Fase Berbahaya saat Panas Turun

JawaPos.com – Saya pemahaman masyarakat mengenai DBD secara umum sudah cukup. Begitu pula tingkat kewaspadaan terhadap virus penyakit yang dibawa nyamuk Aedes aegypti tersebut. Tapi, lebih spesifik seperti gejala penyakit, penanganan, dan pengobatannya mesti diluruskan.

Misalnya, pendarahan yang akibat DBD bukan indikasi atau gejala bahaya. Kemudian, harus ada bintik-bintik merah di kulit. Padahal, itu belum tentu. Banyak orang mengira bahwa Aedes aegypti mengisap darah ketika malam hari. Faktanya, nyamuk tersebut aktif pada pagi hingga sore hari.

Yang jelas, jika panas di hari ketiga, anak sudah harus berobat untuk lebih memastikan dia terinfeksi DBD atau tidak. Tidak usah meminta cek laboratorium maupun tindakan medis lainnya. Cukup mengikuti saran dan petunjuk dokter yang memeriksa.

Yang penting berobat saja dulu. Baru setelah itu keputusannya ada pada dokter. Apakah harus cek laboratorium, opname, atau hanya diberi obat. Beda lagi kalau baru hari pertama atau hari kedua anak panas diperiksa. Sangat mungkin parameter yang diukur tidak keluar untuk menyimpulkan DBD atau tidak.



Fase berbahaya DBD justru pada saat panasnya sudah turun. Saat itu masyarakat mengira itu sudah sembuh. Maka tidak lagi diawasi. Paling aman jika panas sudah turun antara hari kelima hingga ketujuh. Plus 2 x 24 jam panas tidak naik lagi dan tidak ada keluhan lain.

Pengobatan DBD yang paling penting itu adalah cairan. Minum harus cukup. Semakin banyak minum semakin baik. Tidak makan bukan masalah.

Jika DBD dibandingkan Zika, dua penyakit itu bahayanya berbeda. Zika bisa dikatakan berbahaya jika terjangkit pada ibu hamil. Sebab, nanti anak yang dilahirkan dalam keadaan cacat dengan kepala kecil (mikrosefalus). Di luar itu tidak masalah.

Virus Zika juga dibawa nyamuk yang berbeda dengan DBD, yakni Aedes albopictus. Sedangkan DBD berbahaya bagi semua orang di segala usia. Bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Tata kota yang baik, idealnya, mampu mengendalikan jumlah nyamuk. Tapi, di dunia hanya ada dua negara yang mampu merealisasikannya. Kuba pada 1970-an dan Singapura. Namun, hanya Singapura yang berhasil hingga saat ini.

Jika di suatu rumah di Singapura ditemukan jentik-jentik nyamuk oleh pengawas dinas kesehatan setempat, penghuninya akan didenda. Kalau dua kali bakal dipenjara. Jadi, semua warga di sana mengawasi betul rumahnya.

Tapi, Singapura itu kan negara kecil. Di negara seluas Indonesia saya rasa tidak mungkin. Berapa banyak petugas yang mau mengawasi? Tidak mungkin. Surabaya misalnya. Jika menerapkan program satu pengawas jentik-jentik untuk satu rumah, itu sangat membantu mengurangi, tapi tidak bisa sampai nol. Jadi, tata kota yang baik membuat nyamuk jenis Aedes berkurang itu sulit. Tapi untuk malaria betul. 

*) Dokter Spesialis Anak RSUD dr Soetomo Surabaya

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (Disarikan reporter Jawa Pos Agas Putra Hartanto/c9/agm)