Hidup Taksi Mongolia! | JawaPos.com – Azrul Ananda

Orang ribut kendaraan umum standar atau beraplikasi. Padahal, semua masih kalah gampang kalau dibandingkan dengan di Mongolia yang jauh lebih terbelakang.

***

Mongolia membuktikan, tidak perlu ada taksi resmi, taksi beraplikasi, atau apalah sebutannya atau pola kerjanya.

Berkelompok lebih dari empat orang? Bukan masalah, sering tidak perlu cari lebih dari satu taksi.



Ingin pindah-pindah tempat dengan segera? Solusinya bisa lebih cepat daripada ojek. Bahkan tidak perlu menunggu sampai bermenit-menit.

Tidak perlu ribut soal kualitas pelayanan. Tidak perlu diskusi panjang soal mass rapid transit. Tidak butuh MRT.

Tidak perlu menunggu jadwal yang akurat sampai hitungan detik seperti di Jepang. Tidak perlu bingung berdiri di kiri atau kanan jalan.

Mau ke mana saja? Cepat dapat transportasinya. Cepat mencapai tujuannya.

Plus, tidak ada pertanyaan paling menyebalkan yang selalu disampaikan sopir taksi setiap kali kita masuk ke dalamnya, ”Mau lewat mana, Pak?”

Oh ya, satu lagi. Dan ini paling penting: Relatif tidak mahal!
 Ya. Itu semua bisa didapatkan di Mongolia.

Saya tidak salah ketik: M-O-N-G-O-L-I-A.

Di negara yang seharusnya jauh lebih terbelakang daripada Indonesia.

***

Flash back dulu ke 2012.

Waktu itu saya bertanggung jawab (CEO/manager) atas tim nasional basket muda Indonesia (U-18) yang lolos mengikuti kejuaraan FIBA Asia untuk kali pertama dalam 17 tahun.

Nasib kami tahun itu memang begitu itu. Lolos saat kejuaraan Asia tersebut diselenggarakan di Mongolia. Dengan harga tiket pesawat per orang yang lebih mahal daripada ke Amerika atau Eropa.

Dan kemudian dapat jatah menginap di hotel yang tidak ber-AC (bersama tim-tim dari negara lain).

Di Ulan Bator, ibu kota yang waktu itu tidak punya mal. Dan sama sekali tidak ada McDonald’s (menurut saya dan banyak orang sebagai alat ukur modern atau tidak).

Stadionnya besar dan megah. Hanya, seperti di banyak tempat di Indonesia, dibangunnya di tempat yang nun jauh dari Kota Ulan Bator, mempersulit peserta (dan penonton) untuk mencapainya.

Hari itu kami bertanding melawan Iran. Berangkat dari hotel on time dengan naik bus yang disediakan panitia. Klotok-klotok-klotok, kira-kira 5 km dari stadion, bus kami mogok!

Cilaka. Total rombongan lebih dari 20 orang. Ada para pemain, pelatih, ofisial, dan kru lain. Dan katanya waktu itu, butuh waktu untuk menunggu bus pengganti.

Keputusan harus cepat dibuat. Menit itu juga, kami menjadi orang Mongolia.

Ramai-ramai berdiri di pinggir jalan. Menghentikan setiap mobil untuk membawa kami ke stadion.

Ada SUV yang menampung tujuh orang. Ada hatchback kecil yang mengangkut empat orang. Dan lain-lain.

Saya, pelatih, dan beberapa ofisial duluan karena harus menghubungi panitia dan minta ekstra waktu persiapan serta pemanasan karena tim datang sedikit terlambat.

Beres, dalam waktu relatif cepat, solusi didapat. Pertandingan bisa berjalan normal (dimulainya hanya molor sedikit).

Hebat sekali.

Dalam hitungan beberapa menit sejak keluar dari bus, ada banyak mobil yang mengangkut tim kami ke stadion. Tidak banyak ba-bi-bu. Tanpa ditanya,

”Mau lewat mana?” Dan cukup mampu berbahasa Inggris.

Harga? Termasuk sangat murah. Per mobil rata-rata minta 5.000 tugrik. Waktu itu per tugrik setara Rp 7. Jadi, ongkos per mobil Rp 35 ribu. Langsung sampai di depan pintu stadion.

Semua itu bisa terjadi karena di Mongolia cari taksi jauh lebih gampang. Tidak butuh menelepon perusahaan taksi. Tidak perlu men-download aplikasi dan memasukkan nomor kartu kredit.

Mengapa?

Karena di Mongolia SEMUA MOBIL ADALAH TAKSI.

Wkwkwkwkwkwk…

Di Ulan Bator, di jalan mana pun Anda berdiri, cukup mengacungkan tangan dan jari, dalam hitungan detik akan ada mobil berhenti. Tinggal bilang mau ke mana, sepakat harga, langsung GO!

Malah mau berdiri di kiri atau kanan jalan sama saja. Sebab, di Mongolia, peraturan mobil benar-benar bebas. Ada setir kanan, ada setir kiri. Wkwkwkwk…

Ya, lalu lintasnya semrawut. Ya, tidak semua lampu merahnya berfungsi. Ya, jalanannya punya banyak lubang dan minim markah. Trotoarnya kotor dan banyak kerusakan.

Tapi, itu kan Mongolia, negara yang sebenarnya jauh lebih tertinggal daripada Indonesia.

Eh, sebentar dulu. Kondisi jalan dan lalu lintas di Indonesia tidak jauh beda ya?

***

Dulu di sekolah, kita pernah diajarkan bahwa ”konsumen adalah raja”. Dan realitas hidup membuktikan bahwa konsumenlah yang menentukan masa depan usaha kita. Apa pun usahanya, di bidang apa saja.

Mau ada batasan regulasi, mau ada akal-akalan, mau ada kongkalikong, ujung-ujungnya nasib usaha kita ada di tangan konsumen.

Kita yang sebisa mungkin menyesuaikan diri dengan tuntutan konsumen. Kalau konsumen tidak tahu dia butuh itu, sukses kita akan ditentukan oleh kemampuan kita untuk menunjukkan kepada konsumen bahwa mereka membutuhkan itu.

Di Mongolia, mungkin tidak ada regulasi jelas soal angkutan umum. Kalaupun ada, jelas-jelas tidak diterapkan atau tidak di-enforce.

Atau mungkin pemerintahnya memang tidak mampu untuk menyediakan fasilitas transportasi yang ”normal” untuk masyarakatnya.

Sesuai hukum alam, seperti disampaikan di film Jurassic Park, ”Life will find a way.” Hidup akan menemukan jalan.

Semua mobil menjadi taksi. Solusi transportasi selesai (minimal untuk 2012 itu dan sekarang).

Masyarakat dan konsumen Mongolia senang. Turis asing pun mungkin senang. Minimal itu sempat menolong tim nasional basket U-18 Indonesia.

Di negara seperti Mongolia, konsumen tetap menjadi raja dalam bidang transportasi.

Tentu saja bumi terus berputar, waktu terus berlalu, zaman terus berubah, teknologi terus berkembang, dan tuntutan konsumen terus berevolusi.

Yang cocok sekarang belum tentu cocok lima tahun lagi. Apalagi yang dianggap cocok sepuluh tahun lalu. Transportasi ala Mongolia belum tentu cocok lima tahun lagi.

Perjalanan transportasi umum di Indonesia pun jelas sedang berada di persimpangan jalan. Dulu angkutan kota cocok karena bisa berhenti di mana-mana. Sekarang mungkin tidak lagi cocok di kota besar. Sebab, perannya mungkin sudah banyak diambil alih motor (baca Happy Wednesday 37, Demi Para Sopir Angkot).

Dan jangan-jangan, lima tahun lagi taksi beraplikasi juga sudah ketinggalan zaman?

Di dunia media sama. Dulu ada koran, lalu ada radio, lalu ada televisi, lalu ada internet, dan entah nanti ada apa lagi (Telepati News?).

Yang dianggap lebih lama tidak boleh mengomel, tidak boleh mengeluh, tidak boleh merasa ini senjakala atau bukan. Harus selalu beradaptasi dengan situasi. Harus selalu mampu reinventing diri sendiri.

Kadang tidak smooth. Kadang salah langkah. Kadang regulasinya ketinggalan zaman. Kadang yang memegang regulasi tidak sadar bahwa regulasinya ketinggalan zaman.

Tapi, show must go on. Semua harus beradaptasi. Pada akhirnya, life will find a way.

Konsumen (masyarakat) yang akan menentukan. Dan konsumen yang akan menuntut kreativitas kita untuk bertahan dan berkembang.

Konsumenlah yang akan menunjukkan kapan kita harus berubah dan kapan regulasi kita sudah ketinggalan zaman. (*)