Intelektual Publik, oleh Eka Kurniawan

 Intelektual Publik

JawaPos.com – Apa rasanya jika kamu telah menyelesaikan pendidikan bertahun-tahun di bidang tertentu, kemudian pandanganmu didebat habis-habisan oleh orang awam yang bahkan belum lulus sekolah?

Apa rasanya jika kamu seorang ahli penuh pengalaman di pekerjaan tertentu, tapi keputusan-keputusanmu dipertanyakan oleh orang yang bahkan penganggur?

Jika pandangan mereka memang menantang nalar atau memberi sudut pandang baru, mungkin kita akan tercengang. Akan tetapi, yang lebih sering terjadi, kadang-kadang pendapat itu tak hanya ngawur, bahkan tak memiliki dasar argumen yang kuat, tak memiliki referensi yang dipercaya, tapi orangnya ngeyel tak mau kalah. Saya yakin, dalam situasi kedua itu, kita lebih sering jengkel dan mungkin frustrasi untuk menjelaskan panjang lebar.

Apa boleh buat, kita telah, tengah, dan akan terus menghadapi hal seperti itu di masa kita, terutama dengan penetrasi luar biasa media sosial. Pendidikan, pengalaman, dan bahkan kepakaran seseorang tiba-tiba terasa tidak ada artinya.



Yang lebih penting, tampaknya, siapa yang bisa lebih ribut dan kemudian memiliki pendukung lebih banyak. Mereka menciptakan kor untuk semakin ribut dan akhirnya menenggelamkan suara ahli.

Bayangkan pula, suatu hari tiba-tiba seseorang bicara di akun media sosialmu. Mungkin itu kenalan jauhmu atau teman lamamu. Dia mengajakmu untuk hijrah, untuk beribadah lebih sering, untuk menutup auratmu lebih rapat, sementara kamu tahu hidupnya juga tak saleh-saleh amat. Ketika kamu merasa tak nyaman dengan khotbahnya, dia hanya akan berkata, “Maaf, cuma mengingatkan.”

Sementara itu, seseorang yang benar-benar memiliki kapasitas di bidang hukum, sosial, atau agama ketika mencoba mengingatkan sesuatu dengan mudah diledek sebagai SJW. Social justice warrior. Meskipun istilah itu mungkin baik, ledekan tersebut lebih sering merupakan upaya membungkam dan meremehkan.

Sekali lagi, sialnya, hal itu tak terelakkan. Internet dengan berbagai produk terkininya menciptakan dunia yang lebih terbuka. Nyaris tanpa sekat. Selama memiliki akses terhadap layanannya, siapa pun bisa bertemu di sana. Tanpa memandang kelas ekonomi, suku, bangsa, agama, dan tentu saja tingkat keilmuan.

Situasi itu pada dasarnya anugerah. Jika di dunia nyata orang terkotak-kotak oleh kategori-kategori itu (kecil kemungkinan seorang janitor di sebuah perusahaan berdebat dengan direktur utama, bahkan mengenai kebersihan toilet sekalipun), internet memungkinkan kita menghapus sekat-sekat tersebut. Siapa pun bisa bicara.

Saya mengatakan anugerah karena di bidang lain, ruang itu menampilkan wajah yang hampir sama tapi dengan efek yang berbeda. Jika media sosial diganti dengan layanan pasar bersama semacam Tokopedia, Shopee, atau Bukalapak, hasilnya: Pedagang rumahan kadang bisa bersaing serius dengan pemilik brand ternama. Bahkan, beberapa perusahaan ritel mulai menutup banyak toko karena serbuan pemain-pemain kecil di pasar daring.

Bisa dibayangkan para pemain besar itu juga jengkel sebagaimana para pakar. Mereka sudah berinvestasi bertahun-tahun di sebuah produk, melakukan riset yang lama, tiba-tiba industri rumahan hanya dengan modal kecil dan coba-coba malah menggerus omzet mereka. Biaya iklan yang jor-joran tiba-tiba terasa tiada artinya.

Tentu saja korban pemain kecil juga berlimpah. Para penjual pulsa telepon merupakan orang-orang yang menjerit oleh kemudahan membeli pulsa melalui ATM maupun layanan toko digital. Demikian juga ojek pangkalan, kena hantam layanan berbasis aplikasi. Pasar hotel tergerus layanan Airbnb, di mana kamar rumah pun bisa disewakan.

Di bidang ekonomi itu, internet membuat para pemain besar maupun kecil bisa berjaya sekaligus bisa tumbang. Pokok soalnya, menurut saya, ada di lingkungan yang berubah. Ada yang beradaptasi dengan baik, ada yang tidak.

Ibu rumah tangga di kompleks rumah saya salah satu yang beradaptasi dengan baik. Tanpa punya warung, kini dia bisa berjualan pempek. Pelanggannya datang dari radius 10 kilometer hanya karena aplikasi layanan antar.

Bagaimana dengan dunia media sosial, dengan kejengkelan para pakar menghadapi gerombolan orang-orang awam yang ribut dan sok tahu? Pertama, bisa saja para pakar itu merupakan pemain lama yang juga kaget dengan lingkungan baru. Seperti perusahaan-perusahaan besar yang brand-nya tak lagi dilirik karena orang beralih untuk berbelanja di toko daring.

Kedua, meskipun kejengkelan mereka bisa dimengerti, seperti di bidang ekonomi, bukankah dunia internet dan digital juga memungkinkan kita memperoleh gagasan-gagasan baru dan hebat yang datang bukan dari “pakar” secara tradisional? Persis sebagaimana kita menemukan penjual kue pisang di layanan antar, yang enak luar biasa meskipun tak punya merek?

Kita tak bisa melupakan kenyataan bahwa tak semua orang memiliki akses terhadap pendidikan sebagaimana tak semua orang punya akses pada modal. Yang terpenting justru bagaimana memperbaiki situasi ini.

Sebagaimana komunitas ekonomi (pemerintah, bank, bahkan konsumen) bahu-membahu mendidik pelaku ekonomi kecil untuk meningkatkan kualitas produk dan akses pasar, komunitas intelektual bisa melakukan hal yang sama. Pendidikan dan para pakar tak lagi harus dijalankan dan dihasilkan melalui sekolah maupun perguruan tinggi.

Seperti banyak bisnis, artis, selebriti, bermunculan melalui dunia internet dan digital. Saya yakin dunia intelektual juga seharusnya demikian. Apa yang disebut sebagai intelektual publik, yakni intelektual atau pakar yang tidak berasal dari lingkungan akademis, justru sangat mungkin lahir dalam kultur tersebut.

Orang bisa belajar pemrograman dan bahkan merakit mesin melalui internet. Jadi, kenapa tidak belajar sosial, politik, agama, juga filsafat? Sekarang pokok soalnya, bagaimana kita menciptakan pakar-pakar baru sama baiknya melalui perguruan tinggi maupun YouTube atau layanan lain. Itu seharusnya menjadi tantangan baru dunia intelektual kita. (*)