Filantropi – Radar Malang Online

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti dari kata filantropi adalah cinta kasih, (kedermawanan dan sebagainya) kepada sesama. Dalam Islam, aktivitas filantropi adalah shodaqoh. Cukup banyak  ayat tentang keutamaan shodaqoh di dalam Alquran. Dan semua agama sangat menganjurkan kepada pemeluknya untuk ber-filantropi. Di Tiongkok, ada peribahasa kuno tentang betapa mulianya filantropi ini. Jika diterjemahkan secara bebas, arti dari peribahasa tersebut sebagai berikut:

Jika Anda ingin kebahagiaan selama satu jam, silakan tidur siang.

Jika Anda ingin kebahagiaan selama satu hari, pergilah memancing.

Jika Anda ingin kebahagiaan selama satu tahun, warisi kekayaan.

Jika Anda ingin kebahagiaan seumur hidup, bantulah orang lain.”

Ternyata aktivitas filantropi ini cukup menarik perhatian para ilmuwan untuk menelitinya secara terus-menerus. Adalah Michael Norton, profesor dari Harvard Business School, yang pada 2008 bersama teman-temannya meneliti perilaku 632 orang. Yang diteliti adalah perilaku dalam mengalokasikan pendapatan bulanannya. Hasilnya, orang-orang yang mengalokasikan uangnya untuk berbagi dengan orang lain jauh lebih bahagia dibandingkan dengan yang menghabiskan uangnya untuk diri sendiri. Menurut Norton, memberikan uang kepada orang lain, dapat meningkatkan perasaan yang disebut sebagai: subjective wealth, atau besarnya rasa nyaman.

Ilmuwan lainnya yang meneliti tentang aktivitas filantropi adalah Sonja Lyubomirs, seorang profesor psikologi di University of California. Dia meminta kepada orang yang menjadi objek penelitiannya untuk melakukan lima kebaikan setiap minggu selama enam minggu. Ternyata, setelah melewati enam minggu, orang-orang itu merasa jauh lebih bahagia dibanding sebelumnya.

Tristen Inagaki dari University of Pittsburgh dan Naomi Eisenberger dari University of California menjelaskan tentang pengaruh berderma terhadap otak. Hal ini mereka jelaskan dalam studinya yang berjudul: The Neurobiology of Giving Versus Receiving Support: The Role of Stress-Related and Social Reward-Related Neural Activity, pada Februari 2016.

Dalam penelitian Inagaki dan Naomi ini menggunakan fMRI (fungsional Magnetic Resonance Imaging) untuk memonitor kinerja saraf otak saat seseorang melakukan aktivitas memberi dan menerima. Ternyata, otak lebih memancarkan citra positif saat seseorang memberi. Mereka merangkum tiga hal yang terjadi di otak seperti ini:

  1. Tingkat stres di anterior cingulate cortex (ACC), anterior insula kanan, dan amygdala kanan menurun drastis.
  2. Terjadi aktivitas positif di ventral striatum, baik kiri maupun kanan.
  3. Tercipta aktivitas kesenangan di septal area. Semua aktivitas positif yang di otak tersebut terjadi saat seseorang berderma.

Namun, hal positif tersebut tidak muncul saat seseorang menerima.

Nah, cukup jelaslah di sini, mengapa semua agama menganjurkan kepada para pemeluknya untuk berderma, atau berinfak, atau bershodaqoh. Jadi, tidak hanya alasan karena diperintah agama. Tetapi, aktivitas ber-filantropi ternyata sangat positif bagi kesehatan tubuh. Terutama dalam menciptakan kebahagiaan.

Anda mungkin pernah mendengar adanya ungkapan, bahwa orang yang kaya itu belum tentu bahagia. Harta yang melimpah, belum tentu mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya dan keluarganya. Dari sini, kita lantas bisa mengerti, mengapa orang-orang terkaya di dunia, seperti Bill Gates dan Warren Buffett begitu getolnya berderma, sehingga dijuluki filantropis terbesar di dunia. Kekayaan yang didermakan kedua orang terkaya itu untuk kemanusiaan tak tanggung-tanggung: Separo lebih dari total kekayaan mereka. Itu semua mereka lakukan, bisa jadi, keduanya ingin mendapatkan kebahagiaan. Mereka kaya raya, dan mereka juga ingin berbahagia, dengan cara membagi harta kekayaannya untuk orang lain. Untuk kepentingan kemanusiaan.

Di Kota Malang, Iwan Kurniawan termasuk salah seorang pengusaha yang secara rutin ber-filantropi dengan cara menyantuni anak-anak yatim-piatu di Malang Raya setiap Ramadan. Aktivitas filantropi Iwan ini dilakukan setiap tahun tanpa berhenti, dan sudah dilakukan sejak 12 tahun lalu. Di Kabupaten Malang, Iwan berkeliling ke 33 kecamatan untuk memberikan santunan. Setiap kecamatan rata-rata anak-anak yatim yang disantuni antara 600–700 orang. Dari usia balita hingga anak-anak. Tidak hanya diberi santunan, Iwan juga memberi mereka peralatan sekolah. Dan dalam waktu dekat, dia juga berencana membangun pesantren untuk menampung anak-anak yatim-piatu untuk diberikan bekal pendidikan dan keterampilan bagi masa depan mereka.

Saya yakin, selain Iwan Kurniawan, masih banyak lagi pengusaha lain di Malang Raya ini yang ber-filantropi. So, aktivitas filantropi tidak hanya bermanfaat bagi yang menerima. Tapi, bagi yang melakukan aktivitas filantropi, ternyata bisa memberikan kontribusi bagi rasa bahagia. (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp/dihimpun dari berbagai sumber)