Harmoni Alam dan Wisatawan Bali

Indonesia berpengalaman mengelola krisis serupa pada masa sebelumnya. Upaya Kemenpar dalam menangani dampak letusan Gunung Raung beberapa tahun lalu patut diapresiasi. Kemenpar telah menyusun standard operating procedure (SOP) pengalihan moda transportasi yang lebih aman bagi wisatawan. Bagi wisatawan mancanegara yang ”terperangkap” di Bali, Kemenpar menawarkan dua hal. Pertama, extension program berupa wisata overland ke Banyuwangi atau ke Gili Trawangan di Lombok, NTB. Kedua, bebas biaya kamar hotel sebagai kompensasi perpanjangan lama tinggal.

Krisis telanjur kita pahami sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan. Bank Indonesia Kantor Perwakilan Denpasar menghitung kerugian industri pariwisata dampak penutupan Bandara Ngurah Rai selama tiga hari yang lalu sebesar Rp 209 miliar. Itu berdasar penghitungan 44.000 turis mancanegara yang batal datang dengan rata-rata belanja sekitar Rp 1,3 juta per hari per orang selama rata-rata tinggal tiga hari di Bali. Angka tersebut ditambah penghitungan batalnya kedatangan turis domestik sekitar 44.000 orang dengan potensi belanja berkisar Rp 520.000 per hari per orang selama dua hari. Itu belum termasuk kerugian sekitar Rp 11,5 miliar dari pembatalan 11.031 kamar di 44 hotel dan vila.

Rhenald Kasali (2009:35–36) menyatakan, krisis mengundang kesempatan dan harapan, yaitu kesempatan untuk tampil lebih baik, untuk merebut garis depan, untuk mengalahkan orang-orang/perusahaan yang lemah. Setiap kali krisis, selalu diikuti lima hal ini. (1) Gabungan dari bencana dan kesempatan. (2) Menghancurkan sekaligus menimbulkan pasar-pasar baru. (3) Alat bagi Yang Mahakuasa untuk menghancurkan keangkuhan yang tampak dari begitu kuatnya resistansi-resistansi yang dilakukan manusia terhadap gagasan-gagasan perubahan. (4) Titik belok yang krusial, berbahaya kalau digas, sehingga diperlukan kehati-hatian dan ketepatan. Tapi, begitu berhasil melewati jalan berbelok, banyak peluang terbuka lebar. (5) Terhadap peringatan akan datangnya krisis, belum tentu peringatan itu berakibat krisis.

Karena itu, krisis harus dipahami dari kacamata yang kontradiktif. Krisis adalah peringatan yang bisa berakibat fatal kalau Anda tidak meresponsnya dengan cepat dan bijak.



Wisatawan Unggul
Bencana alam seperti erupsi Gunung Agung sepantasnya tidak hanya dilihat dari sisi negatif. Aspek negatif selalu mengasosiasikan dengan kerugian materiil dan nonmateriil. Rasa frustrasi pasti ada, bahkan (berkaca pada erupsi Gunung Raung) imbas kerugian dari peristiwa alam itu amat dirasakan wisatawan, pengelola bandara, dan maskapai penerbangan. Citilink, misalnya, dikabarkan menanggung kerugian dengan kisaran Rp 5 miliar.

Namun, keselarasan dan harmoni alam semesta serta manusia sebagai bagian dari filosofi Tri Hita Karana menjadi keniscayaan untuk menggali kebaikan dari erupsi Gunung Agung. Karena itu, gagasan Rhenald Kasali perihal krisis di atas memiliki irisan yang tepat manakala dikaitkan dengan profil wisatawan unggulan yang dibutuhkan Bali khususnya dan Indonesia umumnya.

Pesan dan sinyal itu sebenarnya mulai terang benderang saat kunjungan liburan mantan Presiden AS Barack Obama di Bali beberapa waktu lalu. Obama yang memilih Ubud sebagai pusat liburannya mengingatkan kembali akan cita rasa berwisata yang substantif untuk kesegaran jiwa sebagai dampak keserasian dengan ketenangan alam dan interaksi dengan kebudayaan. Inilah ”peta jalan” seseorang menjadi manusia unggul melalui aktivitas traveling.

Kehadiran Obama mengingatkan pula akan kehadiran manusia-manusia unggul di masa lampau yang karyanya semasa hidupnya masih diapresiasi hingga sekarang. Walter Spies (Jerman), Rudolf Bonnet (Belanda), Antonio Blanco (Italia), dan Aris Smith (AS), atas undangan Raja Ubud Tjokorda Sukawati, berinteraksi dan berkarya di Ubud. Bahkan, karya-karya abadi mereka juga serasi dengan totalitas hidup mereka sampai wafat di sana. Di Ubud pula ajang seni budaya mengarahkan pembentukan manusia-manusia unggul. Di antaranya Ubud Writers & Readers Festival, Bali Institute for Renewal (Global Healing Conference), Bali Spirit Festival, dan Humanitad Foundation.

Kehadiran Obama di Ubud dapat dimaklumi manakala melihat jejak orang-orang tersohor dunia lainnya yang pernah singgah di sana. Beberapa tahun lalu Philip Kotler juga datang ke Ubud, bahkan dengan sambutan istimewa melalui kehadiran Museum Marketing 3.0. Mereka itulah yang akan menjadi ”penyeimbang” profil wisatawan asing di Bali.

Kita meyakini, wisatawan yang paham dengan fenomena alam ini akan bijak menyikapi flight cancellation, rescheduling, dan sebagainya. Kepada merekalah turisme Indonesia dapat diandalkan. Mereka tidak mudah ”termakan isu” atau hoax, smart, bijaksana, dan loyal. Mungkin erupsi Gunung Agung, salah satunya, akan menghadirkan harmoni alam dan wisatawan Bali. (*)


(*) Dosen Hotel & Tourism Business Universitas Ciputra Surabaya)