Industri Strategis dan Daya Saing Bangsa

BERITA ekonomi dunia saat ini cenderung suram. Bank Dunia memproyeksikan ekonomi dunia 2019 tumbuh 2,6 persen dan tumbuh melambat hingga 2,8 persen pada 2021. Bahkan, beberapa negara dikhawatirkan mengalami resesi. Bagaimana Indonesia? Bank Dunia maupun pemerintah memprediksi ekonomi tumbuh relatif stabil pada angka 5,2 persen (2019) hingga 5,3 persen (2021). Kondisi itu menjadi tantangan terbesar Kabinet Indonesia Maju dalam mencapai visinya, ”mewujudkan Indonesia berpenghasilan menengah-tinggi yang sejahtera, adil, dan berkesinambungan.”

Menteri keuangan pada pertengahan Juli lalu menyampaikan, Indonesia butuh pertumbuhan ekonomi lebih dari 6 persen per tahun agar terlepas dari middle income trap. Presiden Joko Widodo berharap foreign direct investment (FDI) dapat menjadi lokomotif tambahan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertanyaannya, investasi pada industri apa yang perlu disasar Indonesia agar visi tersebut tercapai?

Industri Strategis dan Linkage Effects

Albert Hirschman dalam karya klasiknya (1958) mengajukan unbalanced growth theory dan berargumentasi bahwa ekonomi negara berkembang dapat tumbuh dengan memprioritaskan beberapa sektor strategis. Sektor strategis yang memiliki keterkaitan (linkage) tinggi akan berkontribusi pada ekonomi secara optimal dengan sumber daya minimal.

Hirschman membaginya dalam tiga kategori: backward, forward, dan total linkage. Sebagai ilustrasi, industri teknologi informasi di Amerika Serikat (AS) tumbuh pesat ketika internet (world wide web) terbuka bagi publik mulai 1994. Pertumbuhan industri hardware (di antaranya Hewlett-Packard dan IBM) dan software (Microsoft) mengimbangi antusiasme pasar akan internet –backward linkage. Forward linkage dari teknologi informasi (aka internet), bermunculanlah layanan browser (seperti Yahoo! dan Google) maupun yang lain (seperti Amazon). Dampaknya secara total terlihat dari ukuran ekonomi California, negara bagian tempat Silicon Valley berada, yang menduduki peringkat terbesar ke-5 dunia (seandainya sebuah negara), mengalahkan Inggris dan Prancis. Tentu ekonomi California bukan hanya Silicon Valley. Ada perfilman (Hollywood) dan lainnya. Namun, linkage terbesar dikontribusikan oleh teknologi informasi.

Orang Terkaya dan Industri Strategis

Tiap tahun Fortune dan/atau Forbes merilis daftar orang terkaya di dunia (bahkan per negara). Daftar tersebut dipastikan memperoleh banyak perhatian publik dan dibaca dari beragam perspektif. Ada yang membahas proses seseorang menjadi kaya dari garasi rumah orang tuanya, kerajaan bisnis yang dimiliki, bahkan keberadaan putra/i mahkotanya yang sedang di-grooming untuk menjadi pengelola bisnisnya di masa datang.

Yang sering luput dari perhatian kita adalah jenis industri yang dimasuki orang-orang terkaya tersebut. Di antara 10 orang terkaya di AS, 7 orang menggeluti sektor teknologi informasi dan e-commerce (Amazon, Microsoft, Facebook, Oracle, dan Google). Dua orang menggeluti bidang investasi dan nomor 10 diduduki ahli waris Walmart. Teknologi informasi sebagai sektor strategis terjustifikasi, di mana investasi awal pemerintah AS pada industri tersebut terbayarkan dengan tingginya GDP per kapita rakyatnya (California USD 74.205; sedangkan AS secara umum USD 62.606).

Tiongkok, negara kedua terbesar dalam ekonomi, memiliki profil yang relatif sama. Lima orang terkaya negeri itu berasal dari e-commerce. Sisanya berasal dari realestat, peralatan elektronik, dan otomotif. Jepang yang masuk tiga besar ekonomi memiliki profil orang terkaya yang beragam. Namun, internet dan teknologi informasi juga dominan (4 orang). Pemilik Uniqlo memiliki kekayaan terbesar. Masayoshi Son bertahun-tahun menjadi orang terkaya, tapi baru-baru ini mengalami kerugian cukup besar atas salah satu start-up yang digawanginya, WeWork. Bagaimana Indonesia? Urutan pertama dan kedua didominasi pengusaha yang berasal dari industri rokok, sisanya dari industri perkebunan, petrokimia dan turunannya, konglomerasi yang beragam berdasar perdagangan barang dan jasa, serta obat-obatan.

Daftar industri yang digeluti orang terkaya pada tiap-tiap negara secara tidak langsung menunjukkan industri strategis pada sebuah negara. Strategis menurut pasar, dalam arti potensi pasar dari barang atau jasa yang dihasilkan. Misalnya, diproyeksikan mobil listrik tumbuh 21 persen per tahun dan akan terjual 30 juta–35 juta unit pada 2030. Proyeksi itu menjadi dasar Tiongkok menjadikan energy saving and new energy vehicles (baterai untuk mobil listrik) sebagai salah satu di antara sepuluh industri strategis yang mereka sasar (Made in China 2025).

Yang kedua, industri yang digeluti juga menunjukkan nilai tambah dari produk (barang atau jasa yang dihasilkan). Hal itu dapat dengan mudah dilihat dari pertumbuhan ekonomi sebuah negara atau pertumbuhan kekayaan orang-orang terkaya di setiap negara. Bila pertumbuhan kekayaan 50 orang terkaya AS sebesar 19 persen pada 2019, sedangkan di Indonesia hanya 10 persen, dapat dipastikan industri yang dimasuki memiliki value added lebih tinggi. Dan tentu, linkage effects yang besar menjadikan ekonomi sebuah negara secara keseluruhan terangkat dengan keberadaan industri-industri strategis tersebut.

Penutup

Untuk lepas dari middle income trap, Indonesia membutuhkan industri-industri strategis baru yang menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi. Meskipun sulit untuk menarik investor saat ekonomi turun, potensi pasar domestik yang tinggi dan ditopang besarnya middle income class adalah daya tarik terbesar Indonesia saat ini.

Tentu Presiden Joko Widodo membutuhkan hasil yang cepat dengan naiknya FDI, tapi hendaklah selektif. Jangan sampai Indonesia hanya dijadikan pasar bagi FDI yang dilakukan oleh negara lain, di mana value added tertinggi tetap di negara asal. Dalam jangka panjang, daya saing bangsa tidak akan terangkat oleh FDI tersebut dan middle income trap menjadi kenyataan.

Diperlukan kajian strategis yang komprehensif berdasar linkage effects, value added, dan market potential dari industri strategis yang akan disasar. Tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, bangsa Indonesia akan mengenang bahwa pada era Kabinet Indonesia Maju-lah keberadaan industri strategis ditumbuhkembangkan. (*)


*) Badri Munir Sukoco, Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga