Harus Bisa Kesampingkan Ego

Harus Bisa Kesampingkan Ego

JawaPos.com – Satu-satunya tantangan yang dihadapi pemimpin muda adalah kepercayaan. Bahkan, bisa dibilang, setiap pemimpin baru selalu dihadapkan dengan permasalahan yang hampir sama. Yakni kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan mereka.

Saya saja contohnya. Ketika memulai menjabat bupati Banyuwangi pada 2016, saya sudah 47 kali didemo masyarakat. Permasalahannya saya rasa juga hampir sama.

Mereka saat itu masih tidak percaya. Padahal, saat itu saya baru saja mau menata kawasan dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Saat itu saya memiliki strategi tersendiri dalam mendapatkan kepercayaan masyarakat. Caranya dengan meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang bertugas di birokrasi. Sebab, SDM merupakan payung publik agar mendapatkan perhatian yang cukup. Kalau birokrasinya bagus, pelayanan yang diberikan kepada masyarakat pun otomatis akan bagus pula.



Karena itu, saya tidak main-main dalam melakukan perekrutan aparatur sipil negara (ASN) di Banyuwangi. Kami lebih banyak memilih para lulusan dari hukum, akuntansi, dan arsitektur. Sebab, bidang itulah yang memang sedang kami bangun.

Bukan hanya itu, saya juga menetapkan standar yang tinggi untuk merekrut mereka. Setidaknya mereka harus memiliki IPK 3,5. Selain itu, kami terus melakukan pengembangan SDM yang sudah ada saat ini.

Pemimpin juga harus memiliki skala prioritas. Pasalnya, tidak mungkin semua aspirasi warga tersebut bisa ditampung. Ada beberapa kendala yang tidak memperbolehkan kami mengambil pekerjaan secara keseluruhan. Misalnya karena terkendala anggaran, waktu, bahkan kewenangan. Itulah sebabnya, kita harus memiliki skala prioritas tersendiri.

Saya di Banyuwangi juga memiliki skala prioritas tersendiri. Itu kami tetapkan setelah memetakan masalah yang terjadi di Banyuwangi. Jangan salah, masalah kami di Banyuwangi itu ribuan. Tapi, kami ambil skala prioritasnya saja. Awalnya hal itu tentu saja akan ditentang warga. Kebanyakan mereka pasti curiga dengan apa yang kami kerjakan.

Apakah hal tersebut hanya dilakukan dalam rangka pencitraan? Apakah akan benar-benar mencapai kesejahteraan? Dua pertanyaan itulah yang sering membayangi kami ketika bekerja.

Tidak heran jika banyak yang protes ketika kali pertama saya menjabat. Namun, seiring berjalannya waktu, skala prioritas itu tumbuh dan membuahkan hasil berupa keberhasilan. Mulai saat itulah kepercayaan publik tumbuh pula. Karena kami melakukan suatu hal yang benar.

Dulu di Banyuwangi persentase kemisikinannya mencapai 20,4 persen. Itu menurut kami sudah sangat tinggi. Tingkat kunjungan wisata kami juga sedikit, yakni di angka 45 ribu pengunjung saja dalam setahun. Tapi, saat ini kami bisa menekan angka kemiskinan hingga di 7,6 persen. Di sisi lain, kami justru meningkatkan angka wisata pengunjung ke Banyuwangi. Saat ini menjadi 5,3 juta pengunjung.

Memang tidak semua permasalahan bisa kami selesaikan. Namun, masalah yang menjadi skala prioritas kami itulah yang harus berhasil. Ketika sudah mendapatkan hasil itulah, lambat laun masyarakat akan mulai memercayai kami.

Tapi, sebelum melakukan itu semua, saran saya kepada para pemuda yang ingin mencalonkan diri sebagai pemimpin, harus mencari tahu cara. Bagaimana mereka bisa meyakinkan masyarakat untuk memberikan dukungannya. Sebab, tanpa kepercayaan masyarakat, mereka tentu saja tidak akan bisa terpilih sebagai pemimpin.

Nah, caranya, mereka harus mengesampingkan semua ego. Para pemuda harus mau belajar dari siapa pun yang sudah berhasil. Maka, menurut saya, benchmarking merupakan cara yang paling tepat. Baik di dalam maupun di luar negeri. Hal tersebut lebih mudah diterapkan daripada harus mencoba hal baru yang belum pernah dicoba.

Selain itu, kuncinya berada pada partisipasi publik. Setelah terpilih, mereka harus mengedepankan orientasi untuk mendorong partisipasi publik. Jika partisipasi publik di sebuah daerah tumbuh, kerja pemimpin daerah akan menjadi lebih ringan. Sebab, sehebat apa pun pemimpinnya pasti dinilai dari partisipasi publik di daerah kepemimpinannya juga.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (disarikan dari wawancara/bin/c9/git)