Filosofi “Polisi Tidur” dalam Perjalanan Cinta…

Deka Adrianto Utomo

Tiada seorangpun yang bisa kembali dan mulai baru dari awal. Setiap orang dapat mulai saat ini dan melakukan akhir yang baru. Tuhan tidak menjanjikan hari-hari tanpa sakit, tertawa tanpa kesedihan, matahari tanpa hujan, tetapi dia menjanjikan kekuatan untuk hari itu, kebahagiaan untuk air mata, dan terang dalam perjalanan.

Kekecewaan bagai “polisi tidur”, ini akan memperlambatmu sedikit tetapi kau selanjutnya akan menikmati jalan rata. Jangan tinggal terlalu lama saat ada “polisi tidur”.

Berjalanlah terus. Ketika kamu kecewa karena tidak memperoleh apa yang kaukehendaki, terimalah dan bergembiralah, karena Tuhan sedang memikirkan sesuatu yang lebih baik untuk dirimu,

Saat terjadi sesuatu padamu, baik atau buruk, pertimbangkanlah artinya…

Ada suatu maksud untuk setiap kejadian dalam kehidupan, mengajarmu bagaimana lebih seringkali tertawa atau tidak terlalu keras menangis. Kamu tidak dapat memaksa seseorang mencintaimu, apa yang dapat kamu perbuat hanyalah membiarkan dirimu untuk dicintai, selebihnya ada pada orang itu untuk menilai dirimu.



Jadi sekali kamu memperoleh cinta jangan lepaskan, ada kemungkinan cinta itu tidak datang kembali. Lebih baik kehilangan harga dirimu kepada orang yang mencintaimu, daripada kehilangan orang yang kaucintai karena harga dirimu.

Jika kamu sungguh-sungguh senang pada seseorang, janganlah kau mencari-cari kekurangannya, kamu jangan mencari-cari alasan, kamu jangan mencari-cari kesalahannya. Siapa yang menduga orang yang kita pilih ternyata justru memilih orang lain, siapa pula yang menduga orang yang tidak kita pilih justru memilih kita. Semua itu rahasia yang indah.

Bukankah cerita cinta itu harus ada unsur kecocokan di dalamnya? Pacaran lama bukanlah bukti bahwa kita cocok sama dia. Semakin lama kita menjalin cerita cinta dengan seseorang, semakin kita tau bagaimana sifat asli dia.

Yang harus kita perhatikan, apakah kita sanggup menerima kekurangan yang dimiliki pasangan kita ? Pasangan yang ideal bukanlah pasangan yang banyak memiliki kesamaan, tapi pasangan yang mampu menutupi kelemahan yang dimiliki oleh pasangannya masing-masing.

Orang tua saya pernah berkata “Jangan pernah mengharapkan kesempurnaan dari pasangan kita. Kamu gak akan pernah bahagia kalau hanya mencari kesempurnaan. Yang harus kamu lakukan adalah bagaimana caranya menutupi kelemahan yang dimiliki oleh pasangan kita dan mengubahnya jadi kekuatan.

Anggap kelemahan adalah hal yang negatif. Ibaratkan dalam rumus matematika. Negatif dikali negatif sama dengan positif, sedangkan negatif ditambah negatif makin besar negatifnya. Kekurangan yang dimiliki oleh kita harus bisa dikalikan dengan hal baik sehingga hasilnya menjadi positif.

Jangan malah ditambah”. Dari cerita cinta dan hidup yang saya dengar tersebut, saya mengambil kesimpulan, bahwa cerita cinta antara 2 insan yang berbeda baru akan mendapatkan hasil yang positif kalau memiliki tujuan yang sama.

Tanpa adanya tujuan yang sama dalam berpacaran, maka cerita cinta itu gak akan bedanya dengan 2 kutub yang saling bertolak belakang dan bertentangan.

Pewarta : Deka Adrianto U