Hanoi – Radar Malang Online

Saya baru kali ini ke Vietnam. Itu pun berawal dari rasa penasaran. Vietnam yang katanya sedang menggeliat mempromosikan pariwisatanya. Vietnam yang katanya sedang ingin menyalip Indonesia. Vietnam yang katanya banyak tenaga kerjanya yang mulai menyerbu ke Indonesia setelah diberlakukan free market ASEAN. Itulah selentingan kabar yang membuat saya penasaran dengan Vietnam.

Padahal, banyak kawan-kawan saya yang setengah mencemooh ketika saya pamiti akan ke Vietnam. ”Ada apa di Vietnam? Apanya yang menarik dari Vietnam?” Seperti inilah deretan kalimat yang keluar dari komentar kawan-kawan saya.

Dari Surabaya saya terbang dengan Air Asia ke Kuala Lumpur, Kamis lalu (16/8). Sekitar dua jam penerbangan. Setelah transit sekitar dua jam, saya melanjutkan perjalanan ke Hanoi, masih dengan Air Asia. Perjalanan dari Kuala Lumpur ke Hanoi sekitar 3,5 jam. Pada saat akan landing, saya melihat areal persawahan yang begitu luas. Seperti di pedesaan. Saya juga menyaksikan dari atas rumah-rumah penduduk yang tradisional. Ini menunjukkan Hanoi masih didominasi dengan persawahan dan suasana pedesaan.

Saya tiba di Bandara Internasional Noi Bai Hanoi sekitar pukul 15.00, sore. Tidak ada perbedaan waktu dengan WIB (waktu Indonesia bagian barat).



Kita ke negara lain, tapi jamnya sama. Ya, di Vietnam ini. Sementara ketika kita bepergian ke daerah lain masih di Indonesia, jamnya bisa berbeda. Selain WIB, ada WITA (waktu Indonesia bagian tengah) dan WIT (waktu Indonesia bagian timur). Jadi, pergi ke Bali terasa lebih jauh ketimbang ke Vietnam. Karena di Bali, jamnya berbeda, sementara di Vietnam jamnya sama.

Bandara Noi Bai sore itu tak begitu ramai dikunjungi turis asing. Ini terbukti dari antrean imigrasi.
Bandara Noi Bai tak kalah dengan bandara-bandara internasional di negara maju. Dari sisi interior di dalamnya. Pernak-pernik penghiasnya. Juga fasilitas pendukungnya. Dari sisi ini saja, kita bisa merasakan, betapa Vietnam punya spirit tak mau kalah.

Dalam 10 tahun terakhir, Vietnam memang sangat gencar membangun infrastrukturnya. Dan itu tak butuh waktu lama. Bisa jadi, proses pembangunan itu bisa cepat, karena di sana sangat efektif pemerintahannya. Dan sangat stabil perpolitikannya. Maklum, di sana hanya ada satu partai: Republik Sosialis Vietnam.

Dalam 10 tahun terakhir ini, Vietnam berhasil membangun Vinh Tuy Bridge. Ini merupakan jembatan di atas Sungai Merah yang selesai dibangun pada 2008. Selain itu, Hanoi juga sukses membangun Nhat Tan Bridge yang merupakan jembatan kabel (cable stayed) yang diresmikan pada Januari 2015. Nhat Tan Bridge adalah bagian dari enam jalur jalan raya baru yang menghubungkan Hanoi dan Bandara Internasional Noi Bai. Jadi, dari Noi Bai sudah dibangun enam jalur jalan raya baru yang mempercepat untuk menjangkau kota-kota lain selain Hanoi.

Di bidang properti, Hanoi saat ini sedang gencar membangun sejumlah proyek properti skala raksasa. Dua di antaranya yang terbaru adalah Ecopark dan Vinhomes Riverside. Masing-masing berdiri di atas lahan sekitar 500 hektare. Saya pun teringat proyek Meikarta di Cikarang milik Lippo yang pada tahap pertama ini diklaim juga berdiri di atas lahan sekitar 500 hektare.

Ecopark berlokasi di Desa Bat Trang. Proyek ini merupakan pengembangan kota mandiri yang diperkirakan menelan biaya hingga 8,2 miliar dolar Amerika. Proyek ini akan diselesaikan dalam sembilan tahap, dan secara keseluruhan akan rampung dalam 16 tahun ke depan.

Sedangkan untuk Vinhomes Riverside, direncanakan akan dibangun kota baru pada tahap pertama di atas lahan 200 hektare. Sedangkan untuk tahap kedua dilanjutkan akan dibangun di atas lahan 300 hektare.
Inilah geliat Hanoi mempersiapkan masa depan kotanya. Kita pun dapat membayangkan, Hanoi dalam 10–15 tahun ke depan, bisa jadi akan berdiri kota-kota mandiri baru dengan berbagai macam fasilitas yang modern. Bisa jadi pula, pembangunan infrastruktur akan lebih digencarkan juga. Bisa jadi pula, pada saat itu kita disalip dari sisi progresivitas dalam membangun kawasan baru dan infrastruktur.

Pada sisi lain, untuk saat ini, kondisi di sudut-sudut perkotaan Hanoi tak berbeda jauh dengan di kawasan Jakarta pinggiran. Kemacetan dan keruwetan lalu lintas. Motor yang sering membunyikan klakson. Serta pengendara motor yang main slonong, main potong jalur dan melawan arus. Dari sisi ini, tak berbeda dengan di kota-kota besar Indonesia.

Saya melihat begitu banyaknya pengendara motor bersliweran di jalan-jalan protokol Kota Hanoi. Jarang sekali saya melihat mobil-mobil mewah bersliweran.

Malam itu saya berjalan-jalan di salah satu mal terbesar di Hanoi: Vincom Mega Mall di Times City. Mal ini terletak di kawasan superblok, di mana di kanan-kirinya berdiri blok-blok apartemen. Tak begitu ramai suasana di dalam mal ini. Para pengunjungnya pun tak seperti layaknya pengunjung di mal-mal besar dan modern di negara-negara maju. Bisa dilihat dari dandanan dan penampilannya.

Tapi terlepas dari apa pun, saya tetap harus salut dengan geliat Kota Hanoi dalam mengejar ketertinggalan. Puluhan tahun Vietnam diubrak-abrik perang (1957–1975). Kota-kotanya hancur berantakan, termasuk Hanoi. Tapi, kini mereka berlari mengejar ketertinggalan. Semangat mereka tak mau kalah dengan negara-negara maju. Jika kita terlena, kita bisa disalip Vietnam. (Kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum _jp)