Hape

Seorang teman, suatu ketika mengirimi saya  foto, yang menunjukkan dia sedang berada satu ruangan dengan salah satu wakil gubernur. Di foto itu terlihat, teman saya menghadap ke arah wakil gubernur itu. Dia sedang berbicara. Tapi, si wakil gubernur sedang asyik melihat hape-nya. Padahal, teman saya sedang berbicara kepadanya.

Kalau aku jadi engkau, akan aku tinggal si wakil gubernur itu. Wong diajak ngomong kok malah pegang-pegang dan lihat-lihat hape,” kata saya kepada teman tadi, bernada nggojlok.

Saya paling tidak suka jika ngobrol dengan seseorang, lalu orang itu sambil melihat-lihat hapenya. Itu, bagi saya, sama halnya dia kurang menghargai lawan bicaranya. Menurut saya, bisa juga dimaknai meremehkan lawan bicaranya. Karena itu, sering ketika saya mengajak ngobrol seseorang, lalu di sela-sela kami ngobrol itu dia asyik memainkan hapenya, saya langsung pamit pergi.

Dan sering yang berbuat seperti itu selevel pejabat. Saya pamit pergi, karena bagi saya, sudah tak ada gunanya saya ngobrol dengan dia, karena bagi dia, hape jauh lebih penting ketimbang ngobrol dengan orang yang ada di hadapannya.



Saya pun harus konsisten. Setiap ada tamu yang datang menemui saya, hape akan saya letakkan agak jauh dari posisi saya. Selain itu juga saya silent-kan suaranya.Tujuannya agar fokus saya dalam menerima tamu itu tidak terganggu oleh hape. Kalaupun ada telepon masuk, dan itu misalnya urgen, saya minta izin kepada lawan bicara saya.

Itulah etika. Dan etika itu sangat terkait dengan kepekaan. Semakin orang itu peka, maka semakin tahu etika. Sebaliknya, semakin orang itu tidak peka, maka semakin dia tidak tahu etika.

Terkadang melihat hape itu sudah menjadi refleks. Sudah menjadi kebiasaan alias habit. Kalau semenit saja nggak melihat hape, rasanya ada yang kurang. Makanya sampai ada guyonan begini: kalau dulu, kebutuhan pokok manusia itu ada tiga, yakni: sandang, pangan, dan papan.

Maka sekarang, sudah berkembang menjadi: sandang, pangan, papan, paketan (maksudnya paketan hape) dan colokan (maksudnya colokan listrik untuk nge-charge hape). Ini saking kelewat dianggap pentingnya hape.

Di keluarga, saya akan menegur keras istri dan anak-anak saya, jika sedang berkumpul, lalu masing-masing main hape. Ketika sedang ngumpul, saya haramkan untuk main hape sendiri-sendiri. Mengapa? Apa gunanya berkumpul, kalau masing-masing asyik dengan mainan hape? Ini yang disebut ”dekat tapi jauh”.

Saya juga akan menegur istri atau anak saya, ketika mereka sedang menerima tamu, lalu diselingi dengan main hape. Karena itu sama halnya dengan meremehkan tamu. Berarti kurang menghargai tamu. Bukankah salah satu ukuran keimanan seseorang itu dapat dilihat dari bagaimana dia menghargai tamunya?

Makanya, ketika saya bertamu, kemudian orang yang saya kunjungi menerima saya sambil dia memainkan hapenya, saya tidak akan berlama-lama bertamu. Cukup menyampaikan tujuan, setelah itu saya pamitan.

Buat apa, saya lama-lama bertamu kepada orang yang kurang menghargai. Dengan kata lain, dia kurang berkenan kita datangi. Makanya, kita harus tahu diri ketika kedatangan kita kurang diharapkan. Atau membuat si tuan rumah kurang welcome.

Hape memang telah ”merevolusi” habit manusia belakangan ini. Manusia menjadi semakin pragmatis. Dan manusia menjadi semakin jauh dari etika. Dengan maraknya WhatsApp (WA), mengucapkan bela sungkawa jika ada teman yang tertimpa musibah, tak perlu harus datang langsung ke rumah duka.

Cukup mengucapkan bela sungkawa lewat WA, ditambah dengan berbagai emoticon yang menunjukkan rasa sedih dan duka, sudah dianggap cukup. Dengan maraknya WA, mohon maaf lahir dan batin saat Idul Fitri, tak perlu lagi harus datang silaturahmi ke rumah-rumah teman atau kerabat. Merasa sudah kirim ucapan lewat WA, sudah dianggap cukup.

Entahlah, bagaimana kelak jadinya, jika hape sudah semakin mencandui kita. Mungkin, kita akan menjadi orang yang semakin anti sosial. Mungkin kita akan menjadi orang yang semakin mudah dihasut dan diadu domba.

Dan mungkin kita akan menjadi orang yang semakin jauh dari etika serta semakin jauh dari kepekaan nurani. Naudzubillahi mindalik. Semoga, kekhawatiran-kekhawatiran itu tidak terjadi.  Semoga….semoga. (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp