,4 triliun), dan garansi kredit Rs 500 crore (Rp 1,08 triliun).

Rekomendasi
Keberadaan megacities dengan kontribusi ekonomi tinggi menjadi prioritas negara-negara maju. Role model utama adalah Israel, yang berhasil mengembangkan ekosistem yang sukses sejak 1980-an dan mencatatkan diri sebagai rumah start-up dengan IPO terbanyak kedua di dunia setelah Silicon Valley di NASDAQ.

Bagaimana dengan Indonesia? Selama ini, kita memperlakukan inovasi sebagai sistem, bukan sebagai ekosistem. Konsekuensinya, inovasi sebagai silo-silo yang bekerja secara terpisah. Kampus berlomba memperbanyak kuantitas publikasi ilmiah di jurnal yang terindeks Scopus (60 persen dari nilai kriteria WCUs versi QS), namun link & match inovasi dengan industri relatif rendah. Start-up yang sedang dan telah berkembang ditangani Badan Ekonomi Kreatif, namun bertugas secara parsial dan cenderung berkompetisi dengan kementerian/lembaga (K/L) lain. Aturan OJK yang mempersyaratkan minimal dua tahun berdiri dan menunjukkan laba agar dapat dibiayai lembaga keuangan di Indonesia tidaklah start-up friendly.

Banyak pertanyaan yang masih harus dijawab oleh kita: Berapa megacity yang akan dikembangkan? Berapa WCUs yang akan didorong, difasilitasi, dan dikembangkan? Negara atau megacity mana yang menjadi role model bagi megacity di Indonesia? Akankah kita head-to-head dengan ekosistem yang mengkhususkan pada advanced technology industries (misalnya: robotic, space carriers, artificial intelligences) atau industri yang merupakan keunggulan kompetitif Indonesia (misalnya maritim, agrobisnis, kesehatan tropis)? Ataukah 16 subsektor ekonomi kreatif dikembangkan bersama atau cukup beberapa subsektor yang memberikan value added tertinggi? Merupakan tugas kita bersama untuk menjawabnya. (*)


(*) Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga)