Hikayat Pantai Tiga Warna – Radar Malang Online

 

Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad

Pantai Tiga Warna yang ada di Kabupaten Malang ini benar-benar pantai yang berbeda dengan pantai-pantai lain di Indonesia. Ketika pantai-pantai lain ramai-ramai meneguk untung di saat musim liburan seperti sekarang ini, Tiga Warna justru libur. Dan liburnya cukup panjang: 12 hari.

Libur 12 hari ini diberlakukan untuk dua hari raya: Idul Fitri dan Natal. Setiap minggu, juga ada liburnya, yakni setiap hari Jumat. Mengapa harus diliburkan? ”Pantai Tiga Warna sesungguhnya dibuka untuk konservasi. Kami libur untuk memberikan kesempatan kepada alam agar mereka tidak terlalu dieksploitasi. Selain juga untuk memberi kesempatan kepada kru kami istirahat,” kata Saptoyo kepada saya Selasa lalu (26/12).

Mulai 25 Desember lalu, pas hari H Natal, hingga 12 hari ke depan, Pantai Tiga Warna (PTW) ditutup untuk umum. Di saat itulah (26/12), saya ke PTW sekaligus nyambangi Mas Saptoyo, seorang pejuang konservasi alam yang saya kenal sejak 2012.



Bersama Mas Saptoyo, saya diajak berjalan sejauh kira-kira 4,5 kilometer untuk menikmati pantai-pantai eksotis yang merupakan rangkaian dari destinasi PTW.

Ada enam pantai yang saya kunjungi. Pertama, Pantai Clungup. Kedua, Pantai Gatra. Ketiga, Pantai Sapana. Keempat, Pantai Mini. Kelima, Pantai Batu Pecah. Dan destinasi terakhir baru ke Pantai Tiga Warna.

Keenam pantai itu pemandangannya sungguh eksotis. Semuanya bersih. Bersih pantainya, dan jernih airnya. Maklum, relatif tak banyak yang tahu dengan keberadaan keenam pantai tersebut.

Di Pantai Gatra, ada beberapa batu karang yang menjulang. Agak mirip-mirip dengan pemandangan di Raja Ampat, Papua. Di Pantai Gatra juga tersedia perahu kano. Perahu yang hanya bisa ditumpangi satu orang. Dengan perahu itu, kita bisa menelusuri dengan dayung pinggiran Pantai Gatra yang ombaknya relatif tenang, dan airnya yang masih sangat jernih itu.

Dari enam pantai tadi, tak semuanya dibuka secara bebas untuk umum. Untuk saat ini baru tiga pantai yang baru bisa bebas dikunjungi untuk umum. Yakni Pantai Clungup, Gatra, dan Tiga Warna. Mengapa? Tiada alasan lain, selain untuk konservasi.

Saptoyo dan kawan-kawannya, punya alasan yang sangat kuat, mengapa dia harus begitu ketatnya menjaga enam pantai itu.

Di kawasan tersebut, saat ini sudah mulai pulih tanaman mangrove-nya (tanaman bakau). Saya ingat betul, sekitar lima tahun lalu, Saptoyo-lah yang berjuang untuk memulai gerakan menanam kembali mangrove. Saptoyo-lah yang memulai gerakan untuk merawat pantai-pantai tersebut, ketika warga sekitar tak ada yang peduli.

Demi aktivitasnya itu, Saptoyo  sampai harus rela keluar dari pekerjaannya yang saat itu sudah cukup mapan sebagai pedagang. Dia pun sempat dicemooh dan dikucilkan orang-orang dekatnya, gara-gara pilihan hidupnya yang saat itu dianggap nyeleneh. Yang paling dramatis, perjuangan Saptoyo sempat berurusan dengan hukum. Dia pernah ditahan di kantor polisi selama beberapa hari, karena kesalahpahaman dan karena fitnahan dari orang-orang yang terusik dengan kegiatannya.

Beruntung, istri dan anak-anaknya mendukung penuh langkah Saptoyo. Ini membuat dia kuat dan semakin bersemangat. Berkat kesabaran, ketabahan, dan ketelatenannya, perjuangan Saptoyo saat ini mulai membuahkan hasil.  Kawasan di sekitar enam pantai tadi, sudah mulai rimbun dengan tanaman mangrove.  Saya menyaksikan sendiri, bagaimana kondisi lahan yang dulu rusak lima tahun lalu, sekarang sudah mulai dirimbuni oleh tanaman mangrove.

Para anak muda di sana juga semakin banyak yang peduli. Mereka berhasil diajak Saptoyo untuk bersama-sama merawat dan mengelola keenam pantai tadi. Para anak muda tersebut dididik oleh Saptoyo untuk menjadi pemandu bagi para wisatawan yang ingin mengunjungi Pantai Tiga Warna.

Dan untuk bisa mengunjungi Pantai Tiga Warna, diberlakukan aturan yang sangat ketat. Misalnya, para pengunjung sangat dibatasi jumlahnya. Dalam sehari, hanya boleh ada empat sampai lima gelombang. Setiap gelombang, tidak boleh lebih dari 100 orang.   Dari 100 orang itu, ada 10 pemandu. Para pemandu inilah yang akan mendampingi, sekaligus mengawasi para wisatawan. Harus diawasi? Iya. Diawasi dari tindakan tak bertanggung jawab. Misalnya, diawasi agar tak membuang sampah sembarangan di pantai.

Para wisatawan sebelum masuk ke Pantai Tiga Warna harus dicek, berapa sampah yang dibawa masuk. Selanjutnya, saat keluar dari PTW juga kembali dicek, berapa sampah yang dibawa keluar. Untuk ngecek ini, ada form list-nya. Jumlah sampah yang dibawa masuk dengan sampah yang dibawa keluar harus sama. Jika tidak sama, pengunjung harus masuk lagi ke lokasi PTW untuk mengambil sampahnya. Aturan inilah yang dijaga dengan sangat ketat oleh Saptoyo dan para pemandu di PTW. Gara-gara aturan ini, kondisi PTW sangat terjaga kebersihannya. Tidak ada kekumuhan di PTW. Kondisi pantainya sangat terjaga. Begitu juga dengan terumbu karangnya. Setiap hari, selama 24 jam, Saptoyo dibantu oleh penduduk sekitarnya yang mulai sadar dengan pentingnya menjaga kelestarian biota laut, untuk menjaga terumbu karang. Di PTW, pengunjung bisa snorkeling, menikmati pemandangan di bawah laut, ikan hias, beserta terumbu karangnya.

Gara-gara keberadaan terumbu karang yang terawat itulah, terjadilah perubahan warna dari biru ke hijau. Dan semakin mendekati ke pantai, warnanya berubah menjadi merah kecokelat-cokelatan. Inilah yang membuat pantai itu dijuluki Pantai Tiga Warna: Biru, hijau, dan merah kecokelat-cokelatan.

Pantai Tiga Warna juga dinobatkan sebagai pantai terindah nomor satu di Jawa Timur, dan pantai terbersih terpopuler nomor dua nasional versi Anugerah Pesona Indonesia 2017.

Setidaknya ada empat yang harus dijaga dan dirawat oleh Saptoyo dan kawan-kawannya. Tanaman mangrovenya, keberadaan habitat alamnya, keindahan dan kebersihan pantai-pantainya, dan kelestarian terumbu karangnya.  Makanya, demi menjaga itu semua, Saptoyo dan kawan-kawannya sepakat untuk membuat aturan yang sangat ketat. Mereka tak mau terjebak dengan jurus aji mumpung. Mumpung ramai dikunjungi, lalu terlena, hingga lupa dengan tugas utama konservasi.  Mereka sepakat untuk tidak mengedepankan aspek bisnis dalam mengelola Pantai Tiga Warna. Tapi, yang dikedepankan adalah aspek konservasi.

Salut untuk Mas Saptoyo dan kawan-kawan. Semoga kalian konsisten dengan perjuangan ini. Salam konservasi. Salam Hope 313!!! (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)