HarvardX dan Tren Pendidikan Online

SUNGGUH satu pengalaman berharga, pada 24 Juli 2019, saya bersama Dekan Fakultas Bisnis dan Ekonomi (FBE) Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya Dr Ricky serta para peserta Intensive Summer Institute on Leadership yang diselenggarakan Universitas Harvard dan United Board berkesempatan mengunjungi dapurnya HarvardX di Kota Boston, Amerika Serikat (AS). Peserta Summer Institute kali ini 19 orang pimpinan perguruan tinggi yang berasal dari sembilan negara Asia.

HarvardX (http://HarvardX.harvard.edu) merupakan salah satu proyek strategis Universitas Harvard yang dimulai pada 2013. Misinya, menjangkau dunia melalui pendidikan online atau memanfaatkan perkembangan teknologi yang amat pesat di bidang pembelajaran ini. Universitas Harvard merupakan salah satu perguruan tinggi terkemuka dunia, berusia lebih dari 380 tahun, bahkan lebih tua daripada usia negara AS itu sendiri. Universitas Harvard dikenal luas sebagai salah satu pelopor pembelajaran online di tingkat dunia, bersama-sama dengan mitra sekotanya, Massachusetts Institute of Technology (MIT).

HarvardX mengintegrasikan pengembangan metode pembelajaran dengan menggunakan perangkat digital. Sekaligus juga mewadahi riset-riset para penelitinya untuk memajukan proses belajar mengajar online tersebut. Salah satu misinya ialah menyediakan pendidikan online berkualitas yang bisa diakses dari seluruh penjuru dunia, atau sering dikenal sebagai massive open online courses (MOOC).

Hingga pertengahan akhir 2018, tercatat lebih dari 6,8 juta orang yang terdaftar mengikuti sistem perkuliahan online melalui HarvardX tersebut. Dua per tiganya berdomisili di luar negara AS, berasal dari 193 negara. Menarik juga untuk dicatat, 72 persen pembelajar jarak jauh tersebut tergolong generasi milenial! Tercatat hampir 17.000 pengguna berdomisili di Indonesia.



Meghan Morrissey (senior project lead) dan Tiffany Wong (project lead) di HarvardX menjelaskan bahwa saat ini ada empat fokus yang mereka kerjakan. Yaitu, pertama, mengembangkan pelatihan dosen untuk memanfaatkan media digital dalam proses pembelajaran. Kedua, mengembangkan kuliah-kuliah online.

Ketiga, mengoptimalkan literasi religi (religious literacy). Dan, keempat, sebuah proyek yang disebut ChinaX. Yang terakhir itu adalah pengembangan konten-konten studi tentang seluk beluk Tiongkok. Rata-rata penyiapan setiap materi perkuliahan online memerlukan waktu delapan bulan.

HarvardX menyatakan diri sebagai sebuah lembaga nonprofit. Situs web HarvardX (http://HarvardX.harvard.edu) menyediakan sejumlah mata kuliah yang disediakan secara online. Menariknya, sebagian besar di antaranya tidak berbayar alias gratis, kecuali bila peserta menghendaki sertifikat ketika dinyatakan lulus ujian. Durasi untuk menempuh setiap mata kuliah itu bervariasi, 2–12 minggu. Demikian juga halnya dengan tingkat kesulitannya.

Untuk konteks Indonesia, proyek HarvardX itu menarik untuk dijadikan salah satu sumber belajar. Fakta mengenai jumlah pembelajar yang mengikuti pembelajaran online di HarvardX, termasuk sebaran geografi dan demografinya, sangat menginspirasi untuk diadaptasi di Indonesia.

Khususnya untuk meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia secara signifikan. Sesuai dengan data, saat ini APK pendidikan tinggi Indonesia tercatat sekitar 34 persen. Jauh tertinggal oleh negara-negara lain, misalnya Malaysia yang berada di angka 50 persen hingga 60 persen. Bahkan, di negara-negara maju tercatat hingga 90 persen.

Dalam lima tahun ke depan, pemerintah telah mencanangkan target untuk meningkatkan APK itu ke angka 50 persen. Peningkatan 16 persen dalam kurun hanya lima tahun merupakan lompatan yang amat besar dan memerlukan upaya yang sangat luar biasa. Hanya mengandalkan pendidikan konvensional yang semata-mata mnggantukan tatap muka membuat capaian target mulia tersebut amat sulit diwujudkan. Namun, tersedianya teknologi untuk mendukung proses pembelajaran jarak jauh itu bisa memangkas banyak ketidakmungkinan yang sebelumnya ada.

Hanya memang perlu dicatat, Meghan Morrissey dari HarvardX menyampaikan, anggaran produksi sebuah mata kuliah online relatif tinggi. Dan, yang terpenting lagi, dibutuhkan waktu panjang untuk menghasilkan sebuah mata kuliah online yang berkualitas sekaligus lengkap dengan asesmennya.

Namun, mengingat potensinya yang amat luar biasa itu, inisiatif tersebut perlu dijadikan salah satu prioritas dalam pengembangan pendidikan tinggi dan sumber daya manusia (SDM) Indonesia dalam lima tahun ke depan. Pengembangan SDM itu menjadi salah satu prioritas dalam mewujudkan visi Indonesia Maju yang dicanangkan Presiden Jokowi dalam pidatonya tentang visi Indonesia lima tahun ke depan di Sentul, Bogor, 14 Juli lalu.

Selain itu, mencermati peserta yang terdaftar di HarvardX, yang sudah memiliki gelar sarjana tercatat berkisar 70 persen. Separo di antara mereka mengidentifikasi diri sebagai guru.

Angka-angka itu menarik karena memberikan gambaran makin diperlukannya sarana-sarana untuk bisa meningkatkan kapasitas diri bagi para profesional atau penduduk yang sudah bekerja, termasuk ibu-ibu rumah tangga, untuk terus belajar, khususnya mempelajari bidang-bidang baru di tengah arus perubahan yang amat pesat di era Revolusi Industri 4.0 ini. Hal itu tecermin dari mata kuliah-mata kuliah yang ditawarkan di HarvardX.

Lebih lagi, terbuka lebar kesempatan bagi para dosen atau guru di Indonesia untuk memanfaatkan bahan-bahan ajar yang tersedia di HarvardX atau situs-situs sejenis. Misalnya, MITx dan edX untuk meningkatkan mutu dan keterkinian bahan ajar serta menambah metode penyampaiannya.

Bagi para mahasiswa Indonesia, situs-situs semacam itu menjadi peluang berharga untuk diikuti, salah satu alternatif untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing. Sebab, kurikulum konvensional yang ada di perguruan tinggi saat ini amat sulit untuk terus bekerjaran dengan perubahan-perubahan amat besar yang terjadi sebagai akibat dari perkembangan-perkembangan teknologi yang amat pesat saat ini. (*)

*) Rektor Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya