Jabatan – Radar Malang Online

Hope 313 oleh Kurniawan Muhammad.

Di antara Anda mungkin pernah mendengar atau membaca tentang kisah Abu Nawas yang berpura-pura menjadi gila, ketika Raja Harun Al Rasyid akan menunjuknya sebagai penghulu (hakim) kerajaan. Saat itu, Raja Harun ingin Abu Nawas menggantikan ayahnya yang seorang penghulu kerajaan, yang meninggal. Tapi, ternyata Abu Nawas tak menginginkan jabatan itu. Maka, dicarilah cara, bagaimana agar dia tidak jadi ditunjuk menjadi hakim kerajaan. Maka, Abu Nawas berpura-pura menjadi gila. Hingga akhirnya raja menunjuk orang lain.

Teman, tetangga, dan kerabat Abu Nawas pun heran dengan perilaku Abu Nawas. ”Apa yang membuat kamu menolak jabatan hakim kerajaan, sementara banyak orang menginginkan jabatan itu?” kata teman-teman Abu Nawas.

Abu Nawas lantas menceritakan pengalamannya, ketika mendampingi saat-saat ajal menjemput ayahnya. Ketika itu, Abu Nawas dipanggil ayahnya. ”Hai anakku, aku hampir mati, coba kau cium telinga kanan dan telinga kiriku,” kata sang ayah.

Abu Nawas menuruti saja perintah ayahnya. Setelah dicium, telinga kanan berbau harum, namun telinga kiri berbau busuk. Abu Nawas sempat terheran-heran. Sang ayah lantas menceritakan sepenggal pengalamannya kepada Abu Nawas.



”Pada suatu hari datanglah dua orang yang mengadu masalah padaku. Yang satu aku dengar keluhannya. Tapi yang satu tidak kudengar karena aku tidak suka padanya. Inilah risiko menjadi seorang hakim. Jika kelak kamu menjadi hakim kamu akan mengalaminya. Dan sudah pasti baginda raja akan memilihmu menjadi seorang hakim menggantikan aku. Jika kamu tidak suka menjadi hakim, buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak terpilih menjadi hakim.”

Kisah ini bisa menjadi hikmah, tentang betapa beratnya risiko dari sebuah jabatan. Bagi seseorang yang mengetahui risiko itu, pasti dia tidak akan mengejar-kejar jabatan.

Dalam sebuah riwayat, diceritakan, sahabat Abu Dzar suatu ketika bertanya kepada Rasulullah SAW. ”Wahai Rasulullah mengapa engkau tidak memberi jabatan kepada saya?” Rasulullah SAW langsung menepukkan tangannya di atas pundak Abu Dzar, seraya bersabda, ”Ya Abu Dzar, sesungguhnya engkau ini lemah dan jabatan itu amanah. Pada hari kiamat dia akan menjadi penghinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya, dan menunaikan hak jabatan yang menjadi kewajibannya.” (HR. Muslim)

Risiko dari sebuah jabatan, dijelaskan pada sebuah hadis lain: Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya kalian akan berambisi merebut jabatan. Dan nanti pada hari kiamat jabatan-jabatan itu akan menjadi penyesalan.” (HR. Bukhari)

Jelaslah bagi kita, sesungguhnya Rasulullah SAW berabad-abad lalu, sudah mengingatkan kepada kita tentang betapa beratnya risiko dari sebuah jabatan. Dan risiko itu akan dirasakan, akan dipikul, dan akan dipertanggungjawabkan di hari kiamat.

Pada kehidupan sehari-hari, di sekitar kita, mudah sekali kita mendapati satu fenomena adanya rebutan jabatan. Atas nama demokrasi, jabatan memang harus diperebutkan. Saling berebut untuk mendapatkan suara mayoritas. Mulai dari menjadi kepala daerah, presiden, rektor, hingga menjadi ketua ormas keagamaan.

Tahun ini, 177 daerah menggelar pilkada serentak. Dan sebanyak 556 pasangan calon bersaing. Mereka ini berebut untuk menjabat kepala daerah. Semoga, mereka tidak hanya berebut. Tapi, juga menyadari konsekuensi dari jabatan yang direbutnya itu. Dan konsekuensi itu berdimensi dunia dan akhirat.

Di Kota Malang, baru saja dihelat pemilihan rektor di kampus Universitas Brawijaya (UB). Tiga calon berebut untuk mendapatkan suara terbanyak dari anggota senat UB dan Kemenristekdikti. Dan akhirnya, Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS berhasil meraih suara terbanyak, mengalahkan calon incumbent Prof Dr Ir Mohammad Bisri MS. Untuk Pak Nuhfil, kami ucapkan selamat. Untuk Pak Bisri, kami ucapkan terima kasih.

Di akhir tulisan ini, izinkan saya mengutip sebuah hikmah, tentang bagaimana Rasulullah SAW berpesan kepada siapa saja yang memegang jabatan:

”…..Janganlah engkau meminta jabatan. Karena apabila kamu diberi jabatan tanpa meminta, maka kamu akan ditolong dalam melaksanakannya. Dan apabila kamu diberi karena meminta, maka pelaksanaan jabatan itu sepenuhnya diberikan kepadamu.” (hadis dari Abu Sa’id Abdurrahman bin Samurah, HR Muslim).

(kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG: kum_jp)

Oleh: Kurniawan Muhammad