Indah Kumuh – DI’s Way

Setelah ke Kuil Hanoman saya ke masjid. Masih di kota suci Hindu Varanasi, negara bagian Uttar Pradesh.

Saya ingin tahu kehidupan minoritas Islam di pusatnya Hindu ini. Terutama di saat Hinduism lagi pasang naik secara drastis sepuluh tahun terakhir.

Saya juga ke masjid di Agra. Masih di negara bagian Uttar Pradesh. Lima jam naik mobil dari Varanasi. Masjidnya di sebelah pusat turis Taj Mahal.

Tentu, saya juga ke masjid kuno di Old Delhi. Sisa peninggalan kejayaan Islam di India. Yang seumur dengan Taj Mahal. Bahkan dibangun oleh raja yang sama. Dengan arsitektur yang sangat mirip.

Salat di Masjid Jama Old Delhi.

Tiga masjid itu beraliran Sunni. Yang mereka juga lagi gelisah atas serbuan aliran Wahabi. Seminggu sebelum itu saya ke masjid Ahmadiyah.

Di tempat lahir tokoh sentral mereka di Desa Qadian, Punjab: Mirza Ghulam Ahmad.

Selama di India saya mendapat dua macam keterangan yang berbeda.

Sebagian mengaku sekarang ini lebih tertekan. Sebagian lagi mengatakan biasa-biasa saja.

Waktu di Varanasi, saya bertemu anak muda. Ia yang mengantar saya ke masjid. “Masjid ini baru tiga tahun,” katanya. “Dulunya kecil. Dibongkar. Dibangun baru,” tambahnya.

Saya salat Zuhur di situ. Waktunya sudah lewat sedikit. Tidak bisa ikut berjamaah bersama penduduk setempat. Tapi masih ada tiga anak kecil yang bersila di karpet: belajar membaca Al-quran. Dengan Al-quran ditaruh di atas rehal. Seorang ustaz muda mengajari mereka.

Saya pun duduk bersila di dekat mereka. Lalu ikut membawa Al-quran. Surah Yasin. Mungkin nada baca saya kedengaran aneh di telinga anak-anak India itu. Mereka berhenti belajar –memperhatikan cara saya membaca.

Masjid ini berada di kampung Islam Varanasi. “Kampung kami ini berpenduduk sekitar 10.000 orang. Semua Islam,” ujar anak muda itu. “Di sekitar ini ada 15 masjid,” tambahnya.

Masjid di kampung Islam Varanasi.

Kampung ini juga dikenal sebagai kampung tekstil. Saya masuk-masuk gang di situ. Semua memproduksi kain. Termasuk sutra.

Kampung ini cukup rapi dan bersih –untuk ukuran India. “Kami tidak merasakan kesulitan beragama. Biasa saja. Sejak dulu begini,” katanya.

Ini agak berbeda dengan keterangan anak muda Islam di Kota Agra. “Kami khawatir akan ada UU baru. Yang membuat kami tidak akan mendapat izin bisnis,” katanya. “Juga tidak bisa menjadi pegawai pemerintah,” tambahnya.

Memang sifatnya masih kekhawatiran. Tapi umat Islam di kotanya sudah sangat gelisah.

Saya sendiri tidak tahu yang sebenarnya. Hanya kelihatannya tidak seburuk berita yang tersiar ke seluruh dunia.

Atau seburuk itu –hanya saja saya tidak tahu. Misalnya soal perbedaan perlakuan hukum –yang sering terbaca di media.

Yang jelas kini India punya UU baru –yang sedang dilaksanakan: penertiban penduduk.

Yang jadi korban adalah para pendatang gelap dari Bangladesh yang lebih miskin. Dan keturunan mereka. Yang sudah turun temurun di situ.

Ditambah yang baru.

Mereka itu jutaan jumlahnya. Terutama di negara-negara bagian yang berdekatan dengan Bangladesh –seperti Assam dan West Bengal.

Mereka itu Islam. Terancam akan dipulangkan paksa ke Bangladesh.

Lalu menjadi isu agama.

Sebenarnya saya juga ingin ke lingkungan masyarakat Islam aliran Jamaah Tabligh. Yang mungkin lebih cocok untuk India-baru sekarang ini.

Tapi waktu saya habis. Harus segera pulang untuk Tazkia di Malang.

Saya sempatkan salat di masjid di sebelah Taj Mahal. Saya pikir masjid itu sudah ditutup.

Keruwetan sebelah Masjid Jama.

Di kanan-kiri Taj Mahal memang ada bangunan pendamping. Arsitekturnya mirip Taj Mahal. Hanya lebih kecil. Dan warna marmernya bukan putih –merah maroon.

Bangunan yang kanan adalah tempat persinggahan raja –King House. Untuk istirahat saat raja berkunjung ke makam isterinya di Taj Mahal.

Sekarang bangunan ini sudah tidak difungsikan.

Bangunan yang kiri adalah masjid. Masih berfungsi. Salat lima waktu masih berlangsung. Demikian juga salat Jumat.

Saya sempat berbincang dengan imam masjid itu. Ayahnya juga imam di situ. Demikian juga kakeknya.

Tentu saya juga masuk Taj Mahal. Sebentar sekali. Yang isinya hanya batu nisan raja yang membangun gedung itu. Dan istri ketiganya –setelah dua istri sebelumnya tidak memberinya anak.

Batu nisan itu pun hanya replika. Yang asli ada di lantai bawah. Ditutup untuk umum.

Saya tidak perlu bercerita tentang keindahan Taj Mahal. Sudah terlalu banyak tulisan tentang ini. Juga soal keistimewaan marmernya. Yang kalau diberi sinar berubah warna.

Tapi teman saya itu sempat mengetes keislaman saya.

“Coba tebak, hiasan di pintu masuk Taj Mahal itu apa?” tanyanya.

Saya pun memperhatikan ukiran yang melengkung mengikuti bentuk gerbang itu.

“Lho itu seperti tulisan Arab,” kata saya dalam hati.

Saya pun lebih mendekat. Benar. Hiasan itu sebuah kaligrafi. Agak lama saya mencoba menghubung-hubungkan ukiran di marmer itu. Lalu mencari tahu apakah bisa dibunyikan. Dan dari mana tulisan itu dikutip.

“Oh… Itu surah Al Fajr,” kata saya pada teman itu. “Satu surah penuh dituangkan dalam kaligrafi di sini. Bukan main,” tambah saya.

Di dalam masih ada satu kaligrafi dari Al Quran lagi: Ayatul Kursyi.

Saya belum pernah tahu itu: bahwa di pintu masuk Taj Mahal ada kutipan Al-quran begitu banyak.

Semua itu menandakan sebuah era bahwa Islam pernah jaya di India.

Waktu tiba di Delhi pun saya ke masjid kuno di ibukota India itu.

Indah di dalam, kumuh di luar.

Lingkungan luar Masjid Jami ini sangat memprihatinkan. Bangunan masjidnya sendiri sangat indah. Dan anggun. Untuk masuk gerbangnya saja harus naik 30 trap.

Di balik gerbang indah itu –antara gerbang dan masjid– terdapat plaza yang luas dan megah. Plaza itu bisa untuk luberan ketika yang salat mencapai 20.000 –di saat Idul Fitri atau Idhul Adha.

Keindahan masjid ini serupa dengan Taj Mahal. Banyak turis Barat ke masjid ini. Mereka harus mengenakan tambahan baju luaran panjang yang disediakan di teras samping.

Pernah ada bom meledak di masjid ini. Sebagai protes. “Wanita setengah telanjang kok diizinkan masuk ke masjid,” begitu kritik ke pihak pengurus masjid.

Sejak itu pengurus menyediakan baju luaran untuk turis wanita.

Tahun pembangunan masjid ini pun juga sama dengan pembangunan Taj Mahal: 1630-an. Yang membangun pun sama: Raja Shah Jahan.

Saya salat Asar di situ. Masih banyak juga pengunjung yang salat di situ.

Tapi lingkungan masjid ini benar-benar berantakan. Halaman yang mestinya luas dan indah itu benar-benar berantakan.

Kolam-kolam air mancur yang berjajar memanjang tidak ada airnya. Rusak. Berdebu. Ditempati kaki lima. Atau orang yang duduk-duduk sambil merokok.

Pedagang asongan memadati depan masjid ini. Serba berantakan. Semrawut. Kumuh.

Saya pun meninggalkan masjid ini dengan sejuta rasa.(Dahlan Iskan)