Hampir Terjerat  Faham Radikal di Malang

Jika hari-hari ini ada kampus di Malang yang ditengarai banyak mahasiswanya yang aktif dalam sebuah gerakan radikal, penulis tidak kaget. Karena penulis pernah hampir terjerat gerakan semacam itu. Peristiwa itu terjadi saat saya masih kuliah di salah satu PTN di Malang sekitar 1998. Saat itu ada beberapa teman saya sekelas yang kasak kusuknya terjerat faham  NII (Negara Islam Indonesia). Nah teman-temanku itu mengalami perubahan prilaku yang agak berbeda. Mereka cenderung pendiam dan agak tertutup.

Ada juga salah seorang teman perempuan yang juga terjerat. Dia sosok pendiam dan pemalu, setelah terjerat faham radikal itu, dia menjadi ling lung. Bahkan dia tidak malu datang ke asrama saya dengan tujuan untuk meminjam uang senilai Rp 700 ribu. Dan langsung saja permintaan itu saya tolak. Kok bisa pinjam Rp 700 ribu lha wong uang saku saya saja waktu itu hanya Rp 350 ribu.

Saat itu nilai tersebut sangat besar, mengingat harga nasi pecel saja masih kisaran Rp 500. Katanya uang itu untuk iuran wajib setiap bulan. Entah iuran apa, tapi dugaan saya ya untuk kelompok yang dia ikuti itu. Dia terpaksa meminjam saya karena orang tuanya yang tinggal di Blitar sudah tidak mau mengasih uang lagi.

Suatu ketika salah seorang teman menghampiri saya yang waktu itu berjualan di sebuah kois di Jl Joyotambaksari, Lowokwaru Kota Malang. Dia datang ke kios lalu mengobrol singkat dan mengajak saya untuk mengikuti sebuah kajian. Sebenarnya saya kurang tertarik dengan istilah kajian itu, karena menghargai teman, akhirnya saya OK.

Kami lalu naik angkot JPK (Joyogrand Piranha Karanglo Indah). Saat itu kami diajak turun di jalan tikungan sebelum memasuki Jl Piranha, Blimbing. Begitu turun teman saya langsung mengajak saya ke sebuah rumah paling pinggir di sebuah gang.



Saya agak kaget begitu masuk ke rumah itu. Karena di sana sepi, hanya ada seorang di dalam rumah. Katanya kajian kok sepi. Setelah kami masuk, tanpa banyak kata, saya diminta masuk ke sebuah kamar. Di kamar itu ada seorang pemuda yang duduk dan di depannya terdapat kitab suci Alquran.

Pemuda itu lalu mengajak diskusi saya soal bentuk negara soal sistem pemerintahan di Indonesia dan macam-macam. Karena curiga, saya langsung memposisikan diri saya sebagi orang yang tidak setuju dengan orang tersebut. Saya selalu membantah dan menolak pendapat dia.

Sampai sampai dia jengkel dan menunjuk Alquran dan menganggap saya menolak Alquran. “Itu kan pendapatmu terserah, yang jelas saya tidak setuju dengan pendapat Anda,” begitu kira-kira ucapan saya waktu itu.

Karena diskusi tidak pernah menemui titik temu, saya minta izin pulang tetapi dilarang. Saya minta izin pulang tetapi digandoli terus. Akhirnya saya tetap pulang dan keluar tanpa ditemani teman saya. Bahkan waktu itu teman saya pesan ke saya  tidak boleh bilang siapa-siapa kalau ingin selamat. Merasa terancam saya waktu itu juga mengancam. Tapi saya lupa seperti apa kata-kata ancaman saya.

Sejak kejadian itu hubungan baik saya dengan teman saya tersebut menjadi agak renggang. Saya memilih sibuk jualan pracangan di kios, hasilnya lebih jelas meski tidak banyak.  Dugaan saya di sejumlah kampus di Malang masih ada gerakan Islam radikal yang menyasar kepada para mahasiswa. Meskipun namanya barangkali berbeda, bukan NII lagi seperti zaman saya dulu. Bikin nama kan gampang.

Dan dugaan saya tidak hanya di Malang, di kampus-kampus lain di luar Malang juga ada gerakan itu sampai sekarang masih ada, meski, tidak mudah membuktikannya. Karena cara-cara yang digunakan juga  halus  sehingga yang dibidik tidak terasa. Inilah yang perlu diwaspadai oleh para mahasiswa dan orang tua.

Penulis: Kholid Amrullah, wartawan Jawa Pos Radar Malang