Ilmu Manusia

Oleh Kurniawan Muhammad
Direktur Jawa Pos Radar Malang

Bergaul dan berinteraksi dengan sedikitnya 100 karyawan di kantor, banyak memberikan ”ilmu” kepada saya. Itu karena saya berusaha untuk tidak selalu menggunakan pola atasan dan bawahan. Tapi, sesekali berusaha menggunakan pola (resep dari kiai saya) untuk memosisikan para karyawan itu sebagai ”guru”.

Karena faktanya, mereka para karyawan itu, memang ngajari saya banyak hal. Misalnya, ngajari bagaimana harus bersabar. Ngajari, bagaimana harus ikhlas. Dan ngajari, bagaimana harus menghadapi generasi milenial dengan segala keunikannya (karena mayoritas karyawan di kantor dari usia milenial).

Saya menyebut semua itu sebagai ”Ilmu Manusia”. Dan ”Ilmu Manusia” itu tidak diajarkan di bangku sekolah atau kuliah. Tapi, hanya ditemui di lapangan, ketika berinteraksi atau berurusan dengan manusia lainnya.

”Ilmu Manusia” itu (menurut saya), sejatinya adalah berangkat dari tiga paradigma: Pertama, bagaimana sebaiknya memanusiakan manusia. Kedua, bagaimana sebaiknya menjadi figur yang menyenangkan bagi orang lain. Ketiga, bagaimana agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Seseorang yang dianggap lulus dan mampu menerapkan ”Ilmu Manusia” dengan baik dalam kehidupan sehari-harinya, maka dia pasti lulus juga ”Hablul minan naas”-nya.

Saya akan memberikan beberapa contoh, bagaimana saya mendapatkan ”Ilmu Manusia” ketika berinteraksi dengan karyawan di kantor. Misalnya, ada salah seorang dari mereka yang sulit sekali diminta melaksanakan tugas tertentu. Berkali-kali diingatkan tentang tugasnya itu, tak juga mampu melaksanakannya.

Padahal, setiap kali ditugasi, jawabannya selalu ”siap”. Tapi kenyataannya, tidak pernah bisa dilaksanakan. Atau, jika pun dilaksanakan, hasilnya jauh dari harapan. Terhadap kasus seperti ini, turunan dari ”Ilmu Manusia” yang bisa didapat adalah ”sabar”. Yakni harus sabar dalam menghadapi manusia seperti itu, seraya menelisik sisi lain dari dia untuk dicari kelebihannya.

Dan begitu sudah mengetahui kelebihannya yang lain, maka kelebihan inilah yang seharusnya dieksplorasi lebih lanjut. Dari pengalaman ini, dapat diperoleh rumus: menugasi karyawan itu harus mengacu pada kelebihannya, agar diperoleh hasil seperti yang diharapkan. Dan tugas seorang pemimpin adalah, mencari dan memetakan kelebihan setiap karyawannya.

Kasus lainnya, saya terkadang bertemu dengan para mantan karyawan. Ada dari mereka yang pernah beberapa tahun berinteraksi dengan saya. Ada yang hanya 1–2 tahunan saja. Bahkan ada yang dalam hitungan bulan. Di antara mereka pun, bermacam-macam responsnya ketika bertemu dengan saya. Ada yang antusias menyapa dengan hangatnya. Meski di antaranya ada yang pernah saya marahi. Ada yang sengaja tidak mau menyapa, meski bertemu di sebuah acara. Ada pula yang pura-pura tidak tahu.

Dari kasus ini, turunan dari ”Ilmu Manusia” yang saya dapatkan adalah ”ikhlas”.  Yakni, harus ikhlas dengan apa pun respons orang lain kepada kita. Orang Jawa menyebutnya harus ”tedho terimo”. Jujur, untuk bersikap seperti ini, bukan hal yang mudah.

Secara umum, ada dua macam sikap orang lain kepada kita. Pertama, ada yang suka kepada kita. Kedua, ada yang tidak suka kepada kita. Yang suka kepada kita, ada yang lahir-batin. Artinya, memang benar-benar menyukai kita. Ada pula yang (hanya) berpura-pura suka kepada kita.

Yang tidak suka kepada kita juga ada dua macam. Pertama, yang tidak sukanya diperlihatkan secara jelas (dengan cara tidak menyapa atau cuek saat bertemu). Kedua, yang tidak sukanya tidak diperlihatkan secara jelas.

Ikhlas” mengajarkan, bahwa kita harus ikhlas dicueki orang lain. Meskipun kita pernah berbuat baik kepada orang itu. Kita harus ikhlas dicemooh. Kita pun juga harus ikhlas dihujat sekali pun. Mengapa kita harus ikhlas? Karena nggak ada gunanya untuk tidak ikhlas. Dengan selalu berusaha ikhlas, maka akan melahirkan rasa syukur. Maka, sebaiknya di-ikhlaskan saja. Semuanya harus dikembalikan pada ”Ilmu Manusia”. Bahwa, ada manusia yang mampu mengendalikan hatinya. Mampu berdamai atau berkompromi dengan hatinya. Tapi ada juga manusia yang tidak mampu berdamai dengan hatinya. Dari hati inilah yang akan mengendalikan perilaku manusia.

Makanya, saya berusaha untuk tidak pernah pusing dengan respons orang-orang yang tidak suka kepada saya. Saya juga tidak pernah pusing dengan respons mantan karyawan ketika bertemu di jalan. Apakah mereka mau menyapa atau tidak, tidaklah menjadi persoalan. Karena, semua itu berpulang pada hatinya masing-masing. Dan berpulang pada seberapa mampu mereka memahami dan menerapkan ”Ilmu Manusia”.

Gus Dur (almarhum KH Abdurrahman Wahid), adalah sosok yang sudah khatam ”Ilmu Manusia”-nya. Dia mampu memahami ”Ilmu Manusia” secara utuh, dan bisa menerapkannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya, ketika Gus Dur menjadi presiden, dialah yang berani menyetujui dan mengakui Khonghucu sebagai agama. Dan sejak itulah, Khonghucu diakui negara sebagai agama.

Sikap ini merupakan wujud dari ”khatam”-nya Gus Dur dalam memahami dan menerapkan ”Ilmu Manusia”. Dia tidak peduli, meski sikapnya itu menuai kontroversial. Karena bagi Gus Dur, keberagaman manusia, termasuk di dalamnya keberagaman dalam menganut keyakinan, haruslah dihargai.

”Ilmu Manusia” ketika berhasil dipahami dan diterapkan dengan baik, akan melahirkan sikap toleransi atau tepo sliro. Akan melahirkan sikap sabar dan saling menghargai  terhadap perbedaan. Akan melahirkan sikap yang mudah memaafkan. Akan melahirkan sikap yang mudah membantu dan bermanfaat untuk orang lain. Juga akan melahirkan sikap yang selalu ber-positive thinking terhadap orang lain.

Apa yang saya tulis ini, adalah pendapat pribadi, yang berangkat dari pengalaman. Anda boleh setuju, boleh juga tidak setuju. Kami menunggu saran, masukan, kritik, bahkan koreksi dari Anda jika ada yang salah dalam tulisan ini. Wallahu A’lam Bisshowab… (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)