Hadiah Nobel, Kapan Indonesia?

PEMENANG hadiah Nobel 2019 baru saja diumumkan. Nobel bidang ekonomi, perdamaian, sastra, kimia, fisika, dan kedokteran setiap tahun diumumkan dengan kejutan dan kadang kontroversial. Diprakarsai ilmuwan dan industrialis Alfred Nobel dari Swedia, penghargaan tersebut diberikan kepada seseorang yang dianggap memberikan sumbangan akademik dan kebudayaan serta penemuan baru yang memengaruhi dunia yang ditetapkan oleh pusat institusi akademik di Swedia dan Norwegia. Nobel dianggap merupakan penghargaan paling prestisius dan diakui di seluruh dunia untuk tokoh dan ilmuwan sesuai dengan bidangnya.

Sejarah

Sosok Alfred Nobel sangat berpengaruh terhadap penghargaan bergengsi ini. Dia adalah penemu dinamit dan pengusaha yang sukses di bidang industri kimia. Ide memberikan sebagian hartanya untuk sumbangan dana bagi perkembangan ilmu, kebudayaan, dan perdamaian yang berguna bagi kemaslahatan umat sudah sering disampaikan kepada keluarga dan teman dekatnya. Karena itu, 5 tahun setelah kematiannya, pada 1900, keinginan tersebut baru diwujudkan oleh teman-temannya dalam organisasi yang didirikan secara resmi di Swedia.

Sesuai dengan cita-cita Alfred Nobel, ’to those who, during the preceding year, shall have conferred the greatest benefit of mankind’, kemudian Nobel Foundation kali pertama memberikan penghargaan Nobel Prize bidang fisika kepada Wilhelm Conrad Rontgen, penemu X-rays (sinar rontgen) yang sampai saat ini sangat berguna di dunia medis. Juga penghargaan di bidang kedokteran diberikan kepada Emil von Behring, peneliti Jerman yang menemukan antitoksin (vaksin) penyakit difteria.



Nobel bidang perdamaian diberikan kepada Jean Henry Dunant, pendiri Palang Merah Internasional. Semua sosok nobelist pertama itu terbukti sampai sekarang karyanya masih membumi dan bermanfaat bagi umat manusia. Hingga sekarang, hadiah Nobel diberikan tiap tahun. Tetapi, bukannya tanpa masalah dan kontroversi. Pada 1940 hingga 1942, pemberian penghargaan ditangguhkan karena Perang Dunia II terjadi di seluruh Eropa. Pada 1930-an, tiga ilmuwan Jerman yang terpilih juga dilarang berangkat dan menerima hadiah Nobel oleh Adolf Hitler.

Bahkan, ada yang menolak penghargaan itu. Jean-Paul Satre, sastrawan Prancis, setelah diumumkan terpilih (1964) menolak dengan alasan seorang ilmuwan tidak boleh menerima hadiah atau terikat dengan organisasi tertentu. Masalah sosial politik sering menjadi sumber polemik kontroversi.

Terpilihnya Shimon Perez dan Yasser Arafat sebagai pemenang Nobel Perdamaian 1994 mendapat banyak protes keras dari khalayak yang pro maupun kontra. Demikian juga desakan keras agar mencabut hadiah Nobel (1991) untuk Aung San Suu Kyi terjadi karena sikapnya yang membiarkan aktivitas genosida terhadap muslim Rohingya di negaranya.

Tentu saja tekanan politik yang membuat Suu Kyi bersikap demikian. Sebaliknya juga dipertanyakan tokoh-tokoh seperti Mahatma Gandi dan Corazon Aquino yang tidak dipertimbangkan untuk menerima penghargaan tersebut. Sebelumnya memang ada anggapan bahwa tokoh dan ilmuwan dari Eropa (Eurocentrism) cenderung lebih diutamakan.

Kapan Indonesia?

Terlepas dari kontroversi yang ada, hadiah Nobel tetap diakui dan ditunggu-tunggu ceremony-nya setiap tahun. Negara dengan ilmuwannya yang terpilih akan sangat bangga atas penghargaan prestisius tersebut. Hingga 2019, sebanyak 916 ilmuwan dan 24 organisasi terpilih sebagai pemenang Nobel. Bahkan, ada yang terpilih 2 kali pada tahun berbeda. Tercatat negara paling banyak menyumbangkan ilmuwannya adalah AS, diikuti Inggris, Jerman, dan Prancis. Semuanya dari Western Countries. Bahkan, bila dilakukan mapping lebih luas, AS dan Kanada serta negara-negara Western Europe menunjukkan 81 persen pemenang dari total hadiah Nobel sejak 1901.

Yang menarik, Benua Asia. Meski mewakili hampir 55 persen populasi dunia, mereka hanya menyumbang sekitar 5 persen pemenang Nobel. Jepang merupakan negara dengan penyumbang terbanyak (29 ilmuwan), diikuti Israel, India, dan Tiongkok. Di Asia Tenggara tercatat nama Aung San Suu Kyi (Myanmar), Le Duc Tho (Vietnam), serta Carlos Bello dan Jose Ramos Horta (Timor Leste). Mereka yang terpilih sebagai pemenang Nobel Perdamaian cenderung sebagai seorang tokoh populer/pejuang kemerdekaan ketimbang sebagai ’’ilmuwan’’.

Yang menarik seharusnya mendiang B.J. Habibie, yang saat itu juga harus dipertimbangkan karena beliau tokoh yang berani memulai referendum dan kemerdekaan Timor Leste, bersama Uskup Bello dan Ramos Horta. Hal itu mirip dengan skenario pemberian hadiah Nobel Perdamaian kepada Anwar Sadat dan Menachem Begin (perjanjian perdamaian di Timur Tengah), Nelson Mandella dan F.W. de Klerk (penyelesaian damai di Afrika Selatan pascapolitik apartheid), dan Yasser Arafat, Shimon Peres, dan Yitzhak Rabin (inisiasi damai Palestina-Israel).

Mungkin saat itu diplomasi Indonesia belum begitu kuat dan B.J. Habibie baru memulai peran sebagai tokoh politik (presiden RI) yang sebelumnya kiprah beliau banyak sebagai ilmuwan ahli pesawat terbang. Beberapa ilmuwan Asia yang cukup menonjol, antara lain, Muhammad Yunus, seorang banker dan social entrepreneur dari Bangladesh, pemenang Nobel 2006. Cukup menonjol dengan mengalahkan pesaingnya sebagai pioner konsep mikrokredit dan microfinance dalam perbaikan sosial ekonomi masyarakat bawah di negaranya.

Abdus Salam, ahli fisika dari Pakistan dengan teori electroweak unification-nya memenangkan Nobel 1979. Dia tercatat sebagai pemenang Nobel kedua dari negara muslim setelah Anwar Sadat dari Mesir. Melihat angka dan distribusi hadiah Nobel selama ini, tampaknya, selain aspek kultur dan budaya, motivasi individu sangat berperan. Jepang adalah salah satu negara yang mewakili kultur pendidikan dan penelitian yang menonjol dan didukung penuh oleh negara. Juga secara individu memiliki kultur workaholic, serius, dan fokus dalam bekerja. Israel yang memiliki populasi 0,2 persen dunia dengan 12 pemenang Nobel.

Yang menarik sebenarnya orang Yahudi (bukan saja yang warga negara Israel) mendominasi lebih dari 20 persen pemenang Nobel. Nama-nama seperti Albert Einstein, Niels Bohr, sampai Bob Dylan di antaranya. Kultur Yahudi mungkin memengaruhi personality juga, meskipun hidup di negara-negara berbeda.

Sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar dunia, potensi bangsa Indonesia sudah tersedia. Yang kita butuhkan hanya kultur dan pembentukan sumber daya manusia yang unggul dan percaya diri.

Hadiah Nobel bukan sesuatu yang diimpikan. Tetapi, dengan usaha keras dan serius dalam perspektif menyumbangkan sesuatu kepada kemaslahatan umat, penghargaan tersebut akan datang dengan sendirinya. Akira Yoshino, pemenang Nobel 2019, mengatakan sangat terkejut. Penemu baterai ion litium ini memulai penelitian pada 1981 di Jepang.

Hingga kemudian, produksi hasil penelitiannya dikomersialkan sejak 1991 dan terus disempurnakan. Baterai ion litium sekarang banyak kita gunakan untuk telepon genggam, laptop, mobil listrik, dan peralatan rumah tangga. Hampir 40 tahun dari awal meneliti, Yoshino akhirnya mendapat Nobel.

Indonesia bisa memulai. Mungkin setengah abad lagi kita mendapat hasilnya. Tidak ada kata terlambat. Semoga! (*)


*) Asra Al Fauzi, Dokter ahli bedah saraf RSUD dr Soetomo, dosen Fakultas Kedokteran Unair