Ikhtiar Menjaga Humor

JawaPos.com – Semakin  hari semakin susah menjadi mubalig, terutama akhir-akhir ini. Di depan-belakang, kiri-kanan, dekat-jauh, bahkan mungkin atas-bawah, antah-berantah, kini selalu ada saja yang menunggu siapa pun terpeleset lidah.

Pasal penistaan terhadap agama siap dijeratkan seperti jala pada ikan. Tapi, apakah kemudian ceramah harus tanpa humor? Bagaimana bisa segar dan renyah?

Terlebih, jika audiens berjarak ruang dan waktu dengan pembicara, pembicaraannya, dan konteks, semakin sulit menghendaki humor dapat diterima dengan baik dan tulus. Maksud hati hendak meluaskan jangkauan dakwah, memberikan kesempatan kepada mereka yang tidak hadir. Sebab, live streaming toh tidak bisa menghadirkan utuh suasana batin pengucap beserta ucapannya.

Siaran tunda via YouTube, yang kini juga bermakna siaran ulang yang berulang-ulang, justru dapat menjadi bumerang. Mengapa? Karena bisa ditonton lagi dan lagi itulah, ada saja yang kemudian menemukan tafsir lain dari pemaknaan sebelumnya. Jangankan berkelakar, bicara datar atau serius pun tak seleluasa dulu lagi jika terkait soal-soal agama sejak dibawa-bawa ke ranah politik.



Bisa dibayangkan apa yang melintas di benak saya ketika menerima undangan ke Semarang untuk menemani Mas Prie GS berbincang tentang sebuah tema sensitif: Agama Dadi Guyonan, agama menjadi candaan. Santrendelik, komunitas muda-mudi di ibu kota Jawa Tengah, telah empat tahun ini konsisten bergaya kontemporer dalam menyajikan topik-topik religiusitas.

Saya langsung teringat QS At Taubah [9] : 65, Allah berfirman, “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’” Tak mudah menghindarkan humor dari olok-olok.

Seingat saya, semasa kecil hingga remaja, setiap kali menghadiri pengajian di masjid di dekat rumah, saya dan hadirin lain bisa terpingkal-pingkal berjam-jam gara-gara penceramah membungkus rapi pesan-pesan agamais dalam kejenakaan gaya tutur dan tuturannya itu sendiri. Dua jam kiai tersebut berbicara, sedikitnya 1,5 jam hadirin terus-menerus nyengir dibuatnya tertawa segar.

Kegembiraan itu melenyap sejak ada saja yang menjadikan isu agama sebagai urusan akhirat melulu. Sebatas perkara pahala dan dosa, surga dan neraka, halal dan haram, sunah dan bidah, muslim dan kafir, dan lain-lain. Beragama jadi menegangkan. Harus melulu serius, kalau perlu duarius, tigarius, dan seterusnya. Jangankan beda mazhab, beda pemikiran pun jadi masalah.

Beruntunglah, warganet di media sosial terus melahirkan penyegaran-penyegaran linimasa. Tak ada yang meragukan riwayat panjang Gus Muwafiq. Beliau telah malang melintang dari kampung ke kampung, desa ke desa, majelis ke majelis. Lantas gaungnya semakin jauh membahana sejak kanal-kanal daring mengangkasakan ceramahnya yang lentur, namun tetap ulet. Humor hadir.

Sebelumnya ikhtiar menjaga humor tetap hidup telah dilakukan para admin akun-akun garis lucu. Ini menyenangkan, sekaligus melegakan, di tengah hiruk pikuk obrolan yang dikuasai tidak hanya oleh kebenaran (truth), tapi juga oleh pasca kebenaran (post-truth), yang tentu keduanya itu klaim. Belum lama pula, hadir kemudian Gus Baha’, idola baru publik, dengan kekhasan lain lagi.

Sebagaimana Gus Muwafiq, rekam jejak Gus Baha’ yang bernama lengkap KH Baha’uddin Nur Salim sangat meyakinkan sebagai guru bagi kita, khususnya dalam urusan agama. Media sosial dan daring membantu kita mendekat kepada para ulama yang tinggi ilmu, tapi selalu rendah hati ini. Sesekali dua gus itu melempar humor dalam perbincangan ukhrawi yang serius.

Bahkan, Gus Baha’ menyitir Abu Hasan As Syadzili yang menyuruh murid meninggalkan gurunya jika ia tidak pernah tertawa ketika mengajar. Pun kisah Nabi Yahya AS yang berbalas sindir dengan Nabi Isa AS. “Kamu sering tertawa ngakak seperti tidak akan pernah terkena siksa,” seru Nabi Isa. “Kamu ini merengut melulu seperti tidak ada rahmat Allah saja,” balas Nabi Yahya.

Kiai yang juga istiqamah jenaka membawa pesan-pesan langit adalah KH Anwar Zahid dari Bojonegoro. Banyak video pengajiannya yang diakses ribuan penonton. Tentu upaya saya dan Mas Prie GS belum seberapa dibanding para alim yang setia menjaga marwah agama, namun tetap suka melucu itu. Humor sufi, metamorfosis humor sahur beberapa tahun lalu, ialah ikhtiar kecil kami. (*)